Algojo alam baka

melkior forlan
Chapter #2

Alternatif heroik

"Kau sudah siap bersatu dengan mahkluk mitologi?" Cegah kakek filosofi pada tenk.


"Iya kek, perjalanan seribu mil di mulai dengan selangkah."


"Yakin langkah mu takkan terantuk?"


"Tentu saja kek, inilah letak tujuan sejati ku."


Pagi itu, ritual mediasi atau penyatuan jiwa manusia bersama mahkluk mitologi terjadi. Hujan turun disaat kakek filosofi menyembelih rusa hutan sebagai tumbal. Tornado kencang memutar sadis di tengah-tengah kurban membentuk sosok raksasa bertanduk dengan mata merah, wajahnya di penuhi api kematian bagi setiap musuhnya.


"Kenapa kau membangunkan ku kakek filosofi?" Tanya raksasa mitologi itu dengan suara menggelegar.


"Sejauh yang kau pikirkan herges?"


"Pasti membantu mu menyelesaikan masalah"


"Itu sungguh benar herges, kau selalu benar dan menang."


"Memukau, pujian mu nyaris meninggikan ku."


Setelah itu kakek filosofi menyuruh tenk tidur di atas batu kurban berbentuk oval yang besar, lalu mengikat tangan juga kakinya demi proses penyatuan berlangsung dengan baik.


"Apakah aku harus bersatu dengan orang ini kakek filosofi?" Tanya raksasa mitologi santai.


"Ya ialah tenk, yang memohon figere palum pada ku untuk menyelamatkan alam baka."


"Oh ya, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik wahai, tenk si pencetus figere palum."


"Itulah kekuatan kita herges. Satu-satunya harapan ada pada kekompakan kita."


Selanjutnya kakek filosofi mengadakan tangannya ke langit cerah seraya menyegel cakra dahsyat, sehingga timbulnya petir yang turun menyambar tenk sekaligus diikuti herges memasuki tubuh tenk. Namun dalam sekejap cahaya silau bening bersinar meluas di atas bukit kelam. Dan meredah sedikit demi sedikit, terus menampilkan tenk yang menjelma ke wujud raksasa mitologi besar serta menakutkan. Hasil ritual mediasi itu sangat optimal, sekarang keduanya menjadi satu kesatuan utuh dalam   melindungi alam baka.


"Terimakasih atas penyatuan ini kek" Lontar tenk sambil tunduk hormat.


"Iya sama-sama, ingat pergunakanlah mahkluk itu dengan baik agar tujuan mu bisa terwujud."


"Baik nek,"


Selesai itu, tenk merubah wujud ke manusia semula lalu pamit pulang kepada kakek filosofi Dan bersedia untuk melindungi alam baka dari serangan susulan, di masa tuanya yang dikaruniai dua anak laki-laki. Saat waktu malam hari, menampilkan situasi alam kegelapan yang sudah siap menyerbu alam baka bersama pemimpin baru.


"Aku akan membawa kemenangan bagi ayah, alam baka akan ku rombak menjadi paguyuban ateisme." Tandas solche tegas.


"Ide bagus anak ku. Kaulah yang ayah andalkan sekarang, kaulah yang ayah puja-puja, dan tetap kau anak ayah yang tangguh."


Ribuan infanteri iblis berkumpul di depan kubangan kertak gigi dengan tengkorak manusia raksasa, semuanya bergegas mengiringi solche yang menunggangi kereta kuda bertanduk dari belakang. Sesampainya di alam baka, trompet iblis dibunyikan sebagai peringatan perang yang segera di mulai. Kaisar agung ke dua alam baka, yang merupakan anak laki-laki pertama Kaisar agung satu. Kini, menjadi pemimpin muda berumur 22 tahun. Ia mengenakan mahkota peninggalan ayahnya selaku almarhum yang wafat di umur 103 tahun setengah abad yang lalu. Ia tetap menentukan tenk sebagai ketua algojo terbaik ayahnya. Ia menjuluki tenk sebagai 'pencetus', tampa runding lama trombone alam baka di bunyikan dalam artian siap tempur.


Saling menumpas terjadi, ada yang kehilangan kepala, kaki, serta orang tubuh bahkan nyawa. Tenk berubah menjadi raksasa mitologi, menginjak infanteri iblis hingga remuk. Meski lawan berikutnya agak kewalahan karena melawan tiga raksasa iblis yang setimpal dengan tubuhnya. Salah satu raksasa iblis tengkurap akibat hantaman kuatnya memakai palu jumbo, duanya lagi, ia cekik lehernya dan mengangkat serta mencampakannya ke belakang hingga terjatuh keras di tanah.


"Bumm!"


"Bukk!"


Satu pijakannya, di batang leher Masing-masing dua raksasa iblis itu berakhir lemas dan tak bergerak lagi.



Saat siang matahari terik menyoroti rerumputan di lapangan hijau yang luas, reaksi tandus dan gersang perlahan terwujud pada tumbuhan yang layu. Kondisi tenk kini sedang mengunci putra efendi kegelapan dalam segel ketat, mengurung anak iblis itu sebagai sandera guna memancing kedatangan sang ayah dari alam kegelapan.


"Kau akan ku sandera di sini sampai, ayah mu datang menyelamatkan mu."


"Tentu, ayah ku akan datang menolong ku. Karena kau adalah manusia penuh kasih yang tidak dapat membunuh."


Perkataan remaja polos tersebut mengubur kekosongan dalam pikiran sendiri, satu hal yang pasti tujuan tenk ialah melampiaskan dendamnya dengan membunuh efendi kegelapan. Waktu terus berputar cuaca kerap berganti, pada taraf malam rencana tenk mendatangkan efendi kegelapan berhasil. Pemimpin durjana tersebut terjun ke medan perang dengan jubah elegan hitam, yang najis penuh noda atas kedurhakaan terhadap sang kuasah.


"Kenapa kau tak merenggut nyawa putra ku?"


"Putra mu, terlalu polos bagi intisari permasalahan kita!"


"Memang sesakit itukah?, dirimu saat kehilangan orang tua."


"Sekarang kau sendiri pun mengatakannya. Dunia ini harus adil detik ini!"


"Settttt!..."


Pedang bermata dua meluncur ke arah efendi kegelapan. Namun dengan elakkan lincah juga tepat, iblis itu mampu mencari ruang untuk serangan balasan. Kedua pedang dari negeri masing-masing melengking kuat bersama bunyi tubrukan. Energi dan cakra intens nampak jelas dari tubuh mereka, gerakan putar tenk seperti gasing sempat melukai dadah iblis itu dengan goresan panjang ke bawah pinggang. Iblis itu mulai menggunakan satu tangan kirinya dalam duel, sebab tangan kanan sedang menahan pendarahan hebat di dadah. Putra dari iblis itu semakin gugup dan ketakutan waktu sang ayah, hanya bisa bertempur dengan satu tangan. Ia menjerit, memohon dibebaskan, agar bisa membantu ayahnya yang bakal mati bila bertarung seorang diri.


"Tolong siapapun itu!, biarkan aku keluar dari segel ini, jujur aku ingin menolong ayah ku."


Pekikan itu bukan kejadian nyata bagi algojo yang berada di situ. apatisme algojo-algojo membuat suaranya tenggelam di antara situasi riuh, disamping itu, pertarungan antara tenk dan efendi kegelapan berlangsung sengit. Satu tendangan maut mendarat sukses di rahang iblis itu, kemudian finishing dengan menebas leher iblis tersebut menjadi penutup perkelahian mengerikan mereka. Rasa puas hati tercapai, senyum terhadap jatuhnya musuh membentuk rupa bahagia. Tahkta sesungguhnya dendam adalah balasan dendam itu sendiri, tabahnya hati menerima luka ialah perhitungan untuk merubah ke unsur yang baik.


"Kau membunuh ayah ku!, ku kira kau mahkluk penuh kasih."


"Tapi tidak untuk ayah mu selaku, iblis yang menjadi sariggala bagi manusia. Kendati demikian nak, manusia juga merupakan binatang tapi berakal budi, sekali kemanusiaan itu muncul hargai.namun penyesalan akan tiba bila kebinatangan tampil darinya."


"Rupanya benar yang ayah ku katakan"


"Apa itu nak?"

Lihat selengkapnya