“Aku memang sadar atas kesalahanku, Mbak Kurnia. Aku sadar kesalahanku sudah keterlaluan. Jadi, buat apa aku melawan? Tidak ada gunanya. Permisi, hari sudah malam dan aku harus mempersiapkan persidangan esok hari.” Lesti langsung pergi dan Darti hanya bisa diam menatap temannya. Lesti sudah berubah sejak Hisyam tau jika kematian anaknya adalah ulah mereka.
“Wanita yang membunuh anaknya sendiri, biasanya karakter orangnya tuh begitu. Penuh dengan kepalsuan.” Salah seorang dari mereka langsung menuyindir. Lesti hanya bisa diam dan langsung pergi. Dia memilih tidak peduli dengan sindiran itu. Lesti memang harus mengakui jika dirinya sakit hati dengan perkataan Kurnia dan teman-temannya. Tapi, dia memilih tidak melawan. Tidak ada yang lebih sakit baginya, setelah Hisyam memilih menjatuhkan talak padanya dan tidak ingin membagi harta gono-gini. Itu sudah menjadi hukuman yang sangat berat baginya.
Darti yang sekarang menghadapi para napi yang baru saja membully Lesti, hanya bisa terdiam dan tampak tidak ingin memperpanjang keributan.
“Darti, kok diam saja sih? Mana muka garangnya waktu membunuh anak yang tidak bersalah? Mana wajah garangnya saat merebut laki orang? Kok gak ada garang-garangnya sekarang?” tanya salah seorang diantara mereka. Beberapa orang yang lain, hanya bisa tertawa melihat Darti yang sekarang ini tidak punya nyali untuk berbuat sesuatu. “Aku dengar, kamu garang saat menghadapi istri sah dari kekasihmu itu. Sadar gak sih, posisinya itu gak sepadan dengan wanitanyang dinikahi secara sah.”
“Ya, mau punya nyali gimana? Orang dianya saja juga sudah hina kok. Sadar gak sih, lelaki yang dia rebut itu, adalah tukang judi, dan selama ini, Darti sudah kehilangan kesuciannya, gara-gara hutang kekasih pujaannya yang sangat banyak. Mau merebut suami orang, eh dirinya malah jadi wanita jalang. Niatnya mau kaya, eh jadinya malah terhina.” Napi yang lain ikut mengolok-olok Darti.
“Aku tidak punya urusan dengan kalian. Jadi, aku tidak perlu meladeni apa yang kalian tanyakan.” Darti mencoba pergi, tapi Kurnia langsung membuat langkah Darti terhenti.
“Lho, kok malah bilangnya kamu gak ada urusan sama kami? Bukankah kamu yang memulai duluan? Darti, kamu berniat membela Lesti kan tadi? Itu artinya, kamu sudah memulai perkara sama kami. Jadi, gak bisa dong kalo kamu dengan entengnya bilang gak punya masalah sama kita orang. Kamu diam di sini! Atau kami tidak akan segan untuk membuatmu babak belur.” Seorang wanita yang menonjol diantara mereka, langsung mendekat dan membuat Darti gugup. Kegugupan Darti, membuat wanita itu tampak senang dan begitu menikmati momen seperti ini. “Darti, kenapa? Kok kamu sepertinya ketakutan? Apa yang salah dari kami? Apa kami sudah membuatmu takut?”
“Aku tidak punya urusan sama kalian. Aku permisi.” Darti kembali mencoba pergi. Tapi wanita yang baru saja bicara, langsung menghentikan Darti dengan gerakan kakinya. Darti berhenti karena terjatuh akibat sepakan yang menghantam kakinya.
“Jangan pernah berani, lari dariku sebelum apa yang jadi masalah kita selesai! Aku paling tidak suka, jika ada orang yang punya masalah denganku, pergi begitu saja tanpa ada niat untuk menyelesaikan semua ini. Jadi, aku minta sama kamu, jangan pernah berharap bisa lari dariku, kalo sudah punya masalah dengan salah satu di antara kami. Aku pastikan, kalo kamu sampai melakukan itu, kamu akan babak belur di tanganku.” Wanita itu tersenyum dan Darti tampak semakin gugup. Ingin sekali dia pergi, tapi jalannya sudah dihalangi olehbeberapa orang yang sedang bersama wanita yang ada di hadapannya. Mereka spontan saja membuat formasi melingkar dan membuat Darti tidak bisa kemana-mana.
“Mbak, ternyata seru juga ya membully perempuan murahan seperti dia. Aku tidak pernah merasakan permainan seseru ini.” Salah seorang di antara mereka langsung mengatakan hal itu dan disambut gelak tawa dari yang lain.
“Iya dong. Masa main-main sama Darti gak seru? Dia kan melakukan tekanan pada korbannya juga sambil tertawa. Kalo dia bisa ke orang lain, berarti, dia juga bisa melakukan itu ke kita. Sebelum dia melakukan itu pada kita semua, kita harus mulai dulu.” Mereka trtawa dan Darti tampak ketakutan dengan perempuan yang ada di sekelilingnya. Perempuan yang mengelilinginya sangat menikmati momentu seperti sekarang ini.
“Minggir kalian! Izinkan aku pergi! Aku ingin pergi dan kalian tidak berhak menghalangiku pergi dari tempat ini.” Darti yang tampak sangat emosi langsung membentak. Bentakan itu ternyata tidak berhasil membuat mereka takut. Amarah Darti malah membuat mereka semakin tertawa dan ingin mempermainkan Darti.
“Darti, mau kemana sih? Kok buru-buru banget? Darti, bagaimanapun caranya kau lari, kau tidak akan bisa selamat dari kami. Bagaimanapun, seorang perempuan yang sudah berani menghina perempuan lain, tidak bisa dibiarkan hidupnya untuk tenang. Ingat Darti, kamu adalah manusia berhati iblis,”
“Aku kira, Mbak Kurnia ini yang punya hati iblis. Ternyata, aku menemukan perempuan yang hatinya lebih iblis dari Mbak Kurnia. Mbak, paling tidak masih ada perempuan yang berhati iblis, lebh dari dirimu.” Perempuan yang mengelilingi Darti hanya bisa tertawa.