Awal berlari, berputar, berteriak, berpura-pura menjadi hantu di dalam sebuah tempat berkotak-kotak, dia datang dari arah manapun. Di dalam sebuah dialog yang sepi, dialog seorang manusia keluar dari dalam tubuhnya sendiri.
Dia memerankan arwah Romanof di hari kompetisi yang paling berharga, aku bisa melihat Awal dari kursi penonton yang lebih tinggi. Duduk bersama Deswita, tak lupa dengan decak kagum yang dihasilkan setiap menit dari mulut Deswita yang cerewet.
“Deswita, bisa kamu diam dulu? Aku sedang mendengar suara Awal.” Deswita menoleh, dia nyengir lebar.
“Maaf, tapi Awal di sana terlihat konyol. Kamu ingat gak pas Awal bilang, Molamola berulang kali. Dia mirip anak kecil.”
Aku memandang tubuh Awal yang terlihat melayang, dia telah berhasil membuat Deswita berdecak kagum. Bukan hanya Deswita, tetapi juga yang lainnya, tentu aku sendiri ikut senang.
“Berarti Awal sudah menghayati perannya.”
“Berarti nanti kamu juga kaya gitu, Al. Untuk menghormati keinginan Awal.”
“Menghormati?”
“Awal pernah cerita ke aku. Dia mau kamu berubah jadi lebih serius untuk menghadapi masa depan. Kelak, kalau dia enggak ada di samping kamu, kamu bisa berdiri sendiri. Dan bisa menerima dunia tanpa harus membencinya.”
“Dia bilang begitu ke kamu?”
“Iya, dia rela curhat tentang mantan pacarnya ke kamu supaya kamu juga berkeinginan punya pacar. Maksudnya menikmati hidup untuk memiliki pasangan. Bahkan aku baru dengar baru-baru ini kalau dia mau pergi.”
“Pergi ke mana?” Wajahku mengerut, mataku ikut memandang ke arah Awal berada.
“Ke tempat lain.”
“Dia enggak bilang apa-apa ke aku, Des. Kok gitu? Kuliahnya gimana?”
“Cuti atau mungkin berhenti. Tapi tolong kamu jangan ngomong apa-apa dulu untuk hari ini, jangan tanya apa-apa.”
“Ini masalah penting, masa aku nggak boleh tanya apa-apa. Itu malah membuat aku lebih cemas. Dia mau ke mana sih?”
“Mau pulang ke Jawa. Orang tuanya bangkrut. Aku sudah bilang prihal keuangan. Tentang perekonomiannya, dan aku juga sudah berkali-kali ingin memberikan bantuan, tapi dia enggak mau, Al. Dia menolak. Padahal dia itu sering kasih wejangan ke aku, lho.”
Aku berdiri dari duduk, ingin meninggalkan teater. Keadaan yang aku tahu Awal baik-baik saja dengan dramanya, bahkan sungguh ceria. Dia tak pernah cerita tentang keadaan ekonomi yang melilit keluarganya.
“Kamu mending tonton drama ini sampai selesai. Kalau begini kan kamu enggak menghargai kerja keras Awal. Awal pun akan menghargai kamu jika kamu mau menghargainya.”
“Kamu suka sama Awal?” tanyaku.
Akhirnya aku duduk kembali, benar juga apa kata Deswita. Aku harus menghargai kerja keras Awal, sehingga aku bisa menilainya dari sini.
Aku menoleh ke depan lalu ke Deswita. Jika Deswita menyukai Awal, itu terlihat dari cara dirinya ingin membantu dan juga dari ceritanya yang perhatian terhadap keadaan Awal.
Deswita menatapku, dalam, penuh harap. Kepalanya menggeleng dan tersenyum, lalu dia memandang ke depan dan mulai menikmati suara alunan lagu backsound panggung.
Aku pun ikut memandang ke depan, mencari siapa yang Deswita sukai. Meneliti satu persatu, lalu menoleh ke arahnya lagi.