•••
Ada kesenangan Ayah kalau sedang bersama-sama di ruang tengah yang ramai, dia membiarkan anak-anaknya gaduh dan juga membiarkan Ibu mengeluh. Kepalanya akan mengangguk-angguk dan mengayunkan kedua tangannya ke atas dan ke bawah sembari matanya menutup. Ayah sedang menata tangga nada di kepalanya, mengabsen satu-satu suara kami hingga dirinya tertidur nyenyak.
Di setiap kami sedang bersama-sama, Ayah selalu menyetel lagu kesedihan cinta-Kreisler yang diaransemenkan oleh Rachmaninoff, alunan lagu telah membuat dirinya bisa mengubah mood dengan sangat baik.
Ibu juga suka menyetelnya ketika mereka sedang bertengkar atau menyetel lagu milik Johann Strauss yang di mana The Beautiful Blue Danube menjadi kebanggaannya, dan Ayah akan meminta maaf pada Ibu dengan mengajak Ibu berdansa, mengelilingi ruang tamu sehingga melupakan aku dan Arta.
Ayah adalah seorang pianis, dulu sebelum akhirnya menjadi seorang supervisor di perusahaan swasta, mengabdikan hari tuanya di luar rumah. Tak seperti halnya masa lalu, kini Ayah telah berubah, tak pernah mencari Ibu yang sebenarnya tak ke mana-mana, Ibu ada di sebuah tempat yang ramai, bersama teman-temannya bercengkrama.
Ayah telah merancang pikirannya menjadi salah satu robot yang aku sebut sebagai mesin, selanjutnya mesin-mesin itu perlahan membuat manusia punah, terlalu bersifat ini membunuh itu.
Contohnya sms membunuh surat pos, sms menjadi jalur promo provider dan seorang penipu, kamera ponsel membunuh kios afduk foto, membunuh roll film, membunuh, membunuh, dan membunuh.
Akan selalu ada yang terbunuh di hadapan teknologi dan akan selalu ada yang Ayah hilangkan dikebiasaan lama, tidak menanti Ibu karena satu hal itu telah menjadi kepingan yang membuat Ayah perlahan memudarkan kenangannya.
“Begitu berubahnya ya, keluarga kamu. Ibu kamu itu cantik lho,” kata Tsania yang tiba-tiba menjadikanku sadar.
Aku telah bercerita tentang Ayah pada Tsania. Kami memang sekarang berteman, baru beberapa minggu, sedang jalan-jalan, entah dengan maksud apa ia mencegahku di kampus. Menarikku untuk meminta jalan-jalan. Katanya dia bosan, aku akhirnya merelakan jam mata kuliah yang seharusnya praktikum di teater.
Dia meminta aku untuk pergi ke tempat yang tak pernah dia tahu, bukan sebuah tempat rekreasi, taman bermain kanak-kanak, atau tempat peribadatan. Dia meminta untuk bertemu Ibu. Dan di sini kami, di sebuah taman, memandang Ibu yang sedang bercengkrama dengan teman-temannya.
Saat ini Tsania tak banyak bercerita, dia hanya berkata; terus, apalagi? ohh habis itu, kok bisa! Masa sih?! Lanjutin, Fa! Seperti halnya tertarik dengan apa yang aku katakan, kalau aku boleh jujur, aku mendapatkan teman yang super cerwet ya hanya Tsania, dia anak yang terlalu banyak ingin tahu. Eh, Awal juga terkadang begitu.
“Tapi Ayah kamu itu nggak galak, buktinya kamu nggak digigit. Ayah kamu hanya mau menjadi apa yang dia ingin, mungkin karena dia menghukum dirinya sendiri, atau hanya ingin pura-pura menyibuki dirinya sendiri,” kata Tsania menarik kesimpulan.
“Mungkin,” jawabku.
“Boleh aku ketemu sama Ibu kamu?” tanya Tsania.
“Boleh,” balasku kaku.
Dia tersenyum dengan gigi-giginya yang terlihat. Beranjak dari kursi taman, dia lantas menghampiri Ibu yang sedang bercerita dengan teman-temannya.
Aku dengar dia memberikan salam kepada Ibu, lalu tidak terdengar lagi suara cemprengnya, hanya suara samar-samar tawa sekaligus ucapan selamat, dan semua tertuju pada wajahku yang sedang memandangi mereka. Ibu tersenyum hangat ke aku, senyumnya terlihat lebih manusiawi ketimang sebulan lalu, mirip sosiopat.
“Kurus, bisa jadi gak banyak yang dikonsumsi. Perutnya hanya menelan apa yang dia mau, kopi, berbungkus-bungkus rokok kretek. Dan banyak-banyakin nonton video porno sampai punya empat mata, dua mata asli, dan kacamata.”
Aku dengar ibu ngomong begitu, padahal aku berdiri di hadapannya, duduk menatap kedua orang yang tiba-tiba menjadi sangat akrab. Ibu kelihatan sangat senang ada Tsania.
“Satu lagi, Bu,” kata Tsania. Ibu antusias menunggu kalimatnya. “Suka ngemilin hujan,” katanya lagi. Ibu terkekeh, menepuk punggung tangan Tsania.
“Dia dari dulu nggak suka ngemilin hujan, cuma sering bertanya sama Ibu, kenapa kita nggak pindah ke Planetarium, biar bisa lihat bulan dari dekat. Atau bikin negara sendiri di atas langit jangan di Jakarta mulu, bosan.”
“Lho, hahaha! Planetarium kan, Jakarta juga.”
“Planetarium luar kota maksudnya, nggak mau yang ada di Jakarta.”
“Emangnya kenapa, Bu? Kok Alfa nggak suka di Jakarta.”
“Mau jadi anak pedalaman dia, yang pakainya koteka saja. Kamu tahu nggak?”
“Tahu-tahu, Bu.”
“Nah, Alfa maunya ke pedalaman, biar bisa menelur katanya.”
“Ibu!” protesku tiba-tiba, malu mendengar kalimat Ibu walau sebenarnya memang itulah kalimat yang sering aku katakan, kecuali nonton video porno.