Setelah Aku berhasil keluar rumah dengan aman karena secara kebetulan Mamah yang telah tertidur pulas di sofa ruang tamu, Aku pun jadi bisa mendatangi Mang Bari untuk menagih janjinya yaitu, untuk mengajari-ku mengendarai motor.
Walaupun sebelumnya Aku telah membuat sedikit kegaduhan di pos satpam, dan sedikit membuat Mang Bari kesal, tapi akhirnya Aku berhasil membuat Mang Bari sedikit tertawa.
“Ayo Mang kita pergi ke komplek sebelah. Aku udah gasabar pengen cepet – cepet bisa mengendarai motor nih Mang. . .”
“Iyaa Den. . ., kesorean juga bahaya. Nanti takut macan dirumah Aden udah terbangun.” Tanggap Mang Bari.
“Hah. . .?!, Macan. . .?!, Memangnya Aku pelihara macan Mang?” Tanya-ku yang terheran dengan ucapan Mang Bari.
“Siiii Aden pura – pura gatau deh. . .”
“Serius Aku Mang.” Tanya-ku kembali.
“Ituuu. . ., Mamah Aden, Hehehehehe~” Tercengir Mang Bari.
“Waaahhh. . ., Aku bilangin Mamah ah nanti.” Ledek-ku pada Mang Bari.
“Eeehhh. . ., Jangan dong Den. . .”
“Hahahahaha, ya enggalah Mang. . ., Aku gasetega itu. . .” ucap-ku.
“Yeehhh si Aden ini bikin Mamang takut aja. Hahahaha~” Pungkas Mang Bari.
Aku pun segera pergi ke komplek sebelah rumah-ku yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah. Dengan mengendarai motor Mang Bari yang umurnya tidak terlalu tua.
Sebuah moto tua yang menjadi saksi bisu perjuangan hidup Mang Bari. Dan motor itulah yang juga sekaligus menjadi saksi keromantisan antar Mang Bari dan pujaan hati yang sekarang telah menjadi istri-nya.
Maka dari itu, walaupun orang lain melihat motor itu adalah motor tua, butut, dan sangat usang, tapi bagi Mang Bari motor itu sangat berarti dan penuh kenangan dalam hidupnya. Dan Mang Bari pun pernah berkata pada-ku di saat Ia pernah menceritakan tentang motor tua-nya itu.
“Kalau ada yang ingin membeli motor ini dari Mang Bari walau dengan berapapun harga yang ditawarkan, Mang Bari tidak akan pernah menjualnya Den.”
Sebegitu sayangnya Mang Bari pada motor tua-nya itu. Sampai – sampai, Mang Bari memberikan nama motor itu yang padahal adalah bukan makhluk hidup karena terlalu sayangnya Mang Bari. Motor tua itu diberi nama tunek.
Nama yang aneh bukan untuk sebuah motor tua. Namun, nama Tunek yang diberikan Mang Bari pada motor tua-nya itu mempunyai kepanjangan yang mampu membuat-ku tertawa. Kepanjangan Tunek dari motor tua itu adalah, ( TUA NEKAT ), Hahahahaha~.
Mang Bari memberikan nama itu karena saat dulu Mang Bari masih sebaya-ku, motor itu siap mengantarkan Mang Bari menapun dan dalam keadaan apapun. Kalau kata Mang Bari,
“Hujan Badai pun akan Mamang temput bersama motor ini Den.” Ucap Mang Bari pada-ku kala itu Ia bercerita.
* * *
Setelah tidak lama Aku dan Mang Bari berjalan menuju komplek sebelah rumah untuk belajar mengendarai motor, akhirnya kami pun tiba.
Belajar motor-ku dengan Mang Bari pun dimulai dengan pelajaran yang benar – benar mendasar yaitu, cara-nya menghidupkan motor.
“Jadi yang pertama Aden harus tau caranya menghidupkan motor Den. . .” Ucap Mang Bari.
“Cara-nya gimana Mang?” Tanya-ku.
Mang Bari pun menuruni motor dan meninggalkan-ku di atas motor sendiri, Dan memberitahukan-ku bagaimana cara-nya menghidupkan motor.
“Menghidupkan motor ini sebenarnya gampang Den, Aden hanya perlu memutar kunci motor, lalu tinggal Aden menyela pedal motor yang ada disebelah kaki kanan kaki Aden.” Sembari Mang Bari menunjuk pedal selaan motor.
Aku pun mengikuti perkataan Mang Bari seperti apa yang Ia katakan.
“Putar kunci. . ., Lalu sela pedal-nya.”
“Jedaarr. . ., Jedarr. . ., Jedarrr”. bunyi suara selaan motor.” Ucap-ku sembari mempraktikan.