Alfathan Khairo: A Broken Message

Wafa Nabila
Chapter #8

Kepingan

Kali ini Tsania duduk di kursi menghadap piano, kedua tangannya mengangkat ke atas dan memegang tuts-tuts. Dia memainkan lagu klasik milik Westlife–Beautiful in white, yang sering aku dengar di tempat-tempat pernikahan, begitu lamban, diputaran kedua dia memainkan lagu dengan sedang, hingga putaran ketiga dentingan piano mengalunkan ritme yang cepat dengan nada tak beraturan.

Di dalam keramaian itu, duniaku seperti kaca, pantulan-pantulan masa lalu terlalu menghasut kedua mataku dengan seorang anak yang tergelak oleh permainannya.

Di sana ada dua manusia yang tiba-tiba tubuhnya menyusut, bedanya kedua mataku menangkap dua orang bocah laki-laki yang tak sanggup menapakan kakinya ke lantai, mereka riang, nada yang mereka mainkan begitu riweuh, acak-acakan.

Kedua bocah itu adalah Arta dan diriku sendiri di masa lalu yang masih gembira dengan tone nada, tidak punya beban pikiran yang menumpuk, bercerita mengisi kekosongan dengan lagu.

Arta menggapai nada rendah, ia duduk menaikan satu kakinya ke atas, sementara aku mengambil nada tinggi di sebelah kirinya. Lagu favorit kami banyak, tak bisa disebut satu persatu. Tapi, seiring kaki kami mulai bisa menapak, lagu Andantein F Major, Ode To Joy—menjadi favorit kami. Atau lagu Richard Clayderman pun yang berjudul Love Story sangat apik.

Di masa yang sekarang, aku tak mendengar alunan lagu pernikahan itu lagi, tak ada nada yang terdengar, hanya ada sepi, keheningan dan tampak wajah Tsania sedang menatap kedua tangannya yang gemetar.

Ia telah menghentikan permainan pianonya, seperti menyadari satu kesalahan sehingga wajahnya memandang wajahku begitu dalam, tatapannya terlihat sendu dan kosong.

“Kamu kenapa, Tsania?” tanya Awal yang ternyata sejak tadi ikut menikmati lagunya.

Tsania menggeleng, menyembunyikan tangannya. Ia bangkit dan berlari ke arah pintu, melewatiku begitu saja. Aku dan Awal saling berpandangan, sama-sama saling bertanya, aku tarik tubuhku dari dinding, berjalan tergesa-gesa ke arah pintu, mencari Tsania di ruang tengah.

“Tsania pulang?” tanya Awal.

“Kurang tahu.”

“Kamu apain dia, Al?”

“Aku nggak ngapa-ngapain dia. Cuma berdiri bersandar di tembok. Kan kamu sendiri liat dia habis bebenah ruangan itu.”

“Tapi kulihat tangannya gemetar, Al.”

“Mungkin belum makan.”

“Gak gitu juga, sih. Kamu gak mau kejar dia?”

“Buat apa, Wal.”

“Bodoh! Kejar perempuan itu sana, tanya ada apa. Kamu terlalu lama menjomlo sih, jadi gak punya hati. Kalau dia belum makan, ya ajak dia makan. Jangan gak dikasih makan,” seru Awal mendorong tubuhku.

“Gih,” katanya.

Di dalam film-film sinema sepertinya memang asik untuk berlari-lari dan saling mengejar satu sama lain, sama halnya menciptakan gerak, terlebih di film action yang aku lihat tata caranya, itu juga bisa menyebabkan cidera, patah tulang.

Namun manusia tetap menjalankannya, menjadi aktor, stand man, atau menjadi manusia purba pun mereka tetap berperan, sampai muncul di teve. Hasil dari visual serta gerakannya terlihat sangat keren, menantang.

Lihat selengkapnya