•••
Di lapangan Ikada Kota Jakarta, kau bisa melihat bangunan kokoh berwarna putih gading, di atasnya taburan emas meleleh, menguncup bagaikan bunga keabadian.
Kami sering menyebut bangunan tinggi itu dengan sebutan Monas, Monumen Nasional yang terbentang mengindahkan langit-langit cerah Kota Jakarta tercinta.
Serangkaian manusia yang mengaduk-aduk kota terlihat sama seperti semut, mereka berpijak pada bumi beraromakan hidrokarbon alam yang meliuk-liuk mirip ular.
Setiap hari, atau tidak setiap hari, mereka berkeliaran mencari penghasilan, berbicara soal bisnis, politik ekonomi, perpajakan negara dan mengoleksi uang recehan untuk barang kesukaan. Termasuk bertahan hidup dengan keahlian diri sendiri, hidup di dalam sebuah kota megah menjadi dua pribumi dengan gelar strata yang berbeda, pengusaha atau kemiskinan merajalela.
Wacana dalam cuaca kali ini begitu amburadul, kota terbanjir-banjir, terowongan tak bisa dibuat pemukiman, atau bahkan pakaian akan lepek beberapa menit terkena semburan air yang turun dari langit, seperti menumpahkan luapan muntah awan-awan yang menggantung.
Putih tak lagi putih, abu-abu tampak kegelapan, hitam menjadi hitam jelaga. Karena setiap hujan, warna baju akan terlihat baru. Begitulah kota yang telah dibersihkan dari asap knalpot, dosa-dosa akan tercelup dengan banjirnya lelehan air langit yang berejakulasi.
Kali ini secangkir kopi pahit telah membuka satu kalimat sapaan terhangat setelah nyanyian kesedihan. Tak ada bukti, tetapi ada salah satu bukti penangkal mantra ketika hujan tak reda-reda di kota yang tersihir bangunan-bangunan setinggi raksasa. Bukti mantranya hanya satu, menerima hujan, bila perlu amankan barang bawaan yang akan dilalap hujan, carilah pintu ke mana saja agar tak kehujanan.
Di Jakarta, semua penduduk telah menjadi pribumi yang terbiasa, terbiasa melakukannya sendiri, mengulangi kegiatan yang sama setiap hari, membiarkan kebiasaan hingga bosan, banyak kebisingan dan di mana terlalu banyak keadaan yang diulang. Kalau dipikir-pikir aku bukan paranormal.
Aku hanya seorang laki-laki berambut panjang setelinga, berkacamata, kurus kering, pipi berlesung, dan memiliki tato bulet dari lahir di tengah-tengah lengan kiri.
Jika dipandang dari dekat warnanya akan berwarna biru gelap. Aku manusia, berstatus mahasiswa semester lima yang masih mencari jati diri, kalau perlu, tak usah mencari gara-gara dengan manusia berpangkat dosen.
Tetapi untuk kali ini, masih ada seorang dosen bernama Pak Negoro Suwiryo yang tidak bisa di nego jika hak dan kewajibannya tidak dipenuhi, akan ada banyak yang dimutilasi, contohnya nilaiku yang terancam menjadi warna kuning cerah yaitu, C aminor D minor ke C lagi. Sungguh, itu bukanlah nyanyian, ok.
Dari sekian kata untuk Pak Negoro adalah disiplin, dia dosen anti penyogokan dan memiliki banyak haters, aku tentu bukanlah haters, atau bukan pula fans naifnya.
Hanya saja, beliau sering menganggap kami para mahasiswa adalah fans tercintanya. Tentu, aku menjadi seorang yang berpura-pura menggilainya demi nilai istimewa di sebuah jurusan yang dikenal bernama musik dan sastra.
“Fungsinya untuk menyaring nada, balik ke diatonis mayor! Sebebal itu haluanmu.”
Biasanya omelan sekonyong-konyongnya tentang salah nada kira-kira seperti itu, di setiap praktikum musik berlangsung. Seluasnya dan sehalus caranya mengajar, menyenangkan. (Tidak juga)