Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #17

Seharusnya tidak seperti itu!

Aku merasa sangat senang saat itu karena, Aku telah diberikan motor oleh Papah. Motor Papah yang jarang Ia pakai karena sudah sibuk untuk mengurus kantor, dan membuat Papah jadi jarang menggunakan motor tersebut bahkan, walaupun hanya untuk memanasi motor tersebut.

Aku juga tidak terfikirkan rasa takut pada Mamah karena, Papah sendirilah yang memberikan Aku motor. Jadi sudah jelas Papah lah yang mempunyai hak tertinggi di dalam rumah tersebut. Di tambah lagi, motor yang diberikan pada-ku ialah motor motor Papah pribadi.

Setelah keadaan yang sangat menegangkan berlalu, yang dimana Mang Bari hampir saja ketar – ketir karena kehilangan pekerjaan untuk sesaat, hal itu pun berlalu dengan ujung yang cukup menyenangkan untuk-ku, dan Mang Bari.

Aku pun sedikit terheran mengapa Papah mau memberikan motor-nya kepada-ku. Padahal, Aku baru saja belajar mengendarai motor. Dan ucap jawaban-ku tentang pertanyaan Papah yang menanyai-ku sudah bisa naik motor atau tidak, itu pun Aku jawab dengan bermodalkan nekat saja.

Dan setelah kejadian itu, Aku pun langsung memasuki kamar-ku kembali untuk sedikit belajar, dan mengulang materi yang diberikan oleh Guru-ku saat di sekolah.

Kegiatan-ku yang selalu berulang – ulang seperti itu, karena perlakuan Mamah yang terlalu berlebihan pada-ku. Maksud kata Sayang Mamah yang tapi sebenar-nya menjadi memperlakukan-ku layaknya hewan dalam kandang.

Saat Aku berada di dalam kamar sendir, lagi – lagi imajinasi-ku pun memaksa untuk memberontak perlakuan yang Mamah terapkan pada-ku selama ini. Dengan adanya bantuan Aku yang sudah mulai bisa mengendarai motor, dan ditambah Papah yang juga mempercayai-ku untuk menggunakan dan merawat motor-nya.

Di atas kasur, dan diterangi oleh lampu kamar yang kuning seperti sinar matahari, Aku pun menjadi sedikit tercerahkan. Namun, entah cahaya fikiran tersebut bisa disebut sebagai penerangan atau malah justru membawa-ku pada kegelapan.

“Sepertinya Aku harus sedikit menunjukkan pada Mamah atas perlakuan-nya itu.” Ucap-ku sembari terduduk memegang pensil saat belajar.

Dan setelah sekian lama Aku terlalu dalam lamunan akan hal tersebut, Aku pun sepertinya mengetahui apa yang harus Aku lakukan. Karena Aku sudah mengetahui apa yang Aku lakukan, Aku pun dengan cepat menyelesaikan belajar-ku yang hanya membahas ulang materi dari Guru-ku saat disekolah. Karena bagaimanapun juga, belajar adalah kewajiban-ku menjadi seorang siswa.

* * *

Setelah kurang lebih 1 jam Aku belajar sendiri, Aku pun langsung mandi untuk setidaknya menyegarkan fikiran-ku kembali atas pertikaian-ku dengan Mamah, dan otak-ku yang sudah mulai panas karena belajar sendirian di kamar.

Badan-ku pun terasa segar kembali disaat air membasahi seluruh tubuh-ku. Otak-ku yang sebelumnya panas menjadi dingin dan tenang. bagaikan bara api yang disiram oleh air dan langsung memadamkan-nya. Dan setelah bada-ku segar kembali, Aku pun langsung segera mencoba, hal yang tidak pernah Aku lakukan sebelumnya.

Dengan Aku memakai celana panjang dan mengenakan jaket tebal. Aku pun langsung mengambil kunci motor yang baru saja sore tadi Aku terima dari tangan pemiliknya langsung.

Yang aneh dari diri-ku yang pengecut ini ialah, disaat sebelumnya Aku telah memutuskan dengan berani-nya untuk pergi keluar, lagi dan lagi hal yang sama pun terjadi pada diri-ku. Disaat kaki-ku menuruni anak tangga, dari ketinggian lantai rumah-ku, Aku pun melihat Mamah di ruang tamu bersama Papah sedang menonton televisi bersama.

Lihat selengkapnya