Setelah saat Mamah dan Aku mengambil rapot di sekolah, Aku dan Mamah pun akhirnya pulang kembali kerumah. Dan Mamah juga harus memperlihatkan hasil rapot yang berisikan nilai – nilai Aku itu pada Papah juga. Dan setelah sampai dirumah, Mamah pun tidak menyuruh-ku atau Mamah sendiri yang menyimpan rapot-ku. Tapi, Mamah meletakkannya di atas meja makan, agar Papah langsung melihat sesaat pulang dari kantor.
Dan setelah Papah pulang dan juga melihat hasil rapot-ku, Papah pun memutuskan besoklah hari dimana mereka menepati janji-nya. Terlebih lagi memang setelah pengambilan rapot sekolah-ku meliburkan seluruh murid.
Esok hari pun tiba, Papah, Mamah dan Aku pun langsung menuju rumah Beta. Yaa. . , kesepakatan antar Aku dengan Papah dan Mamah adalah Beta. Maksudnya adalah, Aku membuat kesepakatan pada Papah dan Mamah, apabila Aku mendapatkan nilai yang mereka inginkan, Aku meminta mereka untuk berlibur dan mengajak Beta juga. Oleh karena itulah, saat setelah Aku membuktikan nilai yang Aku dapatkan, Papah dan Mamah-ku datang kerumah Beta untuk meminta izin kepada Ayah Beta untuk mengajak anak-nya itu pergi berlibur bersama keluarga-ku.
Kedatangan Papah dan Mamah-ku saat dirumah Beta pun di sambut hangat oleh Ayah Beta yang memang ternyata sudah menjadi bawaan lahir mempunyai wajah cuek. Tapi ternyata, itu hanyalah cover-nya saja, tidak demikian sifat pribadinya yang justru malah sebaliknya.
Setelah beberapa lama Aku menjalin kedekatan dan hubungan dengan Beta, Aku baru tahu kalau Ayah Beta mempunyai sifat yang sangat bersahabat. Karena sebelumnya Aku sangat takut jika harus seorang diri menemui Ayah Beta untuk mencoba pendekatan emosional. Dan setelah Aku melihat pribadi Ayah Beta saat sedang berbicara dengan Papah dan Mamah-ku, Aku pun menjadi berani dan tidak sungkan – sungkan untuk mengajak-nya berbicara lain waktu, walaupun hanya seorang diri.
Dan setelah Papah dan Mamah-ku meminta izin kepada Ayah Beta untuk mengajak Beta berlibur bersama kami, dan Ayah Beta pun mengizinkan, Papah dan Mamah pun memberitahukan bahwa Kami akan pergi berlibur dalam waktu 3 hari setelah Papah dan Mamah mendapatkan izin dari Ayah Beta. Dan waktu liburan kami pun juga tidak terlalu lama, yaitu hanya 3 hari 2 malam saja.
Karena ide liburan tersebut berasal dari permintaan-ku, jadi Papah dan Mamah pun juga menyerahkan pada-ku tentang ingin berlibur kemana kami nanti. Tentu saja karena memang Aku yang meminta, Aku sudah memikirkan dengan bertanya pada teman – teman kelas-ku tentang tempat atau daerah mana yang bagus untuk berlibur.
Akhirnya, setelah Aku bertanya pada beberapa teman di kelas-ku tentang dimana tempat atau kota yang paling bagus untuk dijadikan destinasi liburan, Aku memilih untuk pergi ke pulau Sumba. Sebuah pulau yang kata teman-ku memiliki pantai dengan pemandangan yang sangat menyegerkan setiap mata yang menikmatinya. Pulau yang terletak di wilayah Sumba Barat, provinsi Nusa Tenggara Timur. Dan untuk lokasi tempat yang ingin Aku bawa Beta ialah, sebuah pantai di pulang Sumba yang bernama, Pantai Nihiwatu.
Dan perihal Beta sendiri yang Kami ajak untuk berlibur, Beta pun juga menerima-nya dengan senang hati. Karena ternyata, Beta juga sangat merindukan waktu berdua bersama-ku setelah 1 minggu saat UTS di sekolah-ku berlangsung, Aku tidak menjenguk-nya. Dan Aku juga semakin yakin kalau ternyata alasan Beta tidak datang ke sekolah adalah karena Ia malu.
Sebab, disaat Papah, Mamah dan Aku mengajak-nya berlibur, dengan senang hati Ia terima. Karena memang, disana tidak ada orang yang mengenal-nya selain Aku, Papah, dan Mamah yang tentu saja menerima-nya dengan keadaan Ia yang tidak lagi sempurna, dan tentu saja juga tidak akan mengejek keadaan-nya.
* * *
3 hari waktu berlalu setelah Papah dan Mamah meminta izin kepada Ayah Beta untuk mengajak Beta berlibur bersama Kami, akhirnya waktu itu pun tiba. Yang dimana dalam waktu yang tidak lama lagi, Aku akan mengajak Beta ke sebuah pantai dan menikmati kembaran-nya di dunia ini.
Dengan jarak yang semakin jauh dari tempat asal Kami, Beta tidak pernah melepaskan tangan-ku dari genggaman tangan-nya yang senantiasi mencengkram tangan-ku dengan kuat. Dan saat itu Aku benar – benar merasakan rasa takut dari dalam diri Beta akan tidak ingin jauh atau bahkan kehilangan diri-ku.
Dan saat sesampai-nya di pulau Sumba dengan menaiki kapal laut. Kami pun terlebih dahulu beristirahat di sebuah villa yang telah Papah dan Mamah sewa sementara untuk kami, selama Kami berlibur disana.
Jika saat sampai dipulau tersebut Papah, Mamah, dan Beta merasa lelah karena perjalan Kami cukup jauh dan melelahkan, Papah, Mamah, dan Beta pun memilih istirahat. Sedangkan Aku, Aku justru tidak sabar menyambung sang Tuan rembulan, yang akan menjadi saksi bisu antara kenangan Aku dan Beta. Tapi karena Aku berfikir, Aku tidak ingin menyia – nyiakan saat waktu malam tiba nanti, Aku pun juga memilih untuk beristirahat agar malam mata-ku bisa menatap Rembulan sampai tugas-nya digantikan kembali oleh Sang Fajar.
Kami sampai disana pada waktu siang menjelang sore, dan setelah Kami beristirahat dalam waktu kurang lebih 5 jam sampai malam tiba, Kami pun memulai acara liburan kami.
Dengan Kami membakar Ikan, Ayam, Jagung, dan meminum air buah kelapa yang langsung diambilkan oleh penjual disana dari pohonnya langsung, membuat suasana menjadi semakin asri dan menyatu dengan alam. Ditambah dengan suara deruh ombak kecil, dan terpaan angin yang benar – benar membuat siapapun teduh hatinya.
Dan saat waktu sudah terlalu malam, Papah dan Mamah pun sudah merasakan kantuk dan mereka memilih kembali ke tempat penginapan, yang jarak-nya tidak jauh dari pesisir pantai untuk beristirahat. Disaat Papah dan Mamah kembali ke tempat penginapan, Aku pun mengajak Beta untuk menikmati lagi malam yang sangat sayang untuk dilewatkan.
“Beta. . ., Mau berjalan – jalan sebentar saja?” Ucap-ku pada Beta yang menggunakan kursi roda.