“Lho, nggak tahu, kan pengaruh dari permainan kamu yang kemarin lagu Beethoven diganti jadi lagu ulang tahun itu.”
“Kenapa aku lolos, Wal!” kataku lagi masih tidak percaya. Awal mengerutkan kening.
“Kamu jangan pingsan di sini, Al.”
“Bukan ingin pingsan aku, Wal. Tapi aku mau protes, kenapa aku masuk nominasi. Ikut seleksi aja aku hancur lebur, kenapa bisa masuk ikut lomba, ini ngawur abis, sumpah! Pak Resto nggak mungkin kan budek dengar lagu yang aku mainkan.”
“Mungkin Pak Resto dengar lagu yang kamu mainin karena ingat anaknya yang ulang tahun,” balas Awal mengedikkan bahu. Aku menepuk bahu Awal dan menyuruhnya minggir. Aku berjalan menjauhi mading.
“Dia nggak mungkin budek, Wal. Dan kompetisi pun enggak mungkin akan asal-asal pilih. Karena ini bawa nama kampus, kalau kontestannya jelek, pastinya akreditasi kampus jadi turun.”
“Mungkin ada hal lain kenapa Pak Resto milih kamu, jangan negative thinking dulu, Al.” Aku langsung berhenti di tempat, merasa aneh dengan kata-kata Awal, aku berbalik dan memandang wajah Awal yang terkejut.
“Kamu ya, yang menyuruh Pak Resto untuk memilih aku? Ngaku.”
“Sumpah, Al. Ngapain aku bohong.”
“Sumpah demi apa?”
“Sumpah demi ibuku!”
“Kalau kamu bohong ...,” kataku geram.
“Kalau aku bohong, aku bakal cium Deswita!”
“Enggak!”
“Cium pantat monyet!”
“Deal!” Aku langsung meninggalkan Awal dan bertatap langsung dengan Pak Resto. Bagaimana pun aku harus bertemu dengan yang bersangkutan, dia telah memilihku untuk ikut lomba. Awal masih tetap mengikutiku di belakang dengan pernyataan-pernyataannya.
“Kamu ngalah aja deh, Al. Mendingan latihan, masih jauh kok bulannya. Bukan aku jadi provokasi pikiranmu, tapi memang lebih baik begini di bandingkan harus mengeluarkan otot dan takutnya malah kamu di drop out dari kampus.”
“Kayaknya kamu itu senang banget aku ikut kompetisi, siapa sih dalang di balik ini, bikin repot aja. Aku enggak peduli kalau di d.o sekalipun, aku mau tanya kenapa aku bisa terpilih. Nilaiku selalu cekak kok, tapi ini dipilih.”
“Ya, mukjizat mungkin.”
“Palamu mukjizat,” kesalku memutar kedua mata.
Aku berbelok ke kiri, dan berhenti di ruangan dosen, semoga saja ada Pak Resto di ruangan. Sebelum aku membuka pintu, aku mengetuk pintunya tiga kali lalu membukanya dan melongok, ada Pak Negoro yang sedang berbincang-bincang dengan Pak Abdullah. Mereka menengok dengan bingung ke arahku.
“Maaf, Pak,” kataku sembari nyengir, berjalan ke dalam dan menyalimi tangan mereka. Awal ikut-ikutan di sampingku sambil menunduk patuh.
“Anu, saya mau tanya Pak, Pak Resto hari ini masuk, Pak?”
“Kenapa kamu nggak lihat mading saja, kapan dia mengajar. Eh! Alfa,” kata Pak Abdullah, aku terkejut mendengar suaranya yang meninggi.
“Kamu ini anaknya Pak Yoko, ya?” tanya Pak Abdullah.
Aku langsung menoleh ke arah Awal, lalu menatap Pak Abdullah, bagaimana beliau tahu tentang ayahku. Aku mengangguk kaku, agak canggung mendengar dosen menanyakan privasi seperti ini.
“Iya, Pak.”
“O, iya tuh Pak! Dia anaknya Pak Yokoshima Khairo,” ucap Pak Abdullah pada Pak Negoro. Pak Negoro menatapku dari atas hingga bawah, menilai pakaianku atau entah menilai kacamataku yang tebal.
“Serius kamu anaknya Pak Yoko? Pak Yoko yang pianis itu, kan?” tanya Pak Negoro. Aku menghembuskan napas, memandang Pak Negoro dengan senyum.
“Bukan, Pak. Ayah saya seorang karyawan, bukan pianis.”