Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #28

Jangan pernah meragukan-ku.

Setelah Aku melihat keadaan Beta yang benar – benar sangat membuat-ku terpukul, Aku benar – benar sangat membenci diri-ku sendiri. Kejadian semalam yang membuat Aku dan Beta mengalami kecelakan itu karena ulah-ku. Kalau saja Aku tidak mengajak-nya bercanda karena kesenangan yang tidak bisa terbendung lagi di hati-ku, mungkin saja semua ini tidak terjadi. Kecelakaan yang membuat Beta harus sampai kehilangan salah satu kaki-nya.

Selain Aku tidak bisa menahan rasa sakit karena harus melihat Beta yang sampai kehilangan salah satu kaki-nya, Aku pun juga merasakan ketakutan lain. Aku merasa takut akan hal yang terjadi setelah Beta siuman dari tidur-nya. Sudah kupastikan Beta sangatlah akan membenci-ku yang telah menjadi dalang kecelakaan semalam.

Dan hal itu harus Aku hadapi walaupun sebenarnya Aku tidak siap disaat Beta akan membenci-ku. Bagaimana Aku bisa siap dengan hal tersebut?, sedangkan Beta adalah wanita yang selama ini Aku perjuangkan. Sejak Aku mendekati-nya, Aku sampai lebih mengutamakan kebahagiaan Beta jika dibandingkan kebahagiaan diri-ku sendiri. Dan tidak dalam waktu yang lama, yaitu hanya menunggu waktu Beta membuka mata-nya kembali, dan melihat keadaan diri-nya, disaat itulah Aku di usir dari dalam hati-nya.

Saat itu Aku menjadi orang yang paling egois di dunia ini. Karena, Aku berharap waktu berhenti untuk selamanya dan tidak berjalan lagi. Jika waktu berhenti, maka kehidupan seluruh makhluk di langit dan di bumi pun berhenti, termasuk kehidupan-ku dan Beta. Tapi, jika waktu terus berjalan dan pada akhirnya Beta terbangun untuk membenci-ku, di saat itulah kehidupan-ku terhenti.

Karena, baru saja Aku mengetahui atas tujuan apa Aku dilahirkan di dunia ini. Tetapi, alasan yang Aku tahu atas tugas apa Aku terlahir di dunia, semua itu sudah berakhir. Bagaiman Aku bisa menjaga Beta sedangkan, Ia membenci-ku. Mungkin Aku bisa tetap menjaga Beta jikalaupun Ia akan membenci-ku dengan seiring berjalannya waktu. Tapi, Aku tidak bisa terus menjaga Beta namun pada akhirnya, Ia tidak dalam satu ikatan batin dengan-ku.

* * *

Tiap detik di pungut oleh sang waktu menjadi hitungan menit, dan tiap menit dikumpulkan menjadi hitungan Jam. Dan tidak lama lagi sepertinya Beta akan terbangun dari tidur-nya itu. Tidur-nya itu yang Aku sangat yakin mengalami mimpi yang sangat teramat buruk. Karena, disaat Ia terbangun Ia harus melihat ada bagian tubuh-nya yang hilang.

Dan setelah 1 hari Aku menunggu sesuatu yang sebenarnya sangat Aku takutkan, hal itu pun akhirnya tiba. Aku mendapat kabar dari Papah dan Mamah-ku, bahwasanya Dokter mengabarkan pada mereka tentang keadaan Beta yang sudah terbangun dari mimpi buruk-nya.

Saat mendengar bahwa kabar kekasih-ku sudah sadar, perasaan-ku tercampur aduk dan menjadi satu kesatuan fikiran yang berbuah kegelisahan. Aku senang karena Beta sudah sadar dan sudah dalam tahap pemulihan. Tapi Aku gelisah tentang kebencian Beta pada-ku yang sudah berada tepat di hadapan-ku. Jujur karena terlalu takut Aku mengahadapi semua itu, Aku pun kembali di selimuti oleh jiwa pengecut-ku yang semakin mendominasi saat itu. Aku justru memutuskan hanya menuliskan surat dan Aku meminta Papah untuk mengirimkannya pada Beta.

Akan tetapi, disaat Aku memberikan surat itu pada Papah dan memintanya untuk memberikan pada Beta, Papah justru sangat amat marah pada-ku.

“Heii Alfa. . . !!!, Apa – apaan kamu ini?!?” Ucap Papah dengan lemparan surat yang telah Aku berikan pada-nya.

Entah apa yang Papah marahkan pada-ku saat itu. Tapi yang Aku tahu, Papah marah disaat Aku tidak ingin menemui Beta. Dan saat Papah marah dengan lemparan surat yang Aku berikan pada-nya itu, Papah pun lanjut berkata pada-ku. Kata – kata yang membuat Aku ingin menemui Beta.

“Apa yang terjadi pada-mu Alfa ?!?” Ucap Papah secara tegas dengan tangan-nya yang mengoyakkan bahu-ku.

“Alfa tidak tahu Pah. Yang Alfa rasain sekarang cuman rasa takut dan tidak ingin menemui Beta.” Ucap-ku dengan tatapan yang kosong dan hampa.

“Heii Alfaa dengar !!, Lihat ke arah Papah!!, Kalau memang benar kamu mencintai-nya, Kamu tidak akan mungkin tega untuk Ia merasakan penderitaan itu sendiri!!!” Tutur Papah dengan kedua tangannya mencengkram kepala-ku.

Lihat selengkapnya