•••
“Al, Tsania datang tuh. Aku tinggal ya, kali aja kepalamu jadi dingin lagi main sama dia,” ujar Awal.
Memang aku lihat Tsania datang sendirian dengan topi bundarnya yang berbeda, kali ini dia lebih terlihat feminin, memakai rok biru laut, baju putih dan tas gemblok putih gading.
Bodoh sekali aku tidak menyadari Tsania datang, dia sudah berada di depan mataku melambai-lambaikan tangannya, senyum tercipta begitu teduh, dengan matanya yang terselip eye shadow biru.
“Aku lihat di depan sana ada Festival Odoru Jepang.”
“Terus kamu lapor?” tanyaku dengan maksud mimik wajah yang tidak senang. Aku hanya membutuhkan ketenangan jika sudah seperti ini, walau akhirnya aku akan menyakiti hati Tsania.
“Aku cuma minta ditelaktir ke sana, banyak anak remaja yang datang.”
“Nggak perlu dijelaskan, aku hari ini sibuk.”
“Sibuk dengan merenung di atas kursi? Menghitung domba? Mengoleksi stiker tajos?”
“Hari ini aku pulang sore.”
“Dengan alasan yang sebanyak itu, pulang sore menjadi batu di sini. Aku lihat mading, kelas kamu kosong gak ada materi.”
“Aku mau bertemu dengan pacarku kalau begitu.”
Antara menghardik dan menghentikan keinginan Sarah, saya menekankan kalimat yang tidak seharusnya saya ucapkan. Namun wajah Sarah tidak berubah, dia tersenyum.
“Untuk membohongi diri aja kamu nggak bisa, sini kuajarkan bagaimana akting sungguhan. Tadi kalimatmu itu kurang efektif. Sini kupinjam logatmu, mari dengarkan aku berakting.”
Tsania berdehem, dia duduk di sampingku dengan menaruh tas ranselnya di paha, wajahnya terlihat gembira. Aku tidak bisa menghentikan kekonyolan Tsania, hari ini ia sangat memaksa.
“Aku lagi sibuk, nggak ingin diganggu! Jangan, pokoknya jangan. Kalau kamu pingin ganggu, buatin aja perjanjian jam kunjungan. Aku orang sibuk, dan aku punya pacar. Pacarku manusia, punya dua tangan, dua kaki, enam mata; dua mata kaki, dua mata asli, kacamata baca. Kalau berjalan prok-prok-prok ...,” kata Tsania tertawa geli, dengan logatnya yang tercampur itu aku jadi ikut tertawa, walau sebenarnya mood-ku sedang jelek.
“Jadi kalau berjalan ada suara kakinya ya,” komentarku.