Alhamdulillaahi (Manggala)

Hermawan
Chapter #3

Chapter 3

Keheningan terasa dingin mengudara. Matahari telah mencapai tinggi dahan menjulang pohon Aesop. Mata orang itu berkejap, ada harapan tersirat di situ.

“Apa penting aku mengampunimu,” kata Mang mendengus dingin. “Tapi masalahnya, kalian memancing sesuatu dalam diriku hari ini, sesuatu yang selalu kucoba untuk menahannya.”

“Kumohon!” jerit orang itu sambil terisak.

“Entah sudah berapa banyak wanita dan anak-anak tak berdosa yang kau bunuh?” kata Mang sengit.

Orang itu masih terisak-isak.

“JAWAB AKU!” teriak Mang sengit.

“Apakah itu penting?” jawab orang itu di sela isak tangisnya. Mang menurunkan ujung keris dan menempelkannya ke tenggorokan orang itu.

“Bagiku itu penting, sangat penting,” kata Mang sengit.

“Baiklah, baik!” seru orang itu. “Aku tak tahu. Mungkin lusinan? Ratusan? Aku telah melakukannya seumur hidupku.”

Mang menimbang-nimbang jawaban itu; setidaknya, itu adalah sebuah jawaban yang jujur.

“Aku sendiri telah membunuh begitu banyak orang dalam hidupku,” ujar Mang tenang dan dingin. “Dan tak semuanya membuatku merasa bangga—namun semua kulakukan karena suatu sebab, dengan suatu tujuan. Ada kalanya aku dikelabui, hingga harus membunuh orang yang tak berdosa—namun sesudahnya, aku selalu membunuh orang yang menyuruhku. Aku tak pernah membunuh wantia, dan aku belum pernah membunuh anak-anak. Aku tak pernah sengaja membunuh orang yang tak bersalah, atau membunuh mereka yang lemah. Aku tak pernah merampok dan aku tak pernah mencurangi orang lain. Kurasa itulah yang membuatku serupa dengan orang yang suci,” kata Mang sembari tersenyum karena gurauannya sendiri.

Mang menghela nafas. “Tetapi dirimu, kau adalah seorang bajingan,” lanjut Mang. “Membunuh wanita dan anak-anak merupakan pecundang yang harus mati.”

“Kumohon!” jerit orang itu. “Kau tak boleh membunuh orang yang tak bersenjata!”

Mang memikirkan hal itu.

“Kau benar,” kata Mang, lalu memandang ke sekeliling. “Kau lihat pedang yang tergeletak di sebelahmu? Ambillah pedang itu.”

Sang begal melihat pedang itu, dan ketakutan terpancar di matanya.

“Tidak,” teriaknya dengan gemetar.

“Ambillah, atau kubunuh kau,” kata Mang sambil menekan ujung kerisnya ke tenggorokan orang itu.

Begal itu pun mengulurkan tangannya, meraih gagang pedang, dan memegangnya dengan tangan yang gemetaran.

“Kau tak boleh membunuhku!” teriaknya lagi. “Aku akan mengikuti peringatanmu!”

Mang tersenyum lebar, dan dalam satu gerakan yang cepat, ia menusukkan kerisnya ke dada orang itu.

“Kurasa ini memang yang terbaik untuk kematian seorang pecundang,” kata Mang dingin. Ia memandang kedelepan mayat dengan menyunggingkan senyuman. Ia berbalik dan mengangkat dagu untuk melihat langit tinggi berawan dibawah-bawah bayang-bayang dahan-dahan.

“Matahari sudah cukup tinggi,” kata Mang datar. “Aku harus kembali sebelum raja mencariku. Tetapi aku ingin mendapat buruan hewan untuk makan siangku.”

Mang kembali melanjutkan langkahnya menyusuri jalan setapak, dan ia semakin jauh meninggalkan mayat-mayat itu di tengah padang. Kasutnya menginjak daun-daun dan rumputan liar menimbulkan bunyi gemerisik. Ia mulai memasuki hutan Akasia untuk mencari binatang buruan. Sebuah hutan yang amat lebat hingga sulit untuk melihat ada apa di dalamnya. Mang berjalan menembus hutan sendirian, daun-daun dan ranting bergemeretak di bawah kakinya, lalu ia menatap ke atas. Ia merasa kerdil di antara pohon-pohon akasia berduri yang seolah menjulang tinggi tanpa batas. Pohon-pohon hitam itu sudah sangat tua, dengan cabang-cabang yang saling berkelindan mirip duri, serta daunnya yang tebal dan hitam. Ia merasa hutan ini adalah sebuah tempat yang terkutuk; yang ada di sini hanyalah segala rupa nasib buruk.

Beberapa prajurit pernah kembali dalam keadaan terluka setelah berburu di sini, dan entah sudah berapa kali para raksasa yang berhasil masuk ke Jawa Dipa bersembunyi di hutan ini dan menjadikannya sebagai tempat persiapan untuk menyerang rakyat Jawa Dipa.

Saat Mang melangkah masuk ke hutan itu, segera saja ia merasakan hawa dingin yang mencekat. Hutan itu terasa lebih gelap, lebih dingin, udaranya lebih lembap, aroma pohon-pohon akasia tercium kuat, baunya seperti tanah yang membusuk, dan batangnya yang tinggi besar menghalangi berkas-berkas cahaya siang. Dalam kewaspadaannya, Mang mengamati setiap dahan dan ranting yang janggal. Ini bukan kali pertamanya ia memasuki hutan untuk berburu binatang. Ketika usianya mencapai tiga belas tahun ia sudah berani memasuki hutan ini untuk mengalahkan harimau yang menganggu rakyat Jawa Dipa atas perintah sang pengeran.

Lihat selengkapnya