Alfathan Khairo: A Broken Message

Wafa Nabila
Chapter #14

Kompetisi.

•••

10 tahun lalu ...


“Kalian pikir juara dua itu adalah orang hebat! Kalian masih harus berlatih, dan khususnya kamu, Artaya!”

“Kami sudah lelah, Yah. Biarkan kami istirahat,” kataku melerai. Ayah masih menyudutkan kami, lebih tepatnya menyudutkan Arta kecil.

“Kamu keliru nada, Ata! Empat kali. Tempo di bagian keempat, keenam, dan kesepuluh juga keliru semua, padahal Ayah sudah menyuruh kamu untuk mengikuti partiturnya, sini kamu!” Ayah menggapai lengan Arta kecil, dia menatap tajam dengan mimik wajahnya menyeramkan.

Aku berdiri dari duduk, melihat keduanya berhadapan. Ayah meremas bahu Arta kecil dengan kasar sehingga Arta kecil meringis ketakutan. Ayah memegang stik konduktor, menusuk-nusukan ujungnya pada lengan Arta kecil.

“Kamu lima tahun masih keliru tangga nada, kenapa kamu masih keliru? Tanganmu menghilang? Enggak, kan.” Sesekali Ayah menampar stik konduktor itu pada kedua tangan Arta kecil. Arta kecil bahkan hanya bisa mengaduh dan kesakitan.

“Ayah, sudah,” leraiku.

“Diam kamu, Alfa! Ata jawab Ayah!” teriak Ayah. Arta kecil menunduk lalu menatap wajah Ayah dengan air matanya yang mengalir, mulutnya bergetar.

“Aku ..., gugup, Ayah.”

“Gugup? Berkali-kali kamu tampil, masih gugup. Ta, Ayah sangat malu. Reputasi Ayah di hadapan teman-teman menurun, mereka semua datang.” Ayah mengguncang-guncangkan tubuh Arta kecil.

Aku berada di antara mereka, bermaksud melerai. Namun Ayah tetap menyudutkan Arta kecil, sementara ia menyuruhku untuk menjauh dari sana. Ayah mendorong tubuhku sehingga dorongan itu menyebabkan aku terhempas dan jatuh terlentang.

Arta kecil menangis di tempatnya, memanggil-manggil namaku, dan Ayah tetap menghajar Arta kecil habis-habisan dengan kalimatnya yang sarkas. Membunuh satu persatu sifat Arta kecil yang tenang.

Cukup bagiku mendengar suara Ayah yang kian lama meninggi. Sampai aku tidak mampu mengendalikan keadaan, aku ikut meneriaki kalimat yang tak semestinya.

Beginikah cara orang dewasa memperlakukan anaknya?! Kalau memang begitu aku tidak ingin menjadi dewasa, walau menjadi dewasa adalah kutukan setiap manusia.

Suasana di sekitar pun terasa sepi, hening, tak ada tangisan Arta kecil, dia telah berhenti untuk menangis, juga tak ada suara makian dari Ayah. Karena sesungguhnya Ayah telah diam memandangiku dan tangannya.

Kami bertiga, menjadi dinding tebal yang terlalu kokoh. Terlalu kaku, tak ada pergerakan lain selain dari Arta yang mengambil lengan Ayah, menaruhnya di atas bahu yang bergetar akibat tangis.

Entah sejak kapan aku ikut menangis, membuat kacamataku berembun dan memburam penuh butiran air. Arta memegang tangan Ayah yang sedang memegang stik konduktornya dan menaruh di pipinya. Kejadian ini terulang tanpa suara dari mulut Ayah, tanpa kalimat lerai dariku, hanya ada suara tangis dari kami yang bergantian.

“Ayah, masih ingat bagaimana tamparan itu? Bagaimana mengayunkan tangan Ayah dengan baik, begini caranya, Yah. Begini!”

Lihat selengkapnya