Alfathan Khairo: A Broken Message

Wafa Nabila
Chapter #7

Pintu Kenangannya Dibuka.


“Hoooy! Aku boleh masuk, gak?”

Terdengar menyentak di antara sepi rumahku, Awal terlihat panik saat suara perempuan menyadarkan keheningan kami. Sementara aku terdiam, beberapa detik seperti orang cengo. Suara itu mirip orang yang aku kenal.

“Tsania!” kejutku saat tiba-tiba perempuan itu memasuki rumah, dia langsung masuk ke dalam rumah memandang ke arah kami yang tengah di sofa.

Kami, aku dan Awal, seperti tercelup di ribuan jarum, diam saling memandang, hingga Tsania mengeluarkan suara.

“Aku udah beberapa kali pencet bel, tapi gak ada yang jawab.”

“Belnya mati,” balasku.

“Oh, yaudah aku masuk ke sini, karena aku pikir kalian lagi ada di dalam kamar. Aku boleh masuk, kan?”

“Sejak tadi kamu udah masuk, Tsania,” jawabku. Dia nyengir lebar.

“Al, dia siapa?” tanya Awal kebingungan.

“Dia cewek, namanya Tsania.”

“Kamu pacarnya Alfa, Tsania?” tanya Awal ke Tsania. Aku menendang kaki Awal, tetapi yang terkena adalah kaki meja. Suara gaduh benturan pada meja menggema ke ruangan. Awal terkikik sambil menghindar, dia berdiri menyambut Tsania.

“Aku Awal, temannya Alfa.” Tangannya menggantung di atas udara.

“Aku Tsania, temannya Alfa, belum jadi pacarnya. Kalian berteman akrab?” tanya Tsania membalasnya.

“Iya, kami akrab,” balas Awal kikuk setelah mendengar jawaban Tsania, aku ikut diam tanpa mengedip.

“Alfa, kenapa kamu tadi pergi gitu aja? Padahal aku tanya di sana. Itu saudara kamu?” Tsania duduk di atas sofa lain sebelum dipersilakan duduk.

Tidak ada suara setelah Tsania berbicara, baik aku maupun Awal hanya diam memandang wajah Tsania yang tertutup topi bulat, setelah duduk, Tsania membuka topi.

“Aku ikuti kamu, naik ojek tadi,” kata Tsania lagi mirip laporan. “Kenapa kamu gak kirim pesan ke aku, aku udah tunggu.”

“Woy, kamu ditanya tuh, Al. Jangan diam aja,” bisik Awal.

“Nggak apa-apa, aku cuma ....”

“Cuma apa? Kamu pasti takut aku mikir yang gak-gak, ya? Pikiran macam apa itu. Anggapanmu buruk,” potong Tsania menghela napas kasar.

“Aku ke sini khawatir, liat keadaan dia. Tadi waktu aku lagi lewati gang, tiba-tiba dia dicegah oleh dua laki-laki.” Tsania menjelaskan kronologinya dengan menunjuk Arta.

“Mereka berbicara panjang lebar, aku gak bisa dengar perbincangan mereka karena mereka terlalu dekat, gak ada jarak, dan ternyata salah satu orang itu memukul lelaki ini di bagian pipi. Aku kaget dong, ingin tolong dia, tapi aku takut. Aku cuma bisa panik. Setelah itu mereka berkelahi lagi mirip orang kesetanan.”

“Kamu nggak tahu, ya? Mereka berkelahi dalam keadaan mabuk?” tanya Awal.

“Aku nggak tahu, tapi mungkin iya, karena dia ini ...,”

“Ata,” potongku sebentar.

Lihat selengkapnya