Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #19

Gagalkan telepon umum itu!

Malam itu adalah salah satu malam istimewa untuk-ku. Karena Aku bisa berbicara dengan Beta dengan leluasa tanpa ada suara peringatan dari lonceng sekolah, yang menandakan obrolan-ku dan Beta harus terhenti. Walaupun saat itu ada jam yang tetap membatasi waktu obrolan-ku dengan Beta, tapi perbandingan waktunya pun jauh lebih lama jika dibandingkan dengan waktu istirahat di sekolah yang hanya beberapa menit saja.

Tidak terasa sepertinya waktu Aku dan Beta untuk bercengkrama pun sepertinya harus selesai pada malam hari yang sangat indah itu. Piring yang berisikan makanan yaitu sate padang-ku dan Beta telah habis. Yang secara tidak langsung adalah sebuah tanda kalau Aku dan Beta harus pulang kerumah masing – masing. Dan memang, waktu pun sudah menunjukkan pukul 10 malam.

Hamparan aspal jalan yang disaat Aku di isi dengan ramainya suara gemuruh kendaraan yang lalu lalang, lama kelamaan menjadi sepi. Jika ditanyakan pada diri-ku sendiri Aku ingin pulang atau tidak, jawabannya tentu saja tidak. Tapi Aku juga harus memikirkan Beta jika pulang terlalu malam karena bahaya.

“Pak. . .” Panggil-ku pada Bapak penjual sate.

“Iyaaa Dek. . .” Sahut-nya.

“Berapa 2 porsi ini Pak? Sama es teh manisnya tadi 2 juga.” Tanya-ku atas harga makanan yang Aku dan Beta pesan.

“800 saja Dek.”  Jawab Bapak penjual atas harga sate-nya.

“Tunggu sebentar ya Pak, (membuka dompet-ku). Ini Pak uangnya, kembaliannya ambil saja.” Ucap-ku.

“Makasih yaa Dek. . .” Tutur Bapak penjual sate dengan senyuman.

“Iyaa Pak sama – sama.”

Setelah itu Aku dan Beta pun langsung berdiri untuk segera pulang. Namun, lagi dan lagi kali itu Aku melihat Beta yang langsung ingin menyebrang entah mau kemana.

“Bett. . ., Kamu menyebrang jalan mau kemana memangnya?” Tanya-ku pada Beta yang ingin menyebrang.

“Iyaa Fa, Aku mau ke telepon umum yang ada di sebrang jalan sana. Aku ingin menelepon Ayah-ku untuk menjemput-ku.” Ucap Beta dengan tunjukan tanganya-nya ke arah telepon umum yang ada di seberang jalan.

Saat Beta berkata demikian, Aku pun berfikir mengapa Beta tidak meminta Aku saja untuk mengantarkan-nya pulang?. Apakah Ia malu jika harus meminta terlebih dahulu?. Hal itu pun menjadi tanda tanya yang segera cepat ku akhiri dengan, Aku yang langsung menawarkan-nya tumpangan.

“Boleh Aku saja yang mengantar kamu pulang?” Ajak-ku untuk-nya.

“Benar Kamu mau mengantar Aku pulang? Rumah-ku lumayan jauh loh. . .” Tanya Beta yang merasa ragu pada-ku.

“Sudah tahu.” Ucap-ku dengan spontan.

“Sudah tahu apa?” Tanya Beta yang merasa heran dengan ucapan-ku.

“Oohh maksud-ku, Aku sudah tahu rumah-mu jauh, karena kalau tidak pasti kamu tidak mungkin meminta Ayah-mu untuk menjemput kan?, Hehehehe.” Ucap-ku yang mencari alasan dengan cepat.

“Analisa kamu ada benar-nya juga yaa. . .” dengan angguk – anggukan kepalanya.

“Gimana? Boleh?, jika Aku yang mengantarkan Kamu pulang?” Tanya-ku kembali atas pertanyaan-ku yang belum Beta jawab sebelumnya.

“Heemmm. . ., Yaa boleh, Hehehehe.” Jawab Beta yang menerima ajakan-ku dengan sedikit tawa yang tersipu malu.

Lihat selengkapnya