Algojo alam baka

melkior forlan
Chapter #1

Perjalanan filosofi

Kehidupan baru tampa kedua orang tua tercinta ialah awal yang sulit untuk dijalani. Kebiasaan kenangan lama telah hanyut dibawa maut. Tenk seorang diri duduk termenung di bawa cahaya bulan malam yang terasa mendistorsi/memutar balik keadaan, antara kenyataan dan imajinatif semata.


Dari kejauhan khususnya di arah jarum jam tujuh bunyi sentakan kaki bersahutan, lampu taman rumah menyala siap menyapa sesuatu. Gumam para penghuni sekitar terdengar samar. Pohon beringin besar seketika menjembatani kedatangan tamu tak diundang dengan, ranting-rantingnya yang menari-nari.

Tenk pun memandang ke arah tersebut, rupanya segelintir algojo juga masyarakat biasa datang menemuinya.


"Gerangan apakah?, yang membuat kalian semua datang kemari."


"Kami mohon maaf sebelumnya, tuan muda. Saya selaku ketua algojo hanya ingin menjalankan perintah Kaisar."


Tenk mengerutkan keningnya sebab, bingung entah amanat apa yang diberikan Kaisar alam baka.


"Amanat apakah yang dikau Terima itu?"


"Berdasarkan elektabilitasmu, kaisar hendak mendelegasikan dirimu menjadi algojo pengabdi alam ini."


Perkataan sang ketua algojo tersebut menyebabkan keheranan merinci dalam benaknya. Akan tetapi popularitas dirinya tidak bisa menyangkal kenyataan atas kebenaran saksi-saksi. Dirinya memang menguasai lima ilmu kontemporer, tapi pesimismenya tampil untuk malam itu. Sekujur tubuhnya gemetar hebat, keringat membasahi kulitnya, ia menelan luda sebelum bicara lalu katanya.


"Sejauh saksi orang-orang yang pernah melihat ku adalah benar. Namun jikalau keinginan Kaisar demikian, aku bersiap menjadi algojo untuknya."


Ungkapan itu lansung disambut dengan kecerian tepuk tangan semua orang yang ada di situ. Malam itu sepi tampa inspirasi, namun menjelma seru akibat keramaian yang menimpa keheningan.


Selanjutnya pelantikan algojo baru atas nama tenk akan terjadi segera mungkin, busana besi tentara Romawi yang lengkap akan senjata diterima olehnya.

Kemudian itu tenk menggunakannya lalu bersama-sama algojo lain pergi menghadap, Kaisar Yang sedang menanti kedatangan sang elektabilitas atau populer.


Setibanya di depan ambang pintu gerbang masuk utama, cahaya lampu gemerlap menerangi dirinya. Kehormatan sebagai algojo baru di tandai dengan pukulan gendang raksasa, kakinya melangkah maju ke dalam lalu berdiri di tengah-tengah tribun luas yang mengelilinginya. Mikroskop sang kaisar dari ketinggian seribu meter menyoroti dirinya.


"Selamat nak, sekarang kamu bersama elektabilitas mu telah menjadi bagian dari Abdi alam."


Tenk menekukan kakinya lalu berlutut sujud.


"Kepadamu junjungan, limpa terimakasih ku atas delegasi ini. Aku berjanji akan bertanggung jawab atas delegasi ini."


"Aku yakin padamu nak. Kau adalah segalanya, kau adalah aparat yang memegang teguh aspirasi alam ini, yakni Merdeka atau mati."


Seluruh acara pelantikan berjalan mulus, tenk mendapatkan satu lencana heroik. Selanjutnya tinggal mengasah mental dan fisik sebagai algojo tahan uji sebab dirinya memerlukan antisipasi demi kepentingan tersebut.

Acara pelantikan berakhir di malam yang panjang tenk pulang ke rumah seorang diri. Lagi-lagi keadaan sepi memukul dirinya hingga benar-benar jatu. Elektabilitas hanyalah kebahagiaan temporal dan kebahagiaan adalah hal utama dalam hidup, ironisnya, sukacita yang didapat oleh elektabilitas takkan bisa menggantikan kebahagiaan bersama orang tuanya tercinta.


Hidupnya dan semua orang kini digerakkan oleh kehendak yang tak kunjung berhenti, mencapai sesuatu dari elektabilitas ia percaya bahwa, setiap orang harus mengejar mimpi dan cita-cita sesuai trend di masanya. Bagaikan, seorang manusia normal pengelihatan yang berada di atas bahu raksasa buta.

Karena tidak dapat melihat, orang itu menuntun raksasa itu dalam dinamika hidupnya. Sama halnya dengan manusia yang di promotor oleh kehendak absolut.



"Mata akan menggantikan mata,

"Gigi diganti dengan gigi."


Perkataan balas dendam itu menghantui pikiran dan batin saat diri sedang melakukan aktivitas konven/seperti biasanya. Selesai terapis kognitif (terapis pikiran/pengetahuan) dengan cara 'monolog' berbicara bertanya pada diri sendiri. Pagi yang meneduhkan jiwa dengan kehangatan vitamin D sinarnya, lantas diganggu gugat ketentramannya oleh perkataan dendam tersebut.

Hawa nafsu bergerak dalam mimpi atau realita berdasarkan keputusan tampa orientasi.


"Ayah, ibu, semoga kalian tenang di alam dewa maut sana." Bisik tenk dalam hatinya yang fana


Dunia dewa maut beserta isinya adalah tempat dimana para orang mati berkumpul. Jika kehilangan nyawa dari alam baka, maka orang-orang tersebut beristirahat bersama dewa maut. Secara historis/sejarah, permohonan lewat ritual pembangkitan kembali sangat bisa dilakukan. Akan tetapi itu hanya bisa dilakukan oleh dewa kehidupan dengan cara melawan dan mengalahkan efendi kegelapan, yang merupakan pemberi takdir juga pencabut nyawa lalu mengubahnya atas izin dewa maut. Dan semuanya itu harus di tanggung siapapun yang menginginkan kebangkitan. Mengapa demikian?..."

Apakah alam baka bukan tempat paling akhir dari kehidupan setelah di dunia?,..."

Mengapa tidak dunia saja yang menjadi tempat kehidupan kekal?..."


Dari sebab pertanyaan-pertanyaan itulah, alam baka memiliki ketetapan dan ketentuan yang absurd/tak masuk akal. Sesungguhnya, alam baka diciptakan tampa diketahui siapa yang memanifestasikannya?..."

Apakah ada kuasah?,..."

Dari mana semuanya berasal?,..."


Jawabannya semuanya berasal dari ketiadaan, kenyataan ini terungkap secara eksplisit maupun implisit di alam baka. Sedangkan untuk pertanyaan "mengapa tidak dunia atau bumi saja yang menjadi kehidupan paling akhir manusia?..."


Maha Kuasah yang bumi miliki masih banyak dihuni golongan orang ateisme, masih banyak pemujaan dewa-dewa serta kepercayaan animisme juga dinamisme.

Jikalau yang kuasah itu benar-benar ada maka ia harus menyatu dengan ciptaannya, bukan berada di luar dari kebersamaan harmonis.


Itulah serangkaian jalan keluar untuk kebangkitan di alam baka.


Kemudian dari pada itu, setelah duduk menyendiri berjam-jam tenk berdiri lalu bergegas mempersiapkan diri sembari melanjutkan kegiatan selanjutnya yakni, meningkatkan spiritualitasnya di bukit kelam tempat pertapaan. Ia mengenakan jubah Yahudi putih yang kainya panjang selembut sutra, kaki mengenakan selipan tali zaman milenial, terus melangkah memanjati tanjakan ekstrim yang menantang nyawa. Dirinya mulai menyusuri cakrawala, jurang-jurang curam, sekaligus ranah-ranah hutan hujan tropis yang sejuk.


Beberapa saat kemudian, ia tiba di puncak meditasi terahirnya.


Tempat lembab itu memiliki gua besar bernuansa mengerikan tak pernah disentuh oleh sinar ultraviolet sama sekali. Alam sekitar terasa mengakrabkan diri dengan siulan angin dari pepohonan bambu muda, kicauan buruk seperti Mazmur indah yang dipersembahkan bagi taraf kemuliaan, tenk mengambil posisi strategis dalam gua itu dan duduk dekat bunga-bunga liar yang tak mengancam.


Spiritualitasnya diadakan di lini tengah gua, hari sudah siang pertapaannya semakin mendalam ketika hati yang remuk-redam berangsur-angsur pulih. Itulah titik esensial spiritualitasnya yang sempurna, sehingga di beberapa detik berikutnya keajaiban mujizat terjadi di depan matanya. Yaitu terjadinya kemunculan kakek tua berambut putih panjang, namun tenk tak terkejut sedikitpun atas peristiwa tersebut.

Justru perhatiannya makin serius menatap tajam pria tua itu. Dalam hati dan pikiranya itu cuman fenomenal sepele.


"Wahai anak muda, sekarang aku telah mengukur tingkat bersemedi mu yang mahir. Selamat datang di dunia filosofi, aku senang bisa bertemu mu disini."


Tandas tenk: "aku akan menganggapnya sebagai pujian wahai kakek ajaib. Aku pun bersyukur bertemu mu kakek filosofi."


"Baiklah nak, jelaskan pasal apa kedatangan mu ke sini?"


Dengan senang hati tenk lansung menerangi arti dari kedatangannya, ia menceritakan seantero kejadian buruk yang dialami. Kakek tua itu menyimak, menyimpulkan, bahkan menegaskan kunci jalan keluarnya. Yakni, memerintah tenk agar lebih panjang sabar, lebih kuat ditengah goncangan

tornado brutal yang mematikan, dan memberi cakra transformasi sakral pada tenk.


"Mata akan menggantikan mata,

"Gigi diganti dengan gigi."


Perkataan balas dendam itu menghantui pikiran dan batin saat diri sedang melakukan aktivitas konven/seperti biasanya. Selesai terapis kognitif (terapis pikiran/pengetahuan) dengan cara 'monolog' berbicara bertanya pada diri sendiri. Pagi yang meneduhkan jiwa dengan kehangatan vitamin D sinarnya, lantas diganggu gugat ketentramannya oleh perkataan dendam tersebut.

Hawa nafsu bergerak dalam mimpi atau realita berdasarkan keputusan tampa orientasi.


"Ayah, ibu, semoga kalian tenang di alam dewa maut sana." Bisik tenk dalam hatinya yang fana


Dunia dewa maut beserta isinya adalah tempat dimana para orang mati berkumpul. Jika kehilangan nyawa dari alam baka, maka orang-orang tersebut beristirahat bersama dewa maut. Secara historis/sejarah, permohonan lewat ritual pembangkitan kembali sangat bisa dilakukan. Akan tetapi itu hanya bisa dilakukan oleh dewa kehidupan dengan cara melawan dan mengalahkan efendi kegelapan, yang merupakan pemberi takdir juga pencabut nyawa lalu mengubahnya atas izin dewa maut. Dan semuanya itu harus di tanggung siapapun yang menginginkan kebangkitan. Mengapa demikian?..."

Apakah alam baka bukan tempat paling akhir dari kehidupan setelah di dunia?,..."

Mengapa tidak dunia saja yang menjadi tempat kehidupan kekal?..."


Dari sebab pertanyaan-pertanyaan itulah, alam baka memiliki ketetapan dan ketentuan yang absurd/tak masuk akal. Sesungguhnya, alam baka diciptakan tampa diketahui siapa yang memanifestasikannya?..."

Apakah ada kuasah?,..."

Dari mana semuanya berasal?,..."


Jawabannya semuanya berasal dari ketiadaan, kenyataan ini terungkap secara eksplisit maupun implisit di alam baka. Sedangkan untuk pertanyaan "mengapa tidak dunia atau bumi saja yang menjadi kehidupan paling akhir manusia?..."


Maha Kuasah yang bumi miliki masih banyak dihuni golongan orang ateisme, masih banyak pemujaan dewa-dewa serta kepercayaan animisme juga dinamisme.

Jikalau yang kuasah itu benar-benar ada maka ia harus menyatu dengan ciptaannya, bukan berada di luar dari kebersamaan harmonis.

Lihat selengkapnya