“Marni ke mana, main?” tanya Tsania padaku. Aku menggeleng pelan dan menghela napas.
“Lagi kumat, dan dia lagi ngambek untuk diajak main.”
“Seperti manusia sungguhan, ya. Oh iya gimana kuliah kamu? Banyak tikungan nggak?” tanya Tsania lagi.
“O,” kataku mulai menyebalkan. “Banyak tikungan, curam, tajam, berkelak-kelok. Apalagi tahun ini ada fenomena manusia Kendal yang menghantui dan mempaparazi makhluk bumi.”
“Siapa?” tanya Tsania menyebalkan.
“Siapa aja boleh,” ketusku. Tsania diam sebentar melihat ekspresiku, kemudian menghela napas panjang.
“O, gitu ya, tak kira kamu mau bilang aku,” balasnya cemberut. Aku memutar kedua mata dengan malas.
“Kamu lihat, aku sedang apa?”
“Duduk di bangku, baca buku, musik?”
“Masakan. Aku mau melamar kerja jadi koki,” balasku.
“Wah, di mana, Fa? Di sini.”
“Di surga.”
Tsania langsung membuka mulutnya.
“Kamu itu kebanyakan makan apa sih? Sate? Nusuk banget kayanya,” sindir Tsania.
“Seharusnya aku yang tanya kamu, kamu lagi kebanyakan makan apa sampai lemot banget,” semburku.
“Aku nggak lemot, cuma lagi aneh aja sama diri sendiri. Lah kamu, itu kenapa jadi manusia yang nyebelin, ketus, bikin orang jengkel. Pasti galau masalah belum punya pacar, kalau belum ada yang daftar seharusnya kamu bilang ke aku.” Tsania menghela napas.
“Kamu sotoy. Kamu kira aku dijual,” kesalku mendengus.
“Aku nggak sotoy. Which one, aku lihat dari gestur dan aura kamu, haha. Bilang aja ke aku, kalau memang lagi cari jodoh. Aku banyak dari negeri alien. Kamu mau dari mana? Andromeda, Cygnus, Aquila, Orion atau dari Jakarta, kalau itu ada satu manusia, namanya Tsania Agarta. Bocah kampung.” Tsania tersenyum sumringah sembari tertawa, sementara aku ikutan saja.
“Jadi, masalah kamu apa?” tanya Tsania akhirnya ke point pentingnya.
“Aku ikut kompetisi piano. Dan aku goblok kalau soal piano.”
“Lho, bukannya kamu bisa?”
“Bisa, tapi dulu sebelum negara api menyerang.”
“Aku serius, Fa.”
“Aku ikut serius, Tsania.”
“Lalu, gimana bisa kamu masuk fakultas musik tapi enggak pandai musik, yang pintar jadi siapa? Menurutku yang pintar itu kamu, sih,” balas Tsania menjawab pertanyaannya sendiri. “Soalnya kamu nggak di drop out dan nggak ketahuan kalau kamu kurang jago main piano. Apalagi udah semester berapa?”