Alfathan Khairo: A Broken Message

Wafa Nabila
Chapter #20

Hangatnya Rumah.

•••

Di dalam jalan-jalan kami yang dadakan ini, aku mengingat kembali tentang Arta jika sedang berliburan bersama.

Waktu itu, ayah tak pernah mau ikut main rolecoaster atau permainan kora-kora. Beliau sangat takut ketinggian dan takut muntah. Jadi yang main tentu hanya kami berdua, Ibu selalu menemani Ayah.

Aku sering mendapatkan pertanyaan-pertanyaan dari Arta, entah itu saat di dalam area permainan maupun di luar permainan.

Aku harus menjawab pertanyaan itu dengan baik, jika tidak jatah makan es krimku atau makanan dissertku akan di ambil Arta. Namun, jika aku menang dia akan membagikan makanannya secara terbuka.

Kami tipikal anak-anak yang disenangi oleh Ayah. Disenangi oleh Ibu juga. Banyak para tetangga yang sangat cemburu dengan kedekatan kami, namun masalahnya itu tak lagi terjadi hingga hari ini. Kami bercerai berai dan melupakan tradisi lama.

Dan hari ini aku main kora-kora, Awal duduk di sebelahku. Dia tak henti-hentinya berteriak ketika permainan ini turun secara tiba-tiba.

“Awal! Aku punya pertanyaan,” teriakku. Awal menoleh dengan wajah pucat pasinya, lalu mengangguk. Dia tak sempat menjawab pertanyaanku karena takut.

“Uang-uang apa yang punya nama Ibu Seri?!” kataku, Deswita di sebelahnya ikut mendengarkan.

Dia mengerutkan kening, terlihat dari mulutnya yang ingin bertanya balik padaku kenapa aku memberikan pertanyaan di saat permainan ini berlangsung.

Karena sebenarnya aku rindu pertanyaan yang diberikan Arta dulu. Pertanyaan aneh yang terceletuk dari mulut bebeknya, ternyata dia melupakan hari ulang tahunku.

Padahal tadi pagi kami saling bersapa, Ayah pun duduk di sebrang dengan koran hariannya. Aku juga tak ingat jika hari ini adalah hari ulang tahunku, maka lebih baik tak perlu aku ingat jika mereka melupakannya.

“Uang logam kali!”

“Bukan!”

“Uang mainan,” balas Deswita. Aku menggeleng.

“Lalu uang apa yang punya nama Ibu Seri,” bingung Deswita.

Awal berteriak histeris menjawab pertanyaanku karena memang kora-kora sedang turun. Deswita menutup mulut Awal dengan kesal.

“Berisik!” katanya, dan aku tertawa terbahak-bahak.

“Jawabannya seribu. Seri, bu.” Dengan tampang menyesal Deswita menepuk jidat dan ikut berteriak bersama Awal. Mungkin itu lebih baik baginya.

Lihat selengkapnya