Setelah malam itu berlalu dengan Aku yang juga sudah melewati mimpi dalam tidur-ku. Hari yang baru pun datang dengan tampak sang fajar yang juga sedang memberi asupan pada para tumbuhan. Begitupun juga dengan hati-ku yang mendapatkan asupan sebuah sinar. Akan tetapi sinar itu bukanlah dari sang fajar yang setiap hari membangunkan-ku, melainkan dari Beta.
Aku pun sepertinya juga salah jika mengaggap kalau Aku jalan bersama Beta di saat malam hari. Karena bagaimana mungkin ada matahari di malam hari.
Tapi malam itu pun sudah berakhir dan Aku harus menjalani kegiatan-ku seperti biasa. Walaupun tetap bisa bertemu dengan Beta di sekolah, tapi tetap saja Aku tidak tahu kapan saat Aku dengan Beta bisa hanya berdua lagi.
Pintu kamar-ku pun bergemuruh dengan aduan tangan Mamah untuk membangunkan-ku. Aku pun segera terbangun untuk segera mandi dan pergi ke sekolah.
Namun ada yang aneh pada hari itu yang membuat kehidupan-ku berubah. Lebih tepatnya adalah perlakuan Mamah pada-ku yang benar – benar membuat-ku merasa masih tertidur dan sedang bermimpi.
Pada saat Aku selesai mandi dan memakai seragam dengan rapih, Aku pun langsung turun menuju meja makan. Yang dimana Aku harus mengisi sedikit perut-ku dengan makanan.
Padahal, Aku sudah melupakan kejadian semalam yang membuat-ku sedikit takut disaat Aku pulang larut malam. Tapi hal itu pun kembali terfikirkan oleh-ku karena sikap dan perlakuan Mamah pada-ku pada pagi hari, disaat Aku sedang menyantap sarapan-ku sebelum berangkat sekolah.
Mamah benar – benar tidak sedikitpun membahas atau menanyakan pada-ku perihal kejadian semalam. Mamah tidak menanyakan jam berapa Aku pulang, dan tidak menanyakan semalam Aku pergi kemana saja.
Pagi hari itu Mamah bersikap seperti tidak ada kejadian apa – apa semalam yang seharusnya, Mamah telah marah – marah pada-ku seperti biasa jika Aku melakukan hal yang tidak Ia inginkan. Aku berbicara pada Mamah seperti biasa, dan Mamah pun juga berbicara pada-ku seperti biasanya sebelum Aku berangkat ke sekolah.
Dengan Mamah hanya menanyakan pada-ku ada barang – barang yang tertinggal atau tidak, buku – buku yang akan kubawa pada hari itu sudah dirapihkan atau belum. Dan karena sikap dan perlakuan Mamah kali itu, benar – benar membuat-ku sangat kebingungan.
Karena sangat tidak percaya dengan hal yang Aku hadapi pada pagi hari itu, Aku pun sampai menggampar – gamparkan pipi-ku. Hal itu sungguh Aku lakukan untuk memastikan bahwa Aku tidaklah sedang bermimpi.
“Plaakk. . ., Plaakk. . .” (suara Aku yang menampar pipi-ku sendiri).