Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #18

Suka sekali Ia meledeki-ku

Sesampainya di garasi rumah untuk mengambil motor, Aku pun langsung membuka kain yang menutupi motor Papah yang telah diberikan pada-ku. Saat kain penutup dibuka, Aku pun benar – benar dibuat takjub oleh motor tersebut. Entah mengapa Aku takjub saat itu pada motor tersebut. Padahal, Aku sudah pernah melihat itu sebelumnya, karena memang Ayah memiliki motor tersebut sudah lumayan lama. Mungkin Aku sangat takjub pada saat itu dikarenakan hati-ku menyadari bahwa, motor itu sekarang adalah milik-ku.

Setelah Aku membuka kain penutup motor itu, Aku pun langsung menaiki motor tersebut dengan keriangan hati. Dan di saat Aku hanya menaiki motor tersebut, tidak tersadar oleh-ku tiba – tiba Papah berada di hadapan-ku.

“Ehhh Papah. . ., ngagetin aja, hehehe.” Ucap-ku yang berada di atas motor.

“Gimana?, Kamu suka sama motor Papah itu?” Tanya Papah yang sedang bersandar di tembok dengan tangan disaku celana-nya.

“Siapa yang tidak suka pada motor sebagus ini Pah.” Jawab-ku.

Papah pun melepaskan pundak-nya yang bersandar ditembok garasi dan lalu menghampiri-ku. Dengan Papah sembari meletakkan tangan-nya di tangki motor itu Papah pun berkata.

“Motor ini mempunyai kenangan yang sangat indah untuk Papah terutama, kenangan bersama Mamah-mu yang galak itu. Huuhhh.” Ungkap Papah pada-ku.

Saat itu Aku sangat mengerti perasaan Papah yang sangat menyayangi motor-nya yang telah diberikan dan dipercayakan pada-ku untuk menjaganya. Kalau saja Papah tidak terlalu sibuk pergi ke kantor untuk mengurus perusahaan, mungkin Papah masih menggunakan motor tersebut.

Sebenarnya bisa saja Papah pergi ke kantor menggunakan motor tersebut. Akan tetapi, jawaban Papah disaat Aku bertanya demikian adalah,

“Kalau Papah bawa si Boy ini, Papah kasihan pada mesin-nya. Takut cepat rusak. Jadi Papah lebih memilih menyimpannya di garasi dan menggunakan mobil untuk ke kantor.” Jawab Papah saat sebelumnya pernah kutanyakan.

Yaa benar, bukan hanya Mang Bari saja yang memberikan nama pada motor kesayangan miliknya, Papah-ku juga memberikan motor kesayangannya itu sebuah nama, dan namanya adalah “BOY”.

Jadi untuk menghormati Papah yang telah memberikan motor tersebut pada-ku, maka Aku pun tidak akan mengganti nama dari motor tersebut, yaitu “BOY”.

Terlalu sayangnya Papah pada si Boy, pada saat sebelum Aku pergi malam – malam untuk mencari makan dan berjalan – jalan, yang dimana itu juga pertama kalinya Aku mengendarai sendiri motor tersebut.

“Boy, sekarang yang lebih banyak bersama pada-mu adalah anak-ku, Alfa. Tunjukan pada-nya bahwa dunia ini terlalu luas jika hanya berdiam diri didalam kamar.” Ucap Papah yang setelahnya menatap arah-ku.

Tidak sedikit orang yang menganggap gila apabila ada orang lain berbicara pada kendaraan orang tersebut. Hal itu karenakan orang yang menertawai tidak mengerti akan jalinan perasaan yang begitu erat. Justru bagi-ku, orang menertawai itulah yang gila, karena dia sudah tidak memiliki akal sehat dan rasa menyayangi.

Karena Papah berucap demikian, Aku pun tidak bisa berkata apapu pada Papah selain,

“Makasih banyak ya Pah, Aku akan jaga si Boy, hahaha.” Ucap-ku dengan tawa yang juga membuat Papah sedikit tertawa.

“Hahahaha. . ., Yasudah – yasudah, Papah kedalam yaa. . ., Jangan terlalu malam pulangnya.” Ucap Papah sembari mengacak – acakkan rambut-ku.

“Iyaa Pah, sebentar aja ko Alfa keluar-nya.” Jawab-ku.

Dan setelah tidak lama Papah masuk kedalam rumah, Aku pun juga langsung menyalakan mesin motor, dan mengatakan pada Boy.

“Meluncurrrrr Boyyyy. . . “

* * *

Setelah jalan, Aku pun benar – benar merasa senang dan berfikir, ini adalah awal dari kebebasan-ku, terhadap Mamah yang selalu mengekang-ku.

Berkeliling jalan dengan laju putaran roda si Boy yang tidak terlalu cepat, membuat-ku merasakan nikmatnya berjalan sendirian pada malam hari. Berjalan dengan laju motor yang tidak terlalu lamban, sembari melihat – lihat jajakan makanan para penjual di sepanjang jalan-ku.

Laju motor-ku pun terhenti pada saat itu secara tiba – tiba, karena Aku melihat seorang perempuan yang sangat mirip sekali dengan Beta dari nampak belakang. Seorang perempuan yang Aku lihat sangat mirip seperti Beta itu, sedang membeli sate padang di jalan yang ku lewati.

“Eehh, Eehh. . ., Itu seperti Beta. . . Atau cuman mirip aja ya??” Tanya jawab-ku pada diri sendiri yang sembari menengok ke arah belakang.

Karena tempat pedagang sate padang itu sudah terlewatkan oleh-ku, Aku pun langsung mencari jalan memutar dan menghafalkan letak pedagang tersebut karena rasa penasaran-ku.

Setelah Aku melewati jalan yang memutar untuk menghampiri perempuan tersebut, Aku pun langsung menuruni motor dengan tatapan mata-ku yang masih tertuju pada perempuan yang sangat mirip sekali dengan Beta.

Karena terlalu miripnya perempuan tersebut dengan Beta, secara tanpa sadar untuk mendekati perempuan tersebut, Aku sampai tidak sadar memesan satu porsi sate padang pada pedagang tersebut.

Pada saat Aku turun dan baru saja mengatakan bahwa Aku memesan satu porsi sate padang pada pedagang tersebut, Aku pun memperhatikan perempuan tersebut. Dan karena Aku tidak ingin berlarut – larut akan rasa pernasaran-ku itu, Aku pun dengan secara nekat, langsung saja menepuk pundak perempuan tersebut dari arah belakang.

“Betaa. . .??” Tanya-ku dengan menepuk pelan pundak perempuan tersebut.

Setelah Aku menepuk pundak perempuan tersebut, perempuan itu pun sontak langsung membalikan tubuh-nya dan mengarah pada-ku. Dan ternyata benar saja dugaan-ku, bahwa perempuan tersebut adalah Beta.

“Ehhh. . ., Alfa?? Kamu ngapain malam – malam begini disini?” Tanya Beta pada-ku dengan sedikit senyuman.

“Emmm. . ., Aku mau beli sate padang disini, hehehehe.”

Lihat selengkapnya