Alif Lam Mim

Zainur Rifky
Chapter #151

Chapter #151

“Tegar, kau di sini?” tanya Lam. Lam tampak begitu senang dengan kehadiran Mim dan Tegar yang bersedia mampir ke rumah yang sekarang mereka tempati.

“Iya, Kak Lam. Aku di sini untuk bertemu denganmu. Aku memang berniat ke sini, untuk bertemu dengan kalian. Aku dengar, kalo Kak Lam sedang sakit. Jadi aku datang ke sini dan ingin menjengukmu.”

“Tidak seharusnya kamu repot-repot datang ke sini. Aku tidak apa-apa. Kondisiku sudah lebih baik, sejak Mim membuatkan jamu untukku. Vira juga tadi sempat ke sini memberikan beberapa ramuan. Aku sekarang sudah lebih baik dari semalam.” Lam hanya bisa memberi senyum pada lelaki yang ada bersamanya.

“Vira baru ke sini?” tanya Mim yang mendengar semua itu.

“Iya. Dia datang membawa ramuan ini. Kau minumlah ramuan ini. Vira sendiri yang membuat. Dia membuatnya langsung di rumah ini.” Lam terdiam beberapa saat. “Tegar, aku tau kamu capek. Tidak seharusnya kau ke sini. Kan bisa nanti saja.”

“Kak Lam, tidak usah khawatir. Aku sama sekali tidak keberatan atas hal ini. Aku sama sekali tidak merasa terbebani atas apa yang aku lakukan sekarang ini. Aku sudah menganggap kalian sebagai keluarga. Jadi, wajar kalo aku datang untuk menjengukmu.” Tegar mengatakan semua itu sambil mengulas senyum ke arah Lam dan Mim.

Lam dan Mim yang mendengar apa yang Tegar katakan, hanya bisa terdiam dan saling pandang. Mereka tidak menyangka jika Tegar begitu ikhlas untuk menganggap mereka sebagai keluarganya. Mim juga merasa malu, karena sudah berniat menyakiti Tegar.

“Tegar, terima kasih atas perhatianmu. Terima kasih atas perhatianmu pada kami.” Lam hanya bisa tersenyum. Tegar membala senyuman itu dengan begitu ikhlas. Mim tidak pernah merasa disayangi oleh orang lain, seikhlas orang seperti Tegar.

“Kak Lam, Kak Mim, kalian ini adalah keluargaku, setelah kedua orang tuaku harus mendapat hukuman atas kesalahannya. Sudah seharusnya aku perhatian pada kalian. Aku juga tidak punya keluarga lain setelah kedua orang tuaku harus mendekam di penjara. Jadi, tidak perlu merasa sungkan untuk semua ini. Kita semua ini adalah keluarga, dan sudah seharusnya kita saling menyayangi dan melindungi satu sama lain.” Mendengar apa yang Tegar katakan, Lam hanya tersenyum. Apa yang dikatakan Tegar membuat Lam hanya bisa lega dengan nasib adiknya ke depannya. Tegar memegang tangan Lam dan ingin sekali memberi isyarat jika dirinya serius menganggap kedua lelaki itu sebagai keluarganya.

“Aku tidak perlu khawatir dengan keadaan Mim, jika aku pergi suatu saat nanti.”

“Kak Lam, jangan katakan itu. Jangan pernah mengatakan itu di hadapan kami! Aku yakin, Kak Lam akan membersamaiku mencari keluarga kita.” Mim hanya bisa meneteskan air mata mendengar apa yang Lam katakan.

“Aku tidak akan pergi. Aku aka terus di sampingmu hingga saatnya nanti.” Lam hanya bisa meneteskan air mata. “Tegar, aku titip Mim.”

“Kak Lam memang mau kemana?” tanya Tegar dan membuat Lam langsung terdiam. Tegar yang melihat ekspresi Lam yang sedang mengisyaratkan ada sesuatu yang sedang mengganjal, langsunb memegang tangan Lam kembali. “Kak Lam tidak akan pergi kemanapun. Kak Mim haya punya kamu sekarang ini.”

“Tegar, tidak seperti itu. Mim punya banyak keluarga setelah saatnya aku harus pergi.”

Lihat selengkapnya