Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #25

Tidak sanggup untuk Aku menolak-nya.

Hanya berdua saja dengan Beta berada di tengah taman yang sangat sepi dan suara yang hening. Taman yang baru Aku temukan saat itu, sepertinya adalah taman yang sangat di inginkan oleh semua orang yang ada di dunia ini. Dengan rerumputan hijau dan hiasan batu kerikil yang jika dilihat membuat hati menjadi tenang.

Iringan deruh air kecil yang dibuat oleh para segerombolan ikan yang sepertinya sedang bercengkaram satu sama lain di dalam kolam. Entah mengapa tiba – tiba para segerombolan ikan yang berada tidak jauh di samping kiri bangku yang sedang Aku duduki bersama Beta, berkumpul di sudut kolam arah Beta.

Tapi seolah para ikan itu sangat marah pada-ku karena, Aku telah membuat Beta menangis. Namun, seperti apa yang Aku katakan sebelumnya bahwa, bukan suatu alasan Aku mendiamkan Beta yang pada akhirnya membuat Beta menangis. Dan alasan Aku mendiamkan Beta pun sudah Aku jelaskan secara langsung dan empat mata pada Beta.

Rasa kesedihan Beta yang membuat-nya menjadi bersandar di bahu-ku, menjadikan alam cemburu pada-ku. Dengan hebat alam membuat terpaan angin yang seolah ingin menggeser-ku dari atas bangku. Daun yang secara sedikit demi sedikit berguguran dan membuat penampilan sedikit kacau, seolah ingin membuat Beta tidak menyukai-ku.

Tapi, Aku tidak perlu melakukan hal curang seperti, apa yang alam lakukan pada-ku. Melakukan segala tindakan sebisa mungkin untuk membuat-ku jauh dari Beta. Tapi alam tidak mengetahui bahwa ikatan cinta-ku dengan Beta semakin kuat setiap kali mereka untuk menjauhkan atau bahkan sampai berusaha ingin memutuskan.

Para ikan di kolam juga tidak sadar mereka terlahir di dunia sebagai apa, dan juga tinggal di alam yang berbeda dengan-ku. Semakin Ia memaksa mendekat bahkan apabila Ia ingin keluar, maka semakin Ia lemah. Lemah bukan karena Ia tidak bernafas apabila berada di daratan. Tetapi, karena hati-nya semakin sakit melihat Aku dengan Beta yang semakin tidak bisa terpisahkan.

Semakin kuat Aku mendekapkan tubuh Beta yang sedang bersandar di bahu-ku dengan, sebelah tangan-ku yang merangkul-nya. Sebisa mungkin Aku menghampuskan air mata yang menetes dari bola mata indah-nya. Karena bagaimana pun, Aku yang membuka pintu bendungan yang ada di mata-nya. Dan sebisa mungkin Aku menghampuskannya dengan cara menutup bendungan tersebut, tanpa harus Ia melihat kegelapan. Yang dimana justru, Ia harus semakin melihat cahaya yang semakin terang di saat kegelapan itu menghilang.

Dengan Beta yang sibuk mengambil seluruh kehangatan dari tubuh-ku yang mendekapkan kenyaman pada-nya, Aku justru malah sibuk untuk mencari suatu cara. Suatu hal bagaimana cara-nya Aku tidak hanya sekedar hangat, tapi Aku juga harus menjadi semakin panas apabila ada yang ingin merenggut kenyamanan-ku dengan Beta.

Hari itu menjadikan Aku seperti biasa karena, Aku menjadi tidak ingin pulang kerumah seperti biasa. Aku lebih suka berada di atas bangku sederhana di taman itu dengan Beta yang mata-nya sayup sayup melihat ke arah kolam ikan yang berada di sebelah-nya.

“Percayalah Beta. . ., Setelah hari ini berlalu dengan sang fajar yang silih bergantian tugas kepada tuan rembulan, Aku tidak akan pernah menyakiti-mu lagi.” Ucap-ku dalam hati dengan sebelah tangan-ku lagi yang mengusap – usapkan gelombang rambutnya.

Begitu berharga hidup-ku sekarang karena Aku telah menemukan arti yang sebenarnya atas Aku di lahirkan di dunia ini. Jika sebelumnya Aku bertanya – tanya apa tugas-ku di dunia ini, tapi sekarang pertanyaan itu sudah terjawab. Pertanyaan itu sudah terjawab karena kehadiran Beta di hidup-ku.

Saat kehadiran Beta di dalam hidup-ku, seolah saat itu pula Aku mendapat sepucuk surat ghaib yang langsung di hantarkan ke dalam kepala-ku, dan tersampaikan pada perasaan-ku. Sepucuk surat yang tidak memiliki banyak pesan. Surat yang membuat kepala dan hati-ku berfikir, apakah Aku bisa menjalankan tugas yang tersirat di dalam sepucuk surat itu.

Surat yang hanya bertuliskan, “Jagalah Dia, Jika memang Kau mencita-nya.”

Pertanyaan yang muncul bukan apakah Aku mencitai-nya atau tidak. Karena jika hal itu yang ditanyakan, tidak butuh waktu lama untuk Beta membuat-ku jatuh cinta pada-nya. Akan tetapi, hal yang membuat-ku bertanya – tanya adalah, Apakah bisa Aku menjaga-nya?.

Aku fikir jawaban-nya tidak, yaitu setelah Jordi membuat-ku malu habis – habisan karena Ia mengetahui kedekatan-ku dengan Beta. Akan tetapi, saat Aku hanya duduk berdua saja di taman tersebut, tidak bisa juga Aku katakan Aku bisa menjaga-nya. Walaupun, jika sebelumnya pertanyaan itu lewat sepucuk surat, tapi saat itu Beta-lah yang seolah meminta dan memohon untuk Aku menjaga-nya.

Tidak penting Aku bisa menjaga-nya atau tidak nantinya. Namun yang terpenting adalah, seberapa besar usaha-ku untuk mengambulkan permintaan-nya itu. Yaitu permintaan-nya untuk Aku menjaga-nya, dan jangan pernah merelakan siapapun untuk mengambil hati-nya walaupun satu langkah.

* * *

Lihat selengkapnya