Saat itu, malam terasa sangat begitu indah sekali, dengan tanpa adanya gangguan dari siapapun selain, bisikan angin yang datang dari arah laut, dan bersamaan dengan gemericik ombak. Bisikan yang seolah menggoda kemesraan-ku yang mungkin tidak ada tandingannya dengan Beta saat itu.
Malam yang membuat-ku pada saat itu benar – benar meminta kepada Tuan Rembulan untuk membujuk manja Sang Fajar agar tidak kembali lagi. Siapapun yang melihat kemesraan-ku dengan Beta, tentu saja akan merasa iri hanti. Pohon kelapa pun mungkin akan menjatuhkan buah-nya yang keras tepat di atas kepala-ku apabila, Ia melihat kemesraan-ku dengan Beta pada saat itu. Namun, untung saja Ia sudah terlalu tumbuh menjulang tinggi, dan karena malam hari yang terlalu gelap, membuat-nya tidak bisa melihat-ku yang berada dibawah.
“Beta. . .” Ucap-ku pada Beta yang berada di pangkuan-ku.
“Yaa Alfa?, ada apa?” Tanya Beta atas ucap-ku.
“Kamu tahu?, Terkadang hidup manusia ini seperti pohon kelapa.” Ungkap-ku pada Beta.
“Lohh maksudnya apa?, Aku tidak mengerti.” Jawab Beta dengan wajah yang terheran.
“Iyaa, terkadang manusia terlalu sibuk melihat ke arah atas. Sedangkan, terlalu banyak hal indah yang ada dibawah-nya, tapi Ia tidak lihat dan malah melewatkannya begitu saja.”
Saat Aku berkata – kata sedikit tentang kehidupan itu, Beta tidak menanggapi-nya. Padahal, sudah pasti Ia mendengar ucapan-ku karena, Ia terduduk di atas pangkuan-ku, walaupun suara ombak laut saat itu mencoba membuat gaduh. Walaupun Beta tidak menanggapi ucapan-ku dengan suara, tapi Beta hanya menatap-ku dan memindah kepala-nya dari bahu menjadi tepa di atas dada-ku.
Dan lalu Beta pun seketika memanggil-ku dengan lirih, “Alfa.” Ucap Beta yang bersandar di atas pangkuan-ku.
“Yaa Beta?, ada apa?” Tanya-ku dengan Aku yang sembari memainkan rambut-nya.
“Kamu ingat ucapan-mu pada-ku saat dikelas?” Tanya Beta.
“Ucapan-ku??, Ucapan-ku yang mana?” Jawab dan tanya-ku pada Beta dengan Aku yang berusaha mengingat.