
Kesombongan adalah sifat manusia serakah dan tak memahami kebenaran. Ia seorang yang terlahir dari kalangan kaya bukan berarti sewenang-wenang terhadap sesama. Lahir diantara kemewahan dan hidup kaya dunia adalah keinginan setiap manusia. Ia tinggi dan jangkung. Berparas rupawan dan memakai pakaian serba mewah. Bangsawan muda dari kalangan tertinggi di kerajaan Jawa Dipa. Sayang ia bekerja menjadi prajurit bayaran di kalangan bangsawan lainnya. Ia lebih suka hidup bebas dan tak terikat oleh kekuasaan yang mengerogoti dirinya. Apa yang diinginkan memang terpenuhi karena dari membunuh ia mendapatkan bayaran yang sangat tinggi.
Umurnya baru menginjak enam belas tahun. Tetapi ia sudah menjadi mesin pembunuh yang sangat ditakuti dikalangan para bangsawan. Parasnya elok bisa membuat wanita terkesima padanya. Sayang ekspresinya beku membuat wanita bingung untuk mencerna. Ia tak pernah tersenyum dan membeku seperti es kutub utara.
Ia mempunyai sebutan nama Manggala. Tetapi kalangan bangsawan menamai dirinya Mang sang gila. Keris dipinggang sebagai alat yang tak pernah lepas dari dirinya. Senjata pendek yang menjadi kebanggaan baginya. Keris miliknya telah membunuh lebih dari seratus nyawa. Ia melakukan pembunuhan sejak dua tahun lalu. Diumur empat belas tahun pertama kali ia melakukan pembunuhan. Pembunuhan bangsawan pertama yang telah ia lakukan, karena perintah sang putra mahkota.
Pangeran Samudra meminta dirinya untuk membunuh bangsawan Jawa Dipa pangkat tumenggung dari katemenggungan Narpadan. Tumenggung Narpada adalah senopati yang sakti madraguna. Dia adalah agul-agul Jawa Dipa tetapi dia termasuk bangaswan pembangkang yang selalu menolak perintah Raja. Pangeran Samudra sangat benci padanya. Kemudian dia mengirim utusan agar Narpada bersedia bersekutu padanya. Tetapi dia menolak, maka Mang diutus untuk membunuhnya.
Pangeran Samudra tahu bahwa kemampuan Mang memang sangat berbakat. Di usia muda ia pernah mengalahkan singa dan harimau ketika berburu. Maka itulah pertama kali Mang melakukan pembunuhan untuk memuaskan hasrat sang pangeran Jawa Dipa. Sekarang sang pangeran telah naik tahta. Mang menjadi pengawal sekaligus algojo bagi sang Raja. Atau bisa dibilang tangan kanan raja.
Mang bekerja dibawa perintah raja Jawa Dipa. Ia prajurit bayaran yang menjadi pengawal tertinggi di kerajaan Jawa Dipa. Ia tidak menerima perintah dari siapapun kecuali sang raja.
Mang duduk dipinggir sungai. Seperti biasa ia selalu membersihkan keris miliknya dengan lumut yang menempel dibatu padas dipinggir sungai. Keris miliknya adalah pusaka yang telah ditempa oleh empu Darma dari Gajah Oya. Baja Valyria ditempa oleh tangan sang wiku telah menghasilkan pusaka yang diberinama Keris Sangkala. Keris itu merupakan keris terbaik yang dibuat oleh empu Darma. Kualitas logam yang dipadatkan dan dibakar dengan panas bumi dan lahar merapi telah menciptakan pusaka sakti madraguna yang tak ada tandingannya. Keris itu sekali gorok maka urat nadi akan terputus dengan mudah. Saking tajam dan kuat, keris itu tak akan kalah dengan senjata manapun yang ada di Jawa Dipa.
Keris Sangkala merupakan pusaka Mang yang telah teruji dalam berbagai pembunuhan selama dua tahun. Kini ia telah merasakan darah pembunuh yang dingin mengalir dalam urat nadinya. Mang menatap keris Sangkala dengan saksama. Matanya cukup sengit memperhatikan setiap lekukan dan sisi tajam. Keris itu telah mengalir seratus darah bangsawan yang dibunuhnya.
Mang tersenyum. Kurasa keris ini yang terbaik, pikirnya. Keris Sangkala kau adalah temanku. Tangannya mengusap-usap sisi tajam dengan hati-hati.
Hal yang cukup membuat Mang bangga ketika ia melihat darah bangsawan yang dibunuhnya mengalir meresapi keris miliknya. Darah merah segar adalah obat mujarab agar dirinya menjadi tersenyum simpul mengudara. Tetapi adakala ia merasa begitu hampa dan tak bisa menerima apa yang seharusnya ia lakukan. Ia pernah berfikir apakah dengan membunuh ia merasa bangga dengan dirinya. Tetapi ia masih bingung untuk menemukan jawabannya. Dimana pikirannya belum dapat menemukan sisi yang seharusnya ada dalam hatinya. Hal itulah yang membuat Mang kadang bimbang ketika dirinya membunuh orang yang belum tentu bersalah atau berbuat dosa bagi Jawa Dipa.