Setelah cukup lama Beta tertidur dan Aku yang mengendarai motor untuk mengantarkan-nya pulang. Beta pun tidak tersadar kalau Aku sudah sampai tepat dirumah-nya.
Sebenarnya Aku ingin membangunkan-nya untuk pura – pura bertanya dimana Ia bertempat tinggal. Tapi karena Aku melihat Ia yang sangat nyenyak pada tidurnya dari pantulan kaca spion. Aku pun tidak ingin mengganggu tidur-nya itu. Jadi, Aku langsung saja mengarah kerumah-nya yang sebenarnya memang Aku sudah tahu karena sebelumnya Aku pernah mengikuti-nya secara diam – diam, bersama Mang Bari.
Biarlah nanti Ia sadar atau tidak kalau Aku bisa sampai tepat di depan rumah-nya tanpa Ia beritahukan jalurnya. Hal tersebut Aku bisa mencari alasan lain karena, yang terpenting pada saat itu Aku tidak ingin menggangu tidurnya yang terlihat begitu lelap di atas bahu-ku, sebelum sampai di depan rumah-nya.
Dan setelah sampai di depan rumah-nya, Aku pun langsung membangunkan-nya secara lembut, dengan nada-ku yang lirih pula agar Ia tidak terbangun secara kaget.
“Beta. . ., Bangun Bet. . ., Kita sudah sampai. . .” Dengan menepuk - nepuk bahu-nya secara pelan.
Tidak butuh waktu lama, Beta pun terbangun dari tidurnya dengan merasa sedikit kaget. Hal itu mungkin dikarenakan tidurnya yang memang sudah lumayan cukup lelap saat perjalanan pulang ke rumah-nya.
“Hemmm. . ., Ehhh kita sudah sampai. . .” Ucap-nya
“Iyaa Kitaa sudah sampai. . .” Ucap-ku kembali.
“Hehehehe, Maaf ya Aku ketiduran. . .” Ucap-nya pada-ku dengan wajah yang masih kantuk.
“Iyaa Gapapa. . ., Anginnya memang tadi membuat mata ingin tidur saja. . .” Jelas-ku.
“Untung Kamu juga tidak ketiduran. . .” Ucap-nya.
“Memangnya kenapa kalau Aku juga ikut ketiduran??” Tanya-ku yang berpura – pura tidak tahu.