•••
Berbicara tentang pendapat lama, dunia seorang musisi tidak jauh dari kecanduan membuat lagu. Di atas meja Kafe Bioncha, dekat jendela, aku menaruh buku musik, beberapa alat tulis yang aku gunakan untuk menghapus tone nada yang salah.
Lalu, digenggamanku sendiri ada satu buah gitar, baru beberapa hari ini menemani, gitar akustik yang sempat sekarat dan dibawa ke tukang loak.
Bukan karena aku tidak mampu beli gitar baru, bukan karena juga aku mengirit biaya. Beneran, bukan!
Lagipula gitar ini bukanlah keramat, tidak ada jampi-jampinya sama sekali, apalagi jadi barang kuno, atau bukan juga gitar heroes dari game yang sering dimainkan oleh Awal, teman sekelasku.
Tapi, ada satu hal yang sulit untuk aku sebutkan, tetapi pada intinya gitar bertubuh kurus dan sering dibawa ke tukang itu adalah pemberian dari ibuku tercinta.
Ya, aku pertahankan gitar yang sudah menemani setidaknya bukan setahun, dua tahun. Dia, gitarnya, aku panggil Marni, telah menemaniku berbelas tahunan. Pernah beberapa kali aku lupa meninggalkan Marni di dalam kelas, sampai aku tanya petugas kelas dengan menyebut nama Marni.
“Kamu tau Marniku ke mana? Aku lupa tinggalin dia di dalam kelas.”
“Udah pada pulang, Bang.”
“Si Marni ngga punya kaki, dia udah aku pakaikan baju hitam. Beneran engga lihat Marni?”
“Ngga! Sumpah, Bang.”
“Itu tadi aku duduk di tengah-tengah. Si Marni senderan di bawah, tapi pas aku ke sini ngga ada lagi si Marni.”
“Abang nanyain Marni mana si? Saya nggak lihat ada yang namanya Marni di kelas Abang, kayanya Abang salah orang deh. Ngelindur siang-siang.”
“Sumpah si Marninya aku yang paling bahenol itu habis dimaninin kok, malah dimainin beramai-ramai. Suwer!”
“Ha?”
“Lho aku serius! Itu lho, Marni gitarku, yang paling bahenol. Sudah aku pakaikan bajunya.”
Begitu yang namanya mis komunikasi! Alhasil dari kejadian itu aku mengatakan gitarku dengan sebutan si gitar Marni. Biar orang-orang gak menganggap aneh si Marni.
Aku juga merasa ada yang salah dalam nada bicaraku waktu itu, ngotot sekali, seolah si Marni ini adalah cewe bahenol. Orang-orang pun akhirnya tahu Marni adalah gitar lama kesayanganku. Jika aku lupa, aku bisa tanya pada petugas dengan menyebut satu nama, Marni, dengan bebas. Mereka kini sudah paham.
Tapi pada sore yang basah ini, di dalam sebuah Kafe Bioncha yang ramai dengan beragam orang-orang menikmati gurauan dan canda, telah hadir di depanku seorang perempuan asing, dia telah memberitahu namanya padaku, namanya sangat cantik, Tsania Agarta.
Dia duduk tanpa aku paksa, menceritakan buku berjudul ‘Apa Kabar Jakarta’, mengesampingkan jika aku ini orang buruk rupa dan dia adalah si princess cantik sejagat raya. Tidak ada bedanya dengan dia duduk di samping tempat yang ada kubangan kotornya, kan?