Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #29

Kehancuran yang benar - benar hancur

Disaat Aku telah meyakin-kan bahwa Beta sudah benar – benar tertidur, Aku pun langsung segera berdiri untuk kembali ke kamar-ku. Namun perasaan-ku atas ucapan-nya sebelum Ia tidur, benar – benar membuat-ku terpukul.

“Klaaakk. . .” (Suara Aku yang menutup pintu kamar rawat Beta).

“Hiks. . . Hiks. . . Hiks. . .” (Suara tangisan-ku dibalik tembok tepat sebelah pintu kamar rawat Beta).

“Bettaa. . ., Kenapa ini harus terjadi pada-mu juga!!!!” Ucap-ku dengan ringkikan tangis-ku.

“Tuhaaann. . ., Apa salah Dia. . .!!!, Mengapa harus Dia yang yang Engkau hukum seperti itu?!?” Ucap-ku dengan tangisan yang semakin menjadi saat itu, dengan tangan-ku yang Aku hantamankan ke tembok.

“Maafkan Aku Beta. . . Maafkaan Aku. . .!!!” Ucap-ku dalam tangisan yang terpojok di tembok rumah sakit.

Tidak kuasa Aku harus melihat Beta dengan keadaan seperti itu. Bukan karena Aku tidak menerima keadaan-nya dengan hanya satu kaki saja. Aku akan menerima Ia apa adanya walaupun, Ia tidak mempunyai tangan atau kaki sama sekali.

Yang Aku tidak sanggup adalah disaat Aku harus melihat Ia nantinya menjalani kehidupan dengan cara yang tidak seperti biasanya lagi. Ia pasti sangat kesulitan untuk berjalan dengan satu kaki, dan mengharuskan-nya menggunakan tongkat atau kursi roda.

Aku tidak sanggup disat adalah teman lain yang mengejek-nya karena hanya mempunyai satu kaki. Saat itu nantinya Beta pasti akan sangat merasa terpukul dan tidak menutup kemungkinan akan merasakan depresi.

Dan tentu saja itu karena kebodohan-ku.

* * *

Setelah kurang lebih 1 minggu Aku dan Beta di rawat dirumah sakit, Aku dan Beta pun di izin-kan untuk pulang kerumah. Dan saat Aku pulang kerumah, dirumah pun ketakutan-ku semakin menjadi – jadi tentang atas apa yang Aku fikirkan sebelumnya pada kehidupan Beta.

Fikiran yang membuat-ku benar – benar tidak enak untuk menyantap makanan. Bayangan ketakutan yang membuat-ku tidak ingin melakukan apapun selain Aku hanya ingin berada di samping Beta dan menemani-nya.

Karena itu, jika dibandingkan harus makan, Aku lebih memilih untuk tidur agar waktu tidak terasa berlalu menjadi esok. Dan Aku bisa kembali ke sekolah untuk bertemu dengan Beta.

Lihat selengkapnya