“Kamu stres, Al?” Telingaku menangkap suara Arta yang sedang menikmati kudapan yang ada di atas perutnya, posisinya tiduran di sofa dengan memakai celana pendek coklat bata, kaus oblong ketat.
“Aku cuma bingung,” balasku.
“Kenapa bingung, putus cinta?”
“Nggak, aku belum pacaran. Cuma lagi bingung aja kenapa aku ngambil fakultas musik,” balasku mencari topik lain selain Tsania. Arta melirik dan menyeringai.
“Itu karena kamu masih mencintai kebiasaan lama. Seandainya aku jadi kamu, aku nggak peduli musik itu apa.”
“Sekarang pun kamu juga nggak peduli, Ta.”
“Kalau kamu lihatnya kaya gitu, ya berarti aku sukses.”
“Sukses buat Ibu jadi sakit, Ta. Kenapa kamu kemarin mabuk-mabukan lagi? Masih kurang hidup di penjara dengan gelar tahanan?” Arta tertawa, cemilannya tumpah sebagian.
“Masih mending aku udah punya gelar, kamu mana? Nggak kelar-kelar tuh gelar dari beberapa tahun yang lalu. Al, kalau kamu nggak tahu apa-apa tutup mulut aja, jangan membegokan diri sendiri dengan analisis kepalamu yang terlalu gampang ditebak.”
“Terus, kalau begitu karena kenapa?” tanyaku lagi.
Arta menaruh kudapannya di meja, dia menyilangkan kakinya di atas sofa. Hampir aku tak mengedip, Arta sok pura-pura menjadi wanita, dia bersikap non formal terhadapku dengan mengedepankan dada, memamerkan paha.
“Aku, hampir diperkosa,” jawab Arta, lalu dia tertawa membahana.
“Nggak lucu.”
“Tapi itu serius. Aku hampir ditelanjangi di depan umum, sebelum ditelanjangi sih, aku diberi minum. Minumannya memabukan, untung bukan racun. Lalu, aku dibawa ke gang-gang sepi.”
“Kamu tahu siapa yang mau menelanjangi kamu?”
“Tau, bos besar di kaki lima. Dia nggak suka aku keluar penjara. Soalnya ada manusia yang suka sama aku yang di mana manusia itu harusnya nikah sama si bos kaki lima. Sinetron banget, ya.”
Lihat bagaimana cara Arta membicarakan seseorang dengan kalimat manusianya. Dia sama seperti aku yang memakai bahasa aneh. Tidak bermaksud mengubah kalimat. Dan Arta menjelaskannya dengan sopan jika wataknya tidak bebal dan keras kepala.
“Nggak juga, terus si manusia tau kalau kamu dikeroyok?”
“Nggak tahulah. Kalau tau pun aku enggak mau dia cape-cape mohon sama si bos. Soalnya manusia bernama perempuan itu lemah, tapi juga kuat. Aku jadi iri, tapi nggak mau jadi perempuan juga. Aku cuma menganggumi kekuatannya aja sih, karena kamu tahu,” ucap Arta terhenti, matanya menerawang sebentar ke atas meja.
“Tahu apa?” tanyaku penasaran bagaimana menurut dia perempuan itu.
“Tahu ... Ibu kuat sama Ayah. Tapi aku yang lebih tau Ibu pura-pura kuat sama Ayah.” Arta menatap wajahku, kami diam.
“Iya kan, Ibu kuat sama Ayah?” tanya Arta meminta kepastian.