Alfa Beta

Rizky Ade Putra
Chapter #31

Janji adalah hutang, dan hutang harus di bayar.

Sesampainya dirumah, Aku pun menjadi terfikirkan tentang atas apa sebenarnya Beta tidak masuk sekolah juga. Saat fikiran-ku di kebuli oleh tanda tanya yang semuanya tentang Beta, Aku pun memutuskan untuk mandi agar sedikit lebih tenang.

Dan benar saja, saat setelah mandi, fikiran-ku menjadi sedikit lebih tenang dan dingin. Walaupun, tentu masih sedikit fikiran sebelumnya tersisa di kepala-ku, dan memancing untuk berfikir lebih lanjut.

Bahkan, Aku percaya esok hari Beta akan masuk sekolah seperti biasa, dan duduk bersebelahan dengan-ku. Dan saat fikiran-ku menjadi kenyataan, Aku pun tidak akan meninggalkan-nya walaupun saat jam istirahat sekolah diberikan. Untuk membuktikan apakah itu benar atau tidak, Aku pun akhirnya memutuskan untuk tidak tidur terlalu larut malam. Tentu saja hal tersebut Aku lakukan agar waktu lebih terasa cepat berlalu.

* * *

Esok hari pun tiba, seperti biasanya Aku berangkat dan pergi menuju ke sekolah di pagi hari untuk mengisi kepala-ku dengan berbagai ilmu pengetahuan. Namun kali itu, Aku kembali berangkat ke sekolah sendirian. Karena memang, motor-ku yang rusak, sudah selesai diperbaiki dan bisa Aku gunakan kembali. Jadi kali itu, Mang Bari kembali menjadi supir pribadi Mamah.

Setibanya Aku di sekolah, ternyata apa yang Aku fikirkan dan Aku ingin ternyata. Beta ternyata belum juga masuk sekolah untuk belajar bersama – sama dengan-ku lagi. Sejak Beta tidak masuk sekolah usai tragedi kecelakaan yang menimpa Aku dan Beta, belum terulang kembali hal – hal romantis antara Aku dan Dia.

Saat Aku terduduk di kursi sendirian tanpa Beta yang seharusnya menjadi teman sebangku-ku, Aku pun mulai tidak bisa fokus dengan pembelajaran-ku. Sesekali Aku melihat ke arah bangku tempat biasa Beta duduk di sebelah-ku, yang membuat perasaan-ku berbicara sendiri.

“Beta, Aku rindu seperti dulu, Aku ingin melihat wajah bingung-mu saat waktu pelajaran berlangsung. Aku rindu mengganggu-mu saat mata dan otak-mu sedang sibuk melihat dan memikirkan coretan kapur.” Ucap-ku dalam hati dengan tangan yang Aku letakkan di kursi Beta.

Aku benar – benar sangat merindu pada semua hal konyol, hal konyol yang selalu Aku lakukan pada-nya saat di kelas. “Aku rindu Beta. . ., Aku rindu. . .!!” Merontah kata hati-ku setiap kenangan yang terlintas di kepala-ku.

Lihat selengkapnya