
Mang melihat jalan setapak itu menanjak di depannya lantas menurun curam, berseri oleh dedaunan putih, dan ia memandang ke kaki langit berawan dengan senyuman. Cuaca hangat yang menampar dedaunan putih menyebabkan uap dingin mengepul.
Ketika berjalan mendaki sebuah bukit kecil, Mang memandang ke sekeliling dengan penuh harapan dan senyuman. Senyum dingin dan beku tampak kaku dan kikuk baginya. Tetapi memang seperti itulah Mang memang dingin seperti es kutub utara.
Mang kembali berjalan menuruni jalan setapak yang menurun; hutan semakin lebat, dan tatkala sampai di kaki bukit, ia melihat sebuah pohon yang besar tumbang menghalangi jalannya. Ia berhenti dan mengamati pohon itu, mengagumi ukurannya dan berpikir bagaimana cara memutar untuk melewatinya.
“Menurutku jaraknya jauh sekali,” bisik sebuah suara jahat di telinganya. Mang segera mengenali maksud jahat dari suara yang didengarnya itu, sesuatu yang sangat ia pahami, dan ia bahkan tak perlu memalingkan wajahnya untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia mendengar daun-daun bergemerisik di sekelilingnya, dan dari dalam hutan muncullah wajah-wajah empunya suara tadi: para pembunuh keji, masing-masing dengan wajah yang sangat mengerikan. Mereka adalah orang-orang yang sanggup membunuh tanpa alasan. Itulah wajah-wajah begal dan pembunuh yang memburu orang-orang lemah secara acak, dengan kekejaman yang tak berperikemanusiaan. Bagi Mang, mereka adalah golongan manusia paling nista.
Mang sadar bahwa ia telah terkepung dan ia telah memasuki perangkap. Ia memandang sekilas ke sekeliling tanpa mereka menyadarinya; nalurinya bangkit dan ia menghitung bahwa mereka semua berdelapan jumlahnya. Mereka semua memegang senjata, semuanya mengenakan baju dari kain-kain bekas, dengan wajah, tangan dan kuku yang kotor, tak satu pun dari mereka yang bercukur, dan semuanya tampak nekat, yang menunjukkan bahwa mereka belum makan selama berhari-hari lamanya. Dan mereka semua merasa jemu.
Mang merasa tegang saat pimpinan begal itu mendekat, namun bukan lantaran ia takut pada mereka; jika boleh memilih, Mang sanggup membunuh mereka, semuanya, tanpa kesulitan berarti. Yang membuatnya tegang adalah karena ia mencoba tenang dan sabar. Mungkin Mang ingin menunjukkan sisi baik dalam dirinya bila mereka tak menganggunya.
“Lihat, apa yang kita dapatkan di sini?” salah satu dari mereka bertanya pada yang lain, lalu mendekat dan berjalan mengitari Mang.
“Sepertinya ia seorang bangsawan kaya,” sahut yang lain dengan suara mengolok.
“Tapi sepatunya itu bukan sepatu bangsawan.”
“Mungkin ia adalah seorang bangsawan yang menganggap dirinya seorang prajurit,” seorang dari mereka berkata sambil terbahak.
Tawa mereka pecah, dan salah satu dari mereka -seorang pria tolol berusia empat puluhan dengan gigi depan yang ompong- membungkuk ke arah Mang dengan nafasnya yang bau, lalu menepuk-nepuk pundak Mang.
Mang menatapnya lekat-lekat. Kemudian ia memejamkan mata dan menarik nafas dalam-dalam, menahan dirinya agar tetap tenang.
“Kalian sebaik pergi dari sini,” kata Mang dingin, beku dan sengit. “Aku muak melihat wajah kalian. Kalian merusak pagiku. Wajah kalian seperti pecundang yang tak mengenakkan bagiku.”
Pemimpin di depan Mang mengeryitkan dahi. “Kau menghina kami bocah tengik,” katanya merenggut sengit. “Kau pikir siapa kau ini?”
Mang bergeming. “Aku hanya manusia seperti kalian,” katanya dingin. “Lepaskan tangan kotormu dari bahuku!” Matanya memburu dingin dan mengerikan menatap ke arah orang yang memegang bahunya.
Pemimpin itu memberikan isyarat kepada anak buah yang memegang bahu Mang. Dia menatap Mang dengan tajam dan sengit mengudara. “Walaupun kau bangsawan,” renggut pemimpin itu. “Kami tidak takut. Bangsawan seperti kalian hanya ksatria bodoh yang suka kemewahan.”
Tawa mereka pecah.
Mang menyeringai sengit. “Tawa kalian seperti belatung yang rendah,” kata Mang dingin. “Aku sudah memperingatkan kalian. Kalian adalah pecundang. Pagiku jadi buruk karena kalian. Sebaik kalian pergi dari sini sebelum nyawa kalian menjadi bayaran.”
Pemimpin itu mendekat dan memegang kerah baju Mang. Dia sedikit mendekat wajahnya dan menatap lekat-lekat dan sengit. Mang dapat merasakan nafas bau yang mengepul diwajahnya.
“Bocah tengik!” renggutnya. Pemimpin itu mengerutkan dahi sengit mengudara.
Mang menatap lekat-lekat dan dingin. “Kalian hanya pecundang,” kata Mang dingin. “Tanganmu telah mengotori pakaianku. Cepat lepaskan!”
Pemimpin menarik kuat kerah Mang. “Dasar bocah tengik!” renggutnya. Kemudian dia lepaskan kerah baju Mang dengan kasar. Matanya memberi intruksi kepada anak buahnya.
Seorang dari berdiri di belakang Mang, menyilangkan lengannya yang besar ke tenggorokan Mang dan mencekiknya. Mang megap-megap karena tercekik; cekikan itu cukup kuat untuk menyakitinya, namun tak sampai menghentikan nafasnya. Naluri alamiahnya adalah mencengkeram pria itu lalu membunuhnya. Mudah sekali; ia tahu benar titik di lengan yang harus ditekan agar cekikan itu terlepas. Namun ia menahan diri untuk tidak melakukannya.
“Kalian memang tak mengindahkan peringatanku,” kata Mang dingin dan dengan nafas megap-megap. “Aku masih berharap kalian tidak mengangguku. Lepaskan tangan kotormu.” Matanya memburu dingin dan sengit ke arah pemimpin itu. Dahinya mengeryit.
Pemimpin itu mengelengkan kepala. Dia menarik keris Mang dari sarungnya. Bunyi nyaring melengking tinggi ketika keris itu bergesek dengan sarungnya. “Keris
“Apa ini?” tanya pemimpin itu. “Keris ini sepertinya menarik bagiku?” dia menatap Mang. “Aku ingin kau memberikan keris ini untukku.” Dia menatap lekat-lekat dan memperhatikan keris itu dengan saksama. “Kurasa keris ini sangat cocok untukku.”