Alfathan Khairo: A Broken Message

Wafa Nabila
Chapter #4

Soal Ibu dan Ocehannya.

•••

Jika aku sedang sendirian, aku sering bertanya dengan pertanyaan sederhana setiap hari. Entah itu pada langit, awan, burung terbang, kucing lewat, nyanyian anjing, kikikan babi dan sebangsanya sambil menghadap langit Kota Jakarta yang tak memiliki banyak bintang.

Begitu jauh bintang digapai, mereka tak bisa hidup di sebuah kota yang banyak knalpotnya. Sebanyak itu aku bertanya, sebanyak itu pula aku mendapatkan jawaban yang hanya dihasilkan nyanyian hujan, atau angin yang menerbangkan awan sewarna daging kelapa.

Aku terlahir bukan untuk menjadi seorang penanya, hanya saja hidup ini yang membuatku menjadi seorang penanya. Tak ada melodi yang hidup di dalam diriku meski demikian setiap lagu terputar di telinga, masih tetap terdengar sepi, tenang, sekaligus merasa sendiri di sebuah jurang kematian.

Karena aku percaya bahwa jiwaku menetas sebagai sosok pengecut di antara manusia bumi. Sungguh membosankan gaya hidup manusia bernama Alfa, ya.

“Jika hidupku menikung tajam, gak ada turunan, gak ada roda, aku pasti kayak orang sakit jiwa. Mirip televisi abu-abu, menghilang warna baju baru, menjadi apa kelak aku kalau aku masih hidup lebih dari lima puluh tahun.”

“Kalau aku mati, siapa yang membawa jenazahku? Dengan gaya apa aku ke rumah Tuhan? Melompat-lompat atau terbang di atas awan. Mungkin aku akan memakai dasi, malam kembang, lalu menutup peti sendiri untuk pelepasan, biar aku tenang sendiri.”

Di mana pun aku katakan hal ini, semestinya jawaban itu ada, apa pun jawabannya, aku ingin semua jawaban itu tercipta dari mulut manusia sungguhan, bukan dari jawaban kucing yang mengeong, gonggongan dari anjing atau bunyi kentutku yang melepes.

Lagipula, aku bukanlah seorang yang suci, tetapi bukanlah seorang yang juga ingin menjadi kotor. Ada setidaknya beberapa persen yang masih aku percayai tentang dosa di kepala, katakanlah lima puluh banding lima puluh. Tentang perbuatan apa yang menjadi dosa itu.

Banyak kematian-kematian yang terjadi karena kelalaian diri sendiri, perbuatan diri sendiri; mabuk misalnya, adalah pilihan seseorang jika masalahnya masih terbebankan di pundak, akan menghisap sesuatu yang semestinya dilarang.

Dua benda yang tak pernah habis masanya, tak akan lenyap dari predaran udara, di setiap rumah atau tidak di setiap rumah, akan ada satu kepala yang memakainya, atau mencobanya, atau menjadi peredarnya.

Seperti apa yang terjadi di keluargaku, terbilang baru menjadi pemakai barang haram, digiring menjadi penikmat hingga sebagai penyantap.

Dan tepatnya dua minggu lalu, Artaya Khairo bebas dari penjara, sekarang dia sedang duduk di seberang menyantap makan pagi.

Kami sedang di meja makan, tidak hanya berdua, di sebelahnya juga ada seseorang laki-laki paruh baya, yaitu ayahku yang di mana ayah Arta juga.

Kami kumpul bertiga, tak bisa dikatakan lengkap, tetapi inilah yang terjadi. Setiap hari di meja makan kami bertiga atau tidak bertiga.

Kadang aku hanya sendirian, tidak ada Arta karena dia baru bebas. Tidak juga Ayah yang sibuk mencari nafkah. Aku terbiasa menjadi orang yang biasa, menjadi anak patuh bahkan selalu dianggap menjadi orang yang lugu.

“Alfa!”

Suara Ayah terdengar di antara bunyinya sendok. Aku berhenti menatap makanan dan memandangnya.

“Bagaimana kabar si Brianna?” tanya Ayah. Aku terdiam sebentar, melirik Arta yang juga ikut mendengarkan.

“Baik, tapi minggu ini saya belum berkunjung. Kalau saya main, mau bilang apa Ayah?” tanyaku.

“Cepat mati,” jawab Ayah. Aku tersentak hingga sendok terjatuh ke atas piring. Suara gaduh pelan tercipta beberapa saat.

Lihat selengkapnya