Alfathan Khairo: A Broken Message

Wafa Nabila
Chapter #9

Tsania Agarta.

•••

“Film Aronofsky yang rekomended apa?” tanya Tsania di hari berikutnya, kebetulan kami sedang berada di sebuah tempat perbelanjaan.

Tsania tidak mencari baju, aku juga tidak berpikir ke sana saat Tsania mengajakku main, walau sebenarnya Tsania menyebutnya kencan, bukan main atau jalan-jalan.

Dan aku ditarik ke sebuah tempat kaset, matanya sudah berbinar-binar saat tiba-tiba kami melihat tukang kaset, maka aku yakin Tsania adalah maniak film.

“Paling bagusnya kalau aku, Requiem for a Dream, sih.”

“Aku kira kamu nggak tahu dia, haha. Aku udah nonton itu.”

“Tahu kok, apa ya satunya, yang agak reliji ya. Dune atau apa itu. The Fountain aja sih, tapi saya belum nonton, katanya bagus. Pi juga lumayan.”

“The fountain, Hugh Jackman, ya? Belum.”

“Engga tahu sih. Oh ya, udah pernah coba filmnya Gaspar Noe?”

“Engga tahu aku juga hmm ... Coba satu judul apa aja deh yang aku belum tonton,” kata Tsania akhirnya menyilangkan kedua tangannya dan menaik-turunkan alis.

Enter The Void, itu highly recommended. Ceritanya soal drugs yang bisa menghasilkan hormon yang sama seperti keluar saat kita mati.”

“Oke, on pursuit.”

Kadang apa yang aku katakan menjadi apa yang dia pilih, mungkin juga tidak jika dia kurang menyukai, seperti halnya main time zone setelah mencari kaset, aku menawarkan untuk permainan itu, sayangnya Tsania menolak, dia lebih memilih untuk mencari tempat lain.

Di waktu berikutnya kami bertemu kembali, tidak di pusat perbelanjaan, tidak jalan-jalan, dia mengunjungi kampusku. Berdiri di teras kelas, menungguku untuk keluar kelas, yang di mana kelasku berada di lantai dua. Aku terkejut bagaimana dia bisa mengetahui kelasku, dan jurusanku. Tsania mirip penguntit.

“Eh, aku ketiduran tadi. Sebentar banget. Terus mimpi ketindihan,” kata Tsania menyapa dengan kalimat anehnya.

Tidak mengatakan sapaan yang bernada biasa: halo, apa kabar, dan sebagai macam lainnya.

“Itu mimpi apa ketindihan, sih?” katanya lagi. Wajahnya asem dan muka bantal, memang kelihatan habis bangun tidur.

“Kamu pakai totem macam apa, Tsania?” tanya Awal, dia kali ini ikut bersamaku dan Tsania, pergi ke kantin.

Tsania merenungi pemikirannya sembari memijat-mijat kepala. Sebelah otaknya mungkin sedang konsleting.

“Urgensinya apa kalau kamu bisa memastikan itu mimpi ketindihan, Tsania,” kataku mengalihkan kalimat Awal yang kurang dimengerti perempuan ini.

“Oh, aku coba baca-baca doa. Yang keluar malah suara seram, berat lagi kaya suara hantu. Seperti nyata.”

“Nah, coba kamu pakai totem. Mungkin kamu Lucid dream,” balasku.

“Totem apa sih?” tanya Tsania garuk-garuk telinga, dia terlihat polos saat baru bangun seperti itu.

“Benda kepercayaan sih. Totemku kartu joker, kalau dilempar nggak jatuh. Atau coba kamu cari koin, puter-puter. Kalau sampai Alfa cukur kumis belum berhenti muter, berarti kamu di limbo—tempat orang-orang yang terbuang,” jelas Awal.

Hampir aku menjatuhkan pandangan seram ke Awal, dia tiba-tiba saja mengaitkan putar koin dengan kumisku, padahal baru sedikit yang tumbuh, itu pun belum kelihatan.

Awal nyengir nyinyir menatapku, lain halnya Tsania mengangguk-angguk seolah percaya dengan kalimat Awal.

Lihat selengkapnya