Alhamdulillaahi (Manggala)

Hermawan
Chapter #4

Chapter 4


Matahari mulai menampar dahan-dahan pepohonan dengan panas membara. Udara bergetar. Gemersak angin berhembus menerpa dedaunan. Daun-daun berguguran dan berjatuhan menghiasi ketegangan.

Bom menatap tajam dan sengit. Tangannya mengenggam erat gagang keris. Dia memang kuda-kuda menyerang dan mengarah mata keris ke arah Mang. “Jangan kau mengasihaniku,” renggut Bom sengit. “Kita sama-sama prajurit bayaran, aku tak butuh belas kasihanmu.”

“Aku tak pernah mengasihi orang lain,” kata Mang dingin. “Jika mereka ada didepan mataku untuk mengancam keamananku. Maka kematian yang pantas menggorok lehernya.”

Bom menganggukkan kepada dengan bodoh. Dia tersenyum menyeringai sengit. Dia mengedikkan bahu. “Lalu kenapa kau menjadi pembunuh?” tanya Bom balik bertanya.

“Alasan sederhana,” kata Mang menyeringai. “Aku memiliki bakat untuk membunuh dengan cepat.”

“Dasar bocah,” renggut Bom sengit. “Kau memang sombong bocah. Tetapi itu tak akan bertahan lama bila aku berhasil membunuhmu.”

Bom kembali bergerak. Dia mengayunkan keris merobek udara. Dia mengincar bahu Mang. Tetapi Mang bisa cepat membaca gerakannya. Mang mengelak dan menghindari serangan tusukan Bom. Bom sangat impersif dan solid dalam menyerang tetapi dia tak secepat Mang.

Bom terus menusuk merobek udara. Dia berharap Mang segera meladeni serangannya. Namum Mang cukup tenang dan sabar mengelak, menghindari tusukannya.

“Angkat senjatamu bocah!” teriak Bom mengeryitkan dahi sembari terus menyerang ke arah Mang. “Jangan hanya menghindari seranganku.”

Mang tersenyum menyeringai. Ia tak mengucapkan kata sepatahpun dan terus mengelak serta menghindari serangan Bom.

“Jangan bermain denganku bocah,” renggut Bom kesal. Dia berhenti menyerang dan amarahnya mulai mengepul di dahinya. “Kau meremehkanku bocah!”

Bom mulai berdiri tegak. Dia memasang kuda-kuda berat. Kepalanya terangkat dan menatap ke langit.

“Dasar bocah!” renggutnya sengit mengudara.

Bom memperbaiki pegangan pada gagang keris. Dia berpaling dan menatap Mang dengan sengit. Dia mengacungkan keris ke arah Mang. “Angkat keris bocah!” teriaknya.

Bom kembali bergerak cepat. Dia menyerang mengincar dada Mang. Mang tersenyum menyeringai. Ia tenang dan sabar menunggu tusukan Bom yang akan menyarang didada. Begitu ujung keris beberapa inci di depannya, Mang mulai mengelak dan menghindar ke samping. Mang berhasil memegang pergelangan tangan Bom dan ia menghentakkannya, namun Mang gagal melakukan karena Bom cukup kuat memegang gagang kerisnya. Ujung kerisnya malah berbelok dan mneggores lengan Mang. Mang melompat agar ketajaman keris Bom tidak membuat luka lagi.

Mang melihat lengannya mengalir darah merah segar. Ia segera menyobek ujung kainnya dan mengikatkannya dilengan berdarah itu. Mang kembali menatap Bom dengan tajam. “Rupanya kau bisa membaca cara kerjaku,” kata Mang dingin. “Kukira kau cukup kikuk untuk mengetahui cara kerja pembunuh professional.”

“Itu tak berlaku bagiku bocah!” katanya mencemooh. “Cara kerja seperti itu sangat mudah untuk aku baca.” Dia meledakkan tawa tergelak mengudara. Daun-daun berjatuhan seperti ucapan selamat karena keberhasilannya membuat Mang cedera. Matahari menyambar pohon-pohon dengan cahayanya, seakan menjadi saksi bahwa Mang telah kalah. Lelaki bernama Boma samgat solid dan impersif menumbangkannya.

Bom mengedikkan bahu. “Kau telah melakukan kebodohan,” kata Bom menyeringai sengit. “Aku tak menyangka seorang pembunuh yang hebat bisa terluka dalam pertempuran.” Dia kembali meledakkan tawa tergelak.

Mang bergeming. “Aku tak peduli kau menghinaku,” kata Mang dingin dan kesal. “Sekarang waktunya aku serius menghadapimu.”

“Itu yang kutunggu,” kata Bom tersenyum menyeringai. “Angkatlah kerismu bocah!”

Mang menelengkan kepala. Ia menghunuskan keris Sangkala dari sarungnya. Bunyi gesekan melengking sengit mengudara.

“Aku siap menghadapimu,” renggut Mang dingin. “Sekarang keberuntunganmu akan hilang!”

Lihat selengkapnya