Alfathan Khairo: A Broken Message

Wafa Nabila
Chapter #6

Arta Mabuk!

•••

Lima hari ini aku tinggalkan kebiasaan merokok, bisa dibilang ada keperluan pribadi yang mendadak. Biasanya tak banyak pikiran pun beberapa batang rokok telah habis terkunyah. Kini untuk sementara waktu aku cuma menjadi pengunyah cokelat.

Aku terlalu sering bersama Awal menghabiskan waktu di kantin, pergi hang out ke Plaza, main time zone, nonton teater, membahas hal ringan atau kalau sedang serius kami membahas tugas kuliah. Lebih terlihat banyak cerita di sini, seperti kebiasaan Awal yang mengoceh tentang dunianya, tentang keluarganya, pacarnya atau tentang kesukaannya. Tentu tidak berbau fiktif seperti di depan Deswita.

“Itu lho, aku benar-benar gak tahu mau ngomong apa, dua tahun dibikin galau,” kata Awal tak habis pikir. Kami sedang duduk di atas jembatan penyebrang, melihati mobil, dan motor di bawah sana yang melintas. Kaki kami menyelos dari celah-celah pilar.

“Dibuat galau sama siapa? Pacar kamu, Wal? Yaudah sih, banyak yang cantik.”

“Nggak ini beda, aku pernah dibuat galau penuh penyesalan. Saat aku ingin cium cewekku, udah nyosor gitu, aku ditampar, lalu diputusi. Selama dua tahun penuh aku merasa jadi makhluk penuh dosa, bejat gitu istilahnya. Terus tahu-tahu aku dapat kabar kalau dia sudah tek-dung duluan sama pacarnya yang baru.” Awal lalu tertawa, tetapi kemudian berubah sendu.

“Aku nggak tahu kudu ngakak atau nangis, Al. Kegalauanku merasa jadi makhluk biadab selama dua tahun ini terasa sia-sia.”

Aku langsung tertawa terpingkal-pingkal menggantikan Awal yang sudah berkedut-kedut bibirnya, lalu menepuk jidat berkali-kali. Logat Awal itu lho yang aku ketawakan. Logat Jawa tapi tidak pantas pada wajahnya yang ke bule-bulean. Kalau ditegaskan mungkin aku dan dia mirip kopi susu. Aku tentu yang kopi, butek.

“Suruh dia panggil kamu, Wal.”

“Biar apa?” bingung Awal.

“Biar dia merasa bersalah sama kamu. Kalau bergitu kan kamu nggak malu-maluin banget.” Awal tertawa sambil manggut-manggut.

“Dia pikir, habis kucium itu akan hamil, haha. Tapi, dia malah beneran hamil, dong.” Awal tertawa garing, kerutannya kini terasa memudar, matanya kembali memandang wajahku yang sedang diam, menikmati makanan ringan yang dibeli di pedagang.

“Aku jadi sedih dengarnya ya,” kata Awal kemudian. “Anaknya nanti nggak punya nama ayahnya. Kalau diolok-olok gitu kasihan. Gimana masa depannya, ya?”

“Perhatian banget, Wal. Masih cinta kamu, ya?”

“Nggaklah, wong aku diputusi, haha.”

Kemudian Awal tertawa kembali. Aku ikut-ikutan dengan posisi mataku menghadap ke depan, ke jalan trotoar yang tiba-tiba ramai dari gang. Aku menatap keramaian itu. Orang-orang di bawah sana berkumpul, ada dua atau tiga orang yang sedang ribut. Mereka berteriak-teriak, menyuarakan kebun binatang.

Dari sini mereka semua terlihat kecil, wajah mereka tidak bisa aku lihat dengan jelas, blur seperti kamera. Karena keadaan aku yang tidak memakai kacamata. Setelah Awal meredakan suara tawanya, dia menepuk-nepuk bahuku dengan keras.

“Al, Alfa! Ata!” katanya terdengar panik.

Aku menoleh ke Awal, bingung dengan suara kepanikannya, juga dia telah menyebut nama Arta.

“Ata di bawah. Itu yang pakai baju belang-belang, dia mabok!” teriak Awal yang sudah berdiri dari duduknya, makanannya tumpah saat dia berdiri. Dengan panik dia menarik kerah bajuku hingga aku ikut berdiri.

Setelah Awal mengatakan Arta di bawah, dengan posisi mabuk, aku langsung berlari mendahului Awal. Secepat mungkin meninggalkan dirinya yang ada di belakang. Berlari menuruni tangga dan menghampiri keramaian. Aku melesak memasuki keramaian itu, menyelak mereka. Aku lihat Arta, dia sudah babak belur. Dua orang yang dipisahkan pun ikut terlihat babak belur.

Aku tatap Arta, dia telah membiru dengan mata belernya. Tidak ada wajah penyesalan setelah kepergok olehku, dia hanya tersenyum dan mengangkat tangan kanannya, memberikan jari tengah padaku sambil tertawa dengan garis kerutan di pipinya.

Di dalam mataku yang hitam pekat, Arta bukanlah Arta. Memang dari dulu Arta tidak pernah dinyatakan layak menjadi manusia normal, dia tetap seorang yang berandal.

Aku tak menjelekan dirinya, bila ternyata wajah Arta menjadi biru, bukan kali pertama aku melihatnya begitu. Mungkin sudah puluhan kali, bahkan setiap dirinya terkena omongan Ayah, aku tetap menjaganya sebagaimana dia adikku satu-satunya.

Lihat selengkapnya