•••
Di bumi bagian Jakarta, aku bisa menjadi laki-laki beruntung, menatap langit-langit yang jarang bintang. Beberapa pesawat yang mengedip-ngedip di langit dan juga udara segar yang menembus kulit.
Di sini aku diciptakan dari beberapa cairan cinta Ibu dan Ayah. Di sini pula aku menorehkan beberapa kenangan dan juga berbagai candu bersama Arta maupun Awal. Di bagian part terpendek yang aku sebut akhir ini begitu indah, luar biasa dan hidupku merasa lebih baik.
Aku mencintai hidupku yang sekarang, jalan keluarnya hanya mencintai walau banyak orang yang tak bisa bersabar dengan menghadapi ujian dari kehidupannya sendiri. Mereka semua belum mencapai life goals, dan aku hampir merasakannya.
Di atas atap, aku duduk bersama Tsania yang ternyata datang membuat keluargaku rujuk lagi, saling memaafkan dan saling mencintai. Di mulai dari hati, cinta dan tumbuh menjadi kasih sayang. Gadis itu terlalu baik, dan mulai saat ini aku tak mau melepasnya.
Mungkin ini terdengar egois, tapi aku harap, ini adalah do’a-ku yang akan menuntunku untuk mencintai Tsania dengan baik.
“Aku mau kamu, Tsa.” Aku berbicara ketika hening di sekitar menghangatkan kami. Dia menoleh setelah matanya lurus ke depan melihat lampu-lampu berwarna-warni di ujung jalan. Kami berdua bisa melihat siapa pun yang melintas di jalan depan rumah, dan bisa melihat apa pun yang bercahaya.
“Hm?” ujar Tsania terkejut.
“Kenapa? Ah! Maaf.” Aku menepuk jidat.
Sebenarnya bukan itu yang ingin aku utarakan. Aku hanya mau kamu tau Tsania, aku ingin kamu ikut berdiri di depan mimbar dan mengikrarkan janji bersamaku.
Aku mau kamu kasih cincin suci, aku mau kamu yang buatku berdiri dengan berani, aku mau kamu yang menciumku dan aku mau kamu selamanya. Itu yang ingin aku sampaikan, tapi aku tidak berani. Kamu mencintai orang lain, aku tidak ingin mengambil kamu dengan rakus.
Cukup kita berteman.
“Aku juga mau kamu,” balas Tsania tiba-tiba dengan suaranya bergetar, dia menunduk, rambutnya menutupi wajahnya.
“Aku juga mau kamu yang ada di samping aku, aku mau kamu lebih dari yang kamu tau. Aku gak bisa terus-terusan berbohong. Tapi semenjak ada kamu, aku merasa bergantung untuk mencintai kamu. Aku suka kamu yang apa adanya, Alfa. Suka kamu yang ke mana-mana membuat aku nyaman. Aku mau kamu.”
“Kamu lagi bercanda, ya?” tanyaku kemudian, Tsania menggeleng.
“Aku lagi serius.”