Pada saat Beta meninggalkan-ku pergi, hal yang paling Aku benci adalah, mengapa Beta langsung tidak ingin menemui-ku yang setidak-nya untuk berpamitan. Karena, Aku ingin meminta-nya untuk berjanji pada-ku, seberapapun jarak memisahkan, tapi cinta-ku dan-nya tidak akan bisa di hilangkan. Setidak-nya juga berikan Aku satu alasan saja, mengapa Ia tega melakukan hal seperti itu pada-ku.
Dengan perasaan hati-ku yang seketika seperti sebuah aquarium indah dengan air yang tenang, dan dengan berbagai hiasan yang membuatnya menjadi cantik. Seketika Air itu terkuras habis karena retakan yang di akibatkan benturan yang entah kenapa menabrak aquarium itu. Dan mengakibatkan, Ikan di dalam-nya mati karena kehabisan air yang menjadi oksigen untuk-nya.
Dan seperti itulah keadaan-ku saat itu, dengan Aku yang menjadi Ikan nya, Beta menjadi air nya, dan perpisahan yang menghancurkan-nya.
Aku sangat yakin sekali jika Beta sebenarnya juga tidak ingin pergi meninggalkan-ku, saat setelah banyak kenangan manis nan indah memenuhi buku harian Kami. Tapi Beta juga tidak bisa jika tidak mengikuti kemana pun Ayah-nya pergi. Karena memang hanya Ayah Beta, harta yang paling berharga, yang masih Beta miliki. Dan setelah memikirkan hal tersebut dengan Aku yang bertengkar dengan Ego-ku sendiri, memang sangat egosi sekali rasanya jika Aku memaksa Beta untuk menetap dan tidak mengikuti Ayah-nya.
Akhirnya, Beta pun pergi tanpa pamit dengan-ku untuk mengucap-kan sebuah kata atau janji sebelum berpisah. Dan Aku?, Aku yang menjalani hari – hari seperti biasa, tanpa Beta yang membuat hari – hariku menjadi lebih berwarna.
* * *
Dan tibalah suatu waktu dimana saat Aku sedang menonton televisi di rumah-ku. Aku melihat menonton suatu acara siaran berita yang memberitakan bahwa ada sebuah kecelakaan pesawat Dengan rute perjalanan Jakarta - Ruteng
Saat Aku melihat berita tersebut, awal-nya Aku biasa – biasa saja dan tidak terfikirkan yang tidak – tidak. Tapi, disaat Aku mengingat kembali kemana Ayah Beta pergi untuk mengurus bisnis-nya yang bertempatkan di kota Ruteng itu, Aku baru tersadar dan dibuat syok. Karena, pesawat tersebut adalah pesawat yang digunakan oleh Beta dan Ayah-nya untuk pergi ke Ruteng, NTT.
Aku benar – benar syok saat melihat acara berita yang membawa kabar sangat buruk pada-ku kala itu. Dan dengan sigap, Aku pun langsung berlari keluar, dan mencari Mang Bari untuk coba menghantarkan-ku. Untuk Aku benar – benar memastikan apakah benar pesawat tersebut terdapat Beta dan Ayah-nya.
“Betaa. . , Mang Bari. . ., Mang Bari . . .!!!” Teriak-ku dengan lari yang sangat panik, dan memanggil Mang Bari.
Dan saat Aku berlarian memanggil Mang Bari dari dalam rumah, Aku pun tidak sengaja, hampir menabrak Bibi Mery yang sedang membawa beberapa gelas Air untuk Mang Bari, dan membuat Bibi Mery terkaget dan Air yang sedang Ia bawa itu pun mengguyur wajah-ku.
“Byuurrrr. . .” (Suara Air yang membasahi wajah-ku).
Dan saat Air yang sedang dibawakan oleh Bibi Mery itu terguyur seluruh-nya ke wajah-ku, seketika itu pun Aku terbangun dengan teriakan.
“Betaaaaa. . .!!!” Teriak-ku yang terbangun dari tidur-ku.