Tsania menatapku dengan pandangan terkejut, beberapa detik matanya tak mengedip. Lalu ia menatap ke papan yang terpampang di atas rumah besar di depan kami, papan yang bertuliskan Panti Jompo Asih Bunda dan menghasilkan kegamangan karena Marni ikut diam, sampai kami pergi dari panti, bersalaman sama Ibu, kami pulang tanpa cerita Tsania.
“Kamu dari mana, Al?”
Suara Ayah terdengar di antara suara Arta yang sedang main gamebot di ruang tengah. Wajah Ayah terlihat lelah dengan pakaian biasanya tanpa embel-embel kantor. Pada pukul delapan aku sampai di rumah, mengantarkan Tsania terlebih dulu sampai dekat persimpangan karena ia tidak mau di antar sampai rumahnya Andi, ingin aku paksa, namun Tsania juga ikut memaksa.
“Dari tengok Ibu,” jawabku duduk di samping Arta.
“Oh, bagus deh. Brianna gimana?” tanya Ayah lagi.
“Sering banyak ngomongin saya aja.” Ayah mengangguk.
“Ngga tanya Ayah?”
“Ngga tuh. Kata Ibu, nggak perlu ada yang Ibu tanyain tentang Ayah. Soalnya Ibu ngga pernah lihat Ayah berkunjung.”
“Itu Brianna yang ngomong?”
“Bukan, saya yang ngomong tadi.” Aku lihat Ayah menghela napas kesal, sementara aku terkekeh tanpa suara.
“Ibu kurus, Al?” tanya Arta tiba-tiba.
“Nggak, Ibu makin gendut dan bobotnya semakin berat, beliau sehat. Sering senyum aja. Kalau kamu mau ke sana silakan, Ibu sudah tunggu kamu. Sudah tahu juga kalau kamu keluar dari penjara.”
Di detik itu juga suasana menjadi hening, tak ada kalimat yang terlontar dari Ayah, apalagi dari Arta. Mereka menghindari kontak mata langsung denganku. Saat aku ingin beranjak dari sofa, Ayah mulai menatap pergerakanku.
“Ruangan dekat pintu belakang kenapa jadi bersih, Al.”
“Ada manusia dari Kendal yang bersihkan ruangan itu. Bukan saya.”
“Siapa?”
“Ya, manusia.”
••