Alfathan Khairo: A Broken Message

Wafa Nabila
Chapter #3

Do You Want To Be My Friend?

•••

Akhirnya laki-laki itu mengangguk dan berjalan ke arah meja bar. Aku perhatikan dari atas sampai bawah, wajahnya pun cukup lumayan dibandingkan diriku.

Lalu, kenapa perempuan ini lebih memilih untuk memandang ke arahku di saat sedang memesan pesanannya. Laki-laki itu enak dilihat, umur pun sudah cukup matang, keprawakannya dewasa, ramah, dan setidaknya bukan hanya seorang wanita saja yang bisa menilai laki-laki ganteng di Ibu Kota Jakarta.

“Kapan kamu memetik gitarnya kalau sejak tadi menilai dia?” tanya Tsania mengalihkan topik.

Kegamangan setelah memesan kopi tampak pada kami. Aku terkesiap, Marni yang kugenggam tadi langsung kuelus badannya.

Aku cari lirik lagu yang pas buat dimainkan saat ini, beberapa lagu yang aku karang sepertinya lebih mirip kuburan. Krik .. Krik .. Aku pun pilih salah satu lagu dan siap-siap pada tangga nada.

“Even though I’m flawed, with a face full of cursed love,

I finally come to realize,

That I only want to be myself.

It’s a small plea .., if you’d like to stay ...”

Namun sebelum kupindahkan cordnya, Tsania bersuara.

“Aku boleh tanya, gak?” Dia memandang mataku lekat-lekat, aku berhenti sejenak dan mengangguk meski tidak mengerti mengapa dia memberhentikan lagunya yang baru saja intro.

“Lagunya buat pacar kamu?”

“Oh, bukan.”

“Kalau boleh tahu, itu buat siapa?” tanya Tsania. Ternyata laguku diperhatikan, biasanya yang mendengar laguku ini akan cuek bebek.

“Gak buat siapa-siapa. Cuma, waktu proses pembuatan lagu Let me go ini, aku gak sengaja dengar orang pacaran berantem di dalam kereta. Mungkin waktu itu juga aku lagi mengalami keinginan untuk menciptakan lagu.”

Tsania mengangguk-angguk dengan rambutnya yang perlahan-lahan mengering. Tubuhnya seperti menggigil, dia kedinginan.

Udara di dalam kafe memang lebih dingin, dua Ac tidak dimatikan oleh pemilik ataupun pelayan di sini, itu artinya Tsania butuh jaket untuk menghangatkan badannya yang ringkih terkena hujan, rambutnya yang basah kini hampir mengering.

Dengan naluri seorang laki-laki, aku beranikan untuk mengambil jaket jeans bututku di dalam tas. Kuberikan padanya, toh jika ditolak, tidak mengapa, cuma malu mau taruh mukaku di mana.

“Maaf, jaketku gak sekeren apa yang orang-orang pakai,” kataku sembari menaruh jaketnya di atas meja.

Tsania mengambil jaket, lalu dipakainya tanpa malu, dia benar-benar menceloskan kedua tangannya ke dalam jaket. Aku merasa lega, seolah telah diterima Tsania. Hehe.

“Terima kasih,” kata Tsania.

“Sama-sama,” jawabku pelan. Dia tersenyum.

“Alfa, aku mau usul.”

Lihat selengkapnya