Alfathan Khairo: A Broken Message

Wafa Nabila
Chapter #22

KEMBALI JADI ALFATHAN KHAIRO

••••


Dan kali ini, secangkir kopi pahit telah menutup satu kalimat sapaan terhangat setelah nyanyian kemenangan, ada banyak bukti, pemilik kepala, mata dan tangan telah memberikan tepukan keras, tetapi ada salah satu bukti mantra yang tak pernah reda-reda di dalam sebuah kota bernama Jakarta.

Bukti mantranya adalah; menerima kenangan, bila perlu amankan di sebuah tempat bernama otak, juga ponsel pintar, abadikan moment yang akan dilalap kelupaan.

Tapi pesanku; jangan pernah melupakan untuk kedua kali, karena otakmu memang akan melupakannya perlahan setelah kamu sepuh dan mati.

Walau di kota banyak manusia, kali ini kota seperti bangunan kemandirian, banyak keluh akan semakin banyak tantangan. Dan aku sudah melewati tantangan tersulitku yang terasing di Jakarta.

Melunasi hutang-hutangku pada Arta, Ayah, Ibu, Awal.

Dan hutangku dengan Pak Resto? Aku pikir impas. Aku menang dalam lomba, juara satu hingga Pak Resto menangis sesenggukan memeluk tubuhku yang kurus ceking. Dia tak ingin melepaskan tubuhku begitu saja.

Ketika Ayah dan Ibu ikut turut serta, Pak Resto benar-benar melupakan mereka yang melahirkanku.

Dia merengkuh tubuhku dengan bangga. Ternyata membuat manusia menangis dalam senang itu cukup mudah, aku bisa merasakan euphoria dingin sekaligus hangat dalam satu wadah.

Aku kembali menjadi Alfa yang ceria, bersama Arta yang jahil, Ayah yang penyayang dan Ibu yang suka membuatkan kami menu makanan unik.

Kami menjadi keluarga sejahtera di tengah-tengah ibu kota, menjadi keluarga yang dicemburui tetangga. Dengan Awal yang ikut-ikutan bersama keluargaku yang berbahagia. Awal tentu sudah mendapatkan siapa tambatan hati, dan memiliki tunangan yang sangat mencintainya lahir batin.

Deswita, dia terkutuk gombalan Awal. Dan kutukan itu tak bisa sirna jika Awal sendiri yang menghilangkannya.

Dan cerita untuk Tsania? Aku rasa semua orang di dunia ini tau jawabannya tentang pengalaman cerita romantis kami, ke manapun aku pergi, Tsania akan ikut. Ke pada siapa pun aku melangkah, ia ada untukku.

Lihat selengkapnya