•••
“Kamu tadi bagus, sumpah. Itu benar lagu kamu, Al? Ah! Kayanya lagu sedekahan itu.”
Hampir aku terjatuh dengar ocehan Awal, padahal tidak ada yang menarik. Aku tatap Awal, kami di kelas, sudah mata kuliah yang kedua dan hampir jam tiga.
“Soalnya tadi saat ambil nilai, yang di atas panggung tuh seperti bukan kamu. Pak Anwar yang tadinya mau nilai kamu Delta, berubah jadi Babi. Keren ngga sih?”
“Haha ..., keren-keren kok, Wal,” kataku terkekeh karena maksud Awal adalah nilai B.
“Lho serius, Pak Anwar itu pelit nilai lho, kamu beruntung banget hari ini.” Aku nyengir nyinyir.
“Dewi, kamu tau Dewi nggak, Al?”
“Tau, yang kamu bilang suka ngejek aku di belakang, kan?”
“Dia ngomongin kamu juga.”
“Omongnya apa?”
“Keren. Kamu dianggap laki-laki.”
“Lho memangnya aku bukan laki-laki?”
“Laki-laki, tapi masih kaya putri malu. Eh, kalau sekarang kamu laki-laki menyenangkan dan Super Mario sekali!”
“Kamu kira aku game?”
Awal terkekeh tanpa suara.
“Itu kata Dewi, bukan kataku, Al.” Dia menjaga jarak sedikit karena kami tampak diawasi.
“Secara tidak sadar kamu mengiyakan kata-kata Dewi,” ujarku berbisik.
“Iya, sih, emang bener.” Serempak kami terkekeh tanpa suara.
Di mata kuliah yang serba teoritis ini, aku tidak pernah mengatakan hal apa pun selain bosan. Bahkan kami hanya satu atau dua kali praktik, semisal membuat grup untuk sebuah orkestra.
Dan pastinya di mana pun itu, aku tetap bersama Awal. Entah itu kelompok biasa, atau kelompok besar yang berisi banyak nada. Sehingga setelah matakuliah usai banyak yang menyumpel telinga dengan cemilan manusia; gosip atau jalan-jalan ke Florida, kantinnya Mpok Ida.
••
Di jalan yang seramai ini, aku mengingat waktu yang berputar membalik. Tentang Ayah yang mengolesi balsam ke pinggangnya, mengeluh soal politik ekonomi yang sering naik turun, katanya inflasi di Indonesia begitu hampir terancam. Nilai uang seperti nilai daun yang berguguran.
Sementara Ibu telah hampir berkeinginan menjual-belikan saham, atau menukar-tambah emas untuk kehidupan kami yang akan datang.
Kalau Arta, dia termaksud manusia jahil sepertiku walaupun aku sendiri sudah bertaubat untuk menjadi anak Ibu saja. Kata Ibu kalau kami tidak mematuhinya bukanlah anak kesayangan Ibu.
Tapi dipemikiran Arta berbeda. Dia menyebut kenakalannya adalah sumber kasih sayang, karena setiap omelan adalah bentuk kasih sayang seorang Ibu, walau tidak disadari setiap manusia. Seperti teori miliknya yang sok puitis dan terlalu berlebihan.
“Sebelum matahari timbul dari barat, pastinya setelah itu dunia akan ikut oleng mirip kapal pesiar yang terkena karang di tengah laut. Dari tubrukan itu akan menghasilkan meteoranit, mereka terbakar dan jatuh menembus awan, lalu mencium bumi. Itu yang dinamakan kiamat. Aku engga mau hidupku kiamat duluan Al, mau disayang Ibu,” kata Arta waktu itu dan aku pura-pura mules pamit ke kamar mandi.
Di dalam gang kecil yang aku masuki, ada banyak anak kecil sebenarnya, mereka berlari-lari di gang sempit yang hanya bisa di lalui pejalan kaki, mungkin satu motor bisa masuk, kecuali berputar arah.