Aku merasa ada perasaan lain yang tersembunyi setelah tersenyum begitu, mungkin kecewa? Atau patah hati? Tidak tahu patah hati dengan siapa. Tidak mungkin aku patah hati ke Tsania, kan. Dia bukan siapa-siapa.
Tsania cengengesan di sampingku setelah ingus dan air matanya keluar.
Akhirnya kami mencari apa yang namanya bebas di Jakarta, kota kenang-kenangan kami berdua tentunya.
Berlari mengejar kereta, berdesak-desakan, membeli permen dan kacang-kacangan.
Dia tertawa bahagia di setiap perjalanan, sebelum akhirnya aku melihat Tsania menangis lagi, katanya, “Aku belum pernah sebahagia ini.”
“Lalu sekarang?”
“Terlalu bahagia,” katanya dengan teriak di atas menara monas. Melihat ke sekeliling Jakarta yang indah.
••
Seandainya suara lagu yang aku debutkan nanti Ayah datang, aku tidak ingin mengecewakannya lagi. Bagaimana alunannya itu, ya?
Aku terlalu lupa untuk menengok ke belakang, mencintai salah satu kehidupanku dengan mereka yang tercinta. Jika ada pilihan lain, aku tak ingin membenci kehidupanku yang singkat ini.
Tak ingin bertanya pada bintang atau awan sekali pun. Aku cukup bertanya pada diriku sendiri.
Bagaimana cara mengubahnya.
Awalnya Ayah sangat penyuka binatang, saking sukanya, dia membawa banyak anak kucing. Ia menyuruhku dan Arta menjaganya, memberi mereka susu, makanan ringan, atau memberikannya perhatian seperti Ayah memberikan kami kasih sayang.
Kemudian Ibu mengalunkan lagu kesukaan Ayah. Dulu Ibu tidak pernah malas, berlari ke sana kemari, mengejar kami. Ibu bisa berlari dengan dua kakinya, berputar-putar di ruang tengah. Ia mendengarkan lagu yang aku sangat hafal di luar kepala.
Kesukaan Ibu terlalu banyak, menurutnya lagu yang paling penting dalam telinganya itu adalah suara kami.
Selebihnya lagu Johann Pachelbel–Canon, Ferdinand Beyer–Beyer No. 08, Mozart–Eine Kleine Nactmusik.
Jika sedang bergemuruh di dalam hatinya, Ibu memainkan lagu milik Francois Joseph Gossec berjudul Gavotte.
Ibu selalu ada untuk kami sampai kakinya ada enam. Empat kursi roda, dan dua kakinya.
Ibu tidak pernah absen untuk bertanya keadaan kami di rumah, dia tak pernah mau terlihat sibuk, seperti pada Ayah yang memberikan kami hadiah di hari pertama musim liburan. Ayah mengajak kami ke kebun binatang, melihat monyet, buaya, jerapah.
Membelikan kami topi gorilla hingga Arta menangis dan menyuruhku mengembalikannya, sampai aku membeli topi berwarna merah, mirip topi pemancing mania. Topiku dan Arta kembar hanya berbeda warna, dia lebih menyukai warna klasik, abu-abu.
Kami dulu keluarga pencinta binatang kecuali Arta yang benci gorilla. Ayah juga yang mengenalkan aku tentang musik, tentu Arta juga ikut mengimbangi.
“Ini lagu apa?” tanya Ayah saat dirinya memainkan piano. Arta lebih dulu membuka suara.
“Beethoven.”
“Judulnya apa?”
“Aku lupa,” balas Arta kecewa. Ayah melihat ke arahku, dan meminta jawaban.
“The Ruins of Athens No. 4,” jawabku akhirnya. Arta langsung kecewa berat pada saat itu mendengarku yang menjawabnya. Kemudian Ayah memberikan kisi-kisi lagi kepada kami, sampai kami hapal.
Kami memperebutkan judul lagu, sehingga Ayah sering memberikan kami hadiah, walau tidak besar.
“Itu Johann Strauss II, Prelude in C Major No. 1,” seru Arta.
“Sonata in D Major K311, Mozart,” kataku di lagu berikutnya.