Setelah Aku dan Beta makan soto, Aku dan Beta pun dengan langsung bergegas untuk pulang kerumah. Karena memang waktu pulang sekolah-ku dengan Beta, pun sudah tidak bisa dikata sebagai waktu pulang sekolah. Waktu pulang-ku dengan Beta bisa dikatakan dengan waktu pulang main.
Aku pun membayar makanan yang telah kami pesan saat itu. Aku yang membayar bukan karena memang meminta untuk Aku yang membayar makanan kami. Akan tetapi, karena memang Aku sebelumnya sudah berjanji pada Beta akan mentraktir-nya makanan apabila, Ia ingin menemani-ku makan lagi di sepanjang jalan itu.
Aku mengira hari itu adalah hari yang paling menyenangkan dalam hidup-ku. Bagaimana bisa Aku tidak menobatkan bahwa hari itu adalah hari yang paling menyenangkan. Karena pada hari itu adalah hari dimana Beta menerima-ku menjadi pacar-nya. Yang dimana saat Beta menerima-ku menjadi pacar-nya, Ia juga secara tidak langsung telah menjadi milik-ku
Tapi ternyata, bukankah hari itu harus menjadi hari paling menyenangkan dalam hidup-ku. Hari itu juga menjadi hari paling menyedihkan dalam hidup-ku. Hari yang benar – benar sangat tidak ingin Aku ingat tentang kejadian yang benar – benar membuat-ku benci pada hari itu.
Hari itu menjadi hari yang paling kubenci ialah, karena saat Aku dan Beta dalam perjalanan pulang. Aku yang harus terlebih dulu mengantarkan Beta dengan sepeda motor-ku, harus mengalami kejadian yang begitu pahit.
“Braaakkk. . .” (suara tabrakan motor-ku dengan kendaraan lain).
Saat perjalan pulang, motor yang Aku kendarai, dengan Beta juga yang sedang Aku boncengi, mengalami kecelakaan dengan kendaraan mobil lain.
Saat motor yang sedang Aku kendarai secara mendadak menabrak mobil yang sedang malaju juga di area persimpangan jalan raya. Saat itu Aku hanya tersadar tentang seberapa jauh Aku terpental dari motor-ku, dan Aku melihat Beta yang juga sedang terkapar di atas jalan malam. Setelah itu, mata-ku tertutup dan Aku tidak mengingat dan tidak mengetahui keadaan Beta selanjutnya.
Dan saat Aku membukakan mata kembali, Aku sudah berada di dalam kamar rumah sakit, dengan kedua orang tua-ku yang wajah khawatir mereka tidak bisa dibohongi.
“Aa. . .Akuu dimana. . .??” Ucap-ku saat membuka mata dengan kepala-ku yang masih terasa pusing.
Aku pun secara spontan saat itu ingin beranjak dari kasur tempat Aku terbaring. Dan karena ada Papah dan Mamah-ku yang sedang menunggu-ku untuk siuman, mereka pun langsung menahan tubuh-ku yang ingin memaksakan untuk tegap.
“Sudah Alfa sudah. . ., Tubuh Kamu masih lemas. . ., Kamu istirahat yang cukup dulu.” Ucap Mamah pada-ku dengan wajah khawatir-nya.
Tidak ada sedikitpun Aku memikirkan diri-ku sendiri yang padahal saat itu sedang merasa sangat sakit dengan kepala yang juga masih terasa sedikit pusing karena kejadian semalam karena, Aku benar – benar mencemaskan Beta.
Karena sejak mata Aku terbuka secara tanpa sadar Aku sudah berada dirumah sakit, Aku belum melihat Beta. Aku pun langsung menanyakan hal tersebut kepada Mamah dan Papah yang sedang menjaga-ku.