Pada pagi itu dengan Aku mengendarai motor-ku sendiri, untung saja Aku tidak telat untuk melewati pintu gerbang sekolah sebelum di tutup.
Setelah sampai di kelas untuk belajar seperti biasa, selalu Beta yang sudah berada di kelas dengan sembari membaca buku untuk menunggu waktu kegiatan belajar mengajar tiba agar tidak terasa lama. Beta adalah anak yang pintar dan suka membaca buku untuk mengisi waktu luang-nya. Sedangkan Aku lebih suka memandangnya yang sedang membaca buku untuk mengisi waktu luang-ku.
“Kringgg. . . Kringgg. . . Kringgg. . .” (suara lonceng bel sekolah yang menandakan kegiatan belajar mengajar dimulai).
Setelah tidak lama lonceng bel sekolah yang menandakan kegiatan belajar mengajar akan segera dimulai, Guru-ku pun masuk untuk segera memberikan materi sesuai mata pelajaran masing – masing.
Pada saat itu, materi pelajaraan yang Aku, Beta dan siswa – siswa lain terima adalah mata pelajaran Fisika. Dan Fisika adalah salah satu mata pelajaran yang Aku suka. Tapi entah kenapa cukup banyak siswa di kelas-ku yang membenci mata pelajaran Fisika, tanpa terkecuali Beta.
Banyak yang berasalan bahwa mata pelajaran Fisika itu sangat memusingkan karena, banyak rumus – rumus dengan simbol – simbol yang berbeda. Dan kalau Beta memberikan alasan pada-ku mengapa Ia tidak terlalu menyukai mata pelajaran Fisika, karena memang Beta tidak terlalu suka dengan mata pelajaran soal hitung – menghitung.
Beta lebih menyukai mata pelajaran yang berhubungan dengan soal baca – membaca jika dibandingkan dengan mata pelajaran yang isinya penuh dengan angka dan mengharuskan siswa untuk menghitung. Seperti mata pelajaran sejarah atau yang lainnya.
Aku justru malah berbanding terbalik dengan Beta, dan justru Aku lebih suka pada mata pelajara yang menghitung. Karena jika mata pelajaran yang lain, pasti Guru-ku akan mememinta para siswa untuk merangkum materi yang ada di buku sedikitnya 2 Bab. Dan hal itu membuat tangan-ku menjadi keriting dan pegal. Tapi tidak demikian dengan pelajaran yang menghitung seperti Fisika.
Walaupun memang Aku akuin cukup membuat otak bekerja lebih keras, tapi setidaknya tidak pegal menulis untuk merangkum materi yang membuat jari – jari tangan-ku serasa ingin patah.
Dan pada saat pelajaran Fisika, Aku pun mengajak Beta sedikit berbicara untuk merayu-nya. Aku ingin membertihukan secara langsung pada Beta jika Aku menyukai-nya.
“Bet. . .” Panggil-ku pada Beta dengan lirih yang sedang memperhatikan Guru-ku memaparkan materi di papan tulis.
“Kenapahh. . .?” Jawab Beta dengan mata yang tetap melihat ke arah papan tulis.
“Kamu tau gaa?” Ucap-ku.
“Tauu apaahh?”
Aku sebelumnya telah menulis sesuatu di buku tulis-ku untuk kuberitahukan pada-nya. Tentang suatu ketentuan dalam ilmu mata pelajaran Fisika.
“nih Bet liat sebentar.” Dengan Aku yang menggeser buku yang sudah kutilaskan sebelumnya.
“Itu maksudnya apa?” Tanya Beta atas tulisan yang Aku tunjukkan pada-nya.
“Jadi dalam Ilmu Fisika itu, Kalau 1 alfa untuk 1 alfa, lalu kalau 2 alfa untuk 1 Beta.” Ucap-ku.
“Iyaa kalau itu Aku tauu. . .” Jawab Beta.
“Tapi menurut-ku, ada yang salah pada ketentuan dari Ilmu Fisika yang satu ini, dan sangat tidak berlaku untuk-ku.” Dengan Aku menunjuk tulisan yang ada di buku-ku.
“Salah kenapa?” Tanya Beta dengan kebingungan pada-ku.
“Massa 2 alfa untuk 1 Beta. Tentu Aku sangat tidak sepakat dengan ketentuan ini. Dan Aku ingin menjadi Ilmuan Fisika untuk membuktikan kalau ketentuan ini adalah suatu kesalahan.” Tutur-ku.
“Lohh kenapa memangnya Kamu tidak setuju??, Memangnya menurut-mu yang benar harusnya seperti apa?” Tanya Beta dengan sebelah tangan-nya yang menopang dagu.