Alfathan Khairo: A Broken Message

Wafa Nabila
Chapter #18

Patah Hati.

•••


“Aku enggak tahu kalau kamu sendiri bisa galau begini. Sudah mau bulannya, lho Al,” kata Awal, setelah dirinya selesai latihan. Kami berada di rooftop kampus, melihat banyak manusia yang berlalu lalang.

Dulu seingatku, di sini tempat anak-anak merokok, membicarakan masalah seputar kampus yang terlalu teoritis dan diplomatis, atau yang aku paling ingat di sini tempat cowok-cowok bergosip tentang cewek kesukaan mereka.

Bahkan mereka rela-rela menguntit cewek yang mereka suka dan curhat bagaimana mematahkan kesombongan wanita yang cuek. Kali ini di sini hanya untuk manusia-manusia yang patah hati.

“Suka itu relatif kan, ya?”

“Iya, relatif. Apa salahnya menyukai, dan nggak nganu juga kok. Kamu sedang suka sama perempuan?” tanya Awal menepuk pundakku. Kami mungkin akan menatap hal yang sama kali ini, langit. Walau di langit tak akan pernah ada jawaban.

“Entah itu konyolkan? Rasanya bukan aku banget kalau begitu.”

“Ya, itu manusia normal. Setiap manusia akan jatuh cinta, lambat laun dan kapan pun itu kamu bisa merasakannya. Rasanya nggak akan bisa dikontrol dengan sekali melihat.”

“Tapi aku jatuh cinta dengan sekali melihat. Itu namanya dibutakan.”

“Bukan, itu namanya kamu mengisi kekosongan dalam hati dengan mencintai manusia. Biasanya kamu cuma mencintai diri kamu sendiri. Karena dengan cara apa pun kamu mengelak bahwa kamu jatuh cinta, itu tandanya kamu tidak bersyukur dengan Tuhan.”

“Sejak kapan kamu bisa sebijak ini kalau masalah cinta, Wal?”

“Hehe, sejak kapan, ya? Tapi yang jelas sejak aku bisa merasakan patah hati.”

Ini terlalu menggelikan, dengan dua orang laki-laki curhat di atas rooftop, bertema cinta, saling memandang langit, mengutip kalimat-kalimat motivasi yang tidak begitu penting.

Menggelikan, bukan?

“Al, lihat latihan orkestra, yuk. Kamu mungkin akan lebih bersemangat kalau sudah mendengarnya.”

“Baik!” kataku berdiri dari duduk, kami pergi ke lantai dasar lalu ke gedung timur, menghilangkan jawaban dan pertanyaan konyol tadi.

Aku pikir cinta dan kasihan itu beda tipis. Mungkin aku kasihan dengan Tsania, tidak benar-benar jatuh cinta.

Kami duduk di tempat yang strategis, melihat ke arah panggung yang sudah ramai dengan bunyi musik. Di sana banyak teman-temanku yang terpilih. Beberapa dari mereka memang pintar sekali mengatur nada.

Tentunya aku telah jauh berbeda dengan mereka. Awal mengangguk-anggukan kepalanya pelan sambil memejamkan mata, tangannya meliuk mengikuti nada, gayanya terlalu berat.

“Waktu itu Tsania bilang sama aku, Al.”

“Bilang apa?” tanyaku memandang ke depan.

“Bilangnya lagi banyak orang-orang sih, tapi aku sempat dengar kalau dia lagi sedang jatuh cinta.”

Aku tahu Awal sedang menguji kesabaranku kali ini, tapi buat apa menguji jika ternyata aku tidak terpengaruh dan tidak berkepentingan. Toh Tsania telah jatuh cinta dengan orang lain.

Lihat selengkapnya