Setelah sepulang dari sekolah pada hari itu, hari dimana yang membuat-ku merasa segala usaha-ku sia – sia saja. Usaha-ku belajar motor sampai Mang Bari hampir saja kehilangan pekerjaan-nya tidak membuahkan hasil apapun selain kekecewaan-ku pada diri sendiri.
Aku kecewa pada diri-ku sendiri karena, Aku adalah seorang pengecut yang telah dengan begitu mudahnya membiarkan Beta dengan lelaki lain. Aku adalah seorang pengecut yang tidak berani menantang Jordi karena dengan semena – mena telah menyuruh-ku untuk menjauhi Beta.
Bagaimana bisa, seorang pengecut seperti-ku berani untuk melawan Jordi yang menjadi jagoan di sekolah?. Dan memang Jordi di takuti pula oleh seluruh anak laki – laki sekolah-ku.
Aku pun pulang sekolah pada hari itu dengan keadaan penuh kehampaan. Keinginan-ku pada hari itu sangatlah berbanding terbalik dengan apa yang biasa Aku inginkan. Jika biasanya seusai jam belajar disekolah berakhir Aku tidak ingin cepat – cepat untuk pulang, tapi hari itu Aku ingin segera dengan cepat untuk pulang kerumah, memasuki kamar-ku, dan menyendiri tanpa ada gangguan dari siapapun.
Tapi pada hari itu pula, dimana Aku sebelumnya tidak menggubris sama sekali apa yang Beta katakan, Aku mempunyai fikiran untuk langsung menemui-nya dan, berbicara empa mata saja pada-nya.
Karena ada beberapa hal yang ingin Aku ketahui dengan jelas, dan tanpa ada keraguan sedikit dikepala-ku yang hanya bisa menerka – nerka.
Aku pun langsung menuju parkiran tempat Aku memparkirkan motor-ku dan langsung meninggalkan sekolah untuk, menuju suatu tempat. Suatu tempat yang mungkin Aku bisa menemukan kejelasan.
* * *
Setelah tidak lama Aku berpacu dengan putaran roda motor-ku, Aku pun telah sampai dirumah Beta.
Dan setelah tidak lama Aku menunggu di depan gerbang rumah Beta, Beta pun datang bersama Ayah-nya. Tempat sebelumnya Aku juga menghantarkan-nya saat setelah makan bersama karena pertemuan yang tidak disengaja.
Ayah-nya pun langsung menurunkan-nya lalu Ayah-nya langsung masuk kedalam rumah tanpa menyapa-ku. Aku pun terheran dengan sikap Ayah Beta yang seolah tidak melihat-ku padahal, Aku berada tepat di hadapan-nya saat Ia menurunkan Beta.
Beta pun menghampiri-ku dengan wajah yang masam dan mata memerah karena tangisan Ia sebelumnya. Dan tanpa basa – basi, Beta pun langsung berbicara pada-ku disaat Ia tepat berada di hadapan, Aku yang sedang menunggu-nya.
“Untuk apa Kamu datang kerumah-ku?!?” Dengan Mata yang merah dan nada suara yang marah.
“Aku. . .”
“Kenapa saat disekolah Kamu mendiamkan-ku?!?” Ucap Beta kembali.
“Aku. . .”
“Aku ingin pulang bersama-mu Alfa. . .!!” Pungkas Beta.
Sedari Beta datang menghampiri-ku yang sedang menunggu-nya, Beta pun terus melontarkan pertanyaan, tanpa memberi-ku kesempatan berbicara. Dan Aku pun langsung menyadari bahwa Aku harus berbicara dengan cepat tanpa harus terbata – bata agar, Beta tidak lagi dapat memotong ucapan-ku.