Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #16

Keadaan yang berbalik!

Namun, di saat Aku dan Mang Bari sudah sampai dirumah, kami pun di sambut kembali dengan Mamah yang sudah memasang muka marah di depan pintu dengan gaya tolak pinggang.

Aku heran mengapa tiba – tiba Mamah langsung berkata pada-ku dan Mang Bari yang baru saja sampai rumah,

“Ohhh bagus. . ., udah mulai belajar motor. . ., Bagusss !!!” Ucap Mamah dengan tepukan tangan.

Aku dan Mang Bari pun langsung turun dari motor dan langsung menghadap Mamah. Namun kali ini, Mang Bari tidak lagi mencoba untuk kabur saat Mamah yang sudah menunggu di depan pintu dan siap untuk memarahi-nya.

Entah mungkin karena Mang Bari sudah siap menerima resikonya ataupun, Mang Bari tahu kalau motor tidak bisa membantu upaya-nya untuk diam – diam pergi, Aku pun tidak mengetahui pasti. Tapi yang jelas, Mang Bari langsung turun motor dan berjalan mengikuti-ku dari belakang untuk menghadap Mamah, walaupun Mamah belum memanggil-nya.

“Bari. . ., Kamu tuh benar – benar yaa. . ., Kamu kira ancaman saya sebelumnya main – main?” Ucap Mamah pada Mang Bari dengan tegas.

“Bukan begitu Nyonya, tapi. . .”

“Tapi Apa?!, Sudah kamu tidak perlu banyak alasan!!, Mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja sebagai supir di rumah saya!” Tutur Mamah.

Saat itu Mang Bari hanya diam karena Mang Bari merasa diri-nya bukanlah siapa – siapa. Mang Bari hanya mangguk – mangguk dan berkata,

“Baik Nyonya. . ., Kalau begitu saya pamit pergi ya Nyonya.” Ucap Mang Bari dengan raut wajah yang sedih.

“Iyasudah sana Kamu pergi!, Saya tidak membutuhkan pekerja yang tidak patuh pada ucapan saya!” Pungkas Mamah tanpa memikirkan perasaan Mang Bari.

Mendengar keputusan Mamah yang memberhentikan Mang Bari, Aku pun tidak bisa diam. Karena bagaimana pun, saat itu Mang Bari tidaklah salah sedikitpun atau sekecil apapun. Itu semua karena salah-ku yang telah memaksa-nya untuk mengajari-ku mengendarai motor. Namun, disaat Aku sudah bisa mengendarai motor karena di ajari oleh Mang Bari, mengapa malah Mang Bari mendapatkan hal yang sangat menyakitkan untuk-nya.

“Mamah gabisa gitu dong!!!, Ini semua salah Alfa Mah. . ., yang Mamah harus marahi, harus Mamah hukum itu Alfa, bukan Mang Bari !!!” Ucap-ku dengan tegas karena sudah habisa kesabaran-ku dengan watak Mamah.

“Ohhh bagus. . ., Sudah berani melawan Kamu ya sama Mamah!!!”

“Bukan Alfa melawan Mamah!, Tapi ini kesalahan Alfa Mah!!, Alfa yang meminta Mang Bari untuk mengajari Alfa untuk mengendarai motor!!”

Saat itu perseteruan-ku dengan Mamah pun semakin memanas dengan saling mengeluarkan argumen masing – masing.

Namun entah ada apa dengan hari itu, yang membuat Aku dan Mang Bari terselamatkan. Karena disaat Aku dan Mamah yang sedang berseteru keras dan semakin memanas, tiba – tiba saja terdengar suara klakson mobil dari luar pagar besi rumah-ku.

Sebuah suara yang sangat Aku hafal sekali suaranya, begitupun juga sama dengan Mang Bari. Dan ternyata benar saja, telinga-ku tidak mungkin salah disaat Aku mendengar suara klakson dari luar gerbang. Suara klakson yang juga tiba – tiba menjadi pelerai pertikaian-ku dengan Mamah.

Pak Suripto pun akhrinya juga langsung membukakan gerbang rumah-ku disaat mendengar klakson itu, agar mobil tersebut bisa masuk.

Akhirnya, Papah pun turun dari mobil-nya dan langsung berlari menuju ke arah Aku, Mamah, dan Mang bari. Mengapa Papah langsung berlari ke arah kami?, karena Aku yakin Papah tahu apa yang sedang terjadi pada kami saat itu. Karena jika Aku sudah 18 tahun lebih hidup bersama Mamah, maka tentunya Papah pasti sudah lebih lama dari itu. Jadi, Papah pasti tahu betul watak Mamah.

“Mah ada apa ini?” Tanya Papah pada Mamah.

“Ini anak kita, buat ulah lagi!” Jawab Mamah sembari menunjuk-ku.

“Yaa tapi gaperlu teriak – teriak juga kan Mah. . ??, Malu jadinya kalau sampai di telinga tetangga sebelah.”

Lihat selengkapnya