“Mbak Dayyana, aku gak tau kenapa semua ini terjadi. Aku sangat menyesalkan, kenapa aku harus menjadi simpanan lelaki penjudi seperti Wicaksono. Aku pikir semuanya akan aman dan damai setelah Kasih pergi. Tapi semua itu tidak pernah terjadi. Selama ini, Wicaksono selalu dikejar hutang yang entah jumahnya berapa. Dia sampai menjaminkan rumah, tapi rumah itu terlalu murah untuk dijadikan jaminan. Wicaksono sebenarnya tidak ingin menjadikanku jaminan, walaupun banyak penagih hutang yang meminta diriku menyerahkan kesucian yang aku miliki. Kedatangan Lam dan Mim membuat aku menjadi apa yang mereka inginkan. Aku harus menjadi pelampiasan hasrat orang-orang yang meraih kemenangan atas permainan yang Wicaksono lakukan. Selama bertahun-tahun aku menjalin hubungan dengan lelaki itu, tidak pernah sekalipun dia mendapat kemenangan. Aku selalu menjadi pelampiasan dari hasrat mereka.” Darti hanya bisa meneteskan air mata. Dia masih merasa sakit hati atas kejadian yang dia sendiri alami selama hamir setahun belakangan. “Aku sampai sekarang sama sekali tidak menyangka jika Lam dan Mim akan kembali dan kita akan jadi barang tawanan, seperti yang Kasih alami. Kasih memang wanita lemah, dan dia tidak membalas apa yang selama ini terjadi padanya. Tapi apa yang terjadi padanya, dibalas oleh kedua anaknya. Aku merasakan sakit lebih dari yang dialami Kasih. Mim menyiksaku layaknya binatang.” Darti menangis dan membuat Dayyana terdiam dia juga ingat jika anaknya bukanlah anak hasil pernikahannnya dengan Seno.
Dayyana ingat apa yang dilakukan Hambali padanya, beberapa tahun yang lalu. Hambali datag dan membuatnya ternoda, layaknya apa yang Kasih alami, dan Seno tidak bisa berbuat apapun. Dia ingat, kejadian itu terjadi setahun sebelum Lam dan Mim diketahui berada di desa itu.
“Kasih, aku tau apa yang kau rasakan sekarang ini. Aku juga merasakan hal itu. Aku sudah merasakan apa yang kau alami, terlebih dahulu. Orang tua angkat Lam dan Mim datang dan membawaku secara paksa. Mas Seno tidak bisa berbuat apapu atas kejadian itu. Mas Seno tidak bisa membelaku saat mereka membawa paksa aku dan anakku. Lam dan Mimmalah membuatku semakin terpuruk. Anakku dipaksa menjadi pelamoiasan hasrat lelaki yang tidak bertanggung jawab.” Dayyana hanya bisa menceritakan apayanb dia alami. Dayyana tidak bisa melupakan kejadian itu. Hambali datang dan memaksanya untuk melayani beberapa lelaki. “Sebelum Lam dan Mim datang, yang menjadi pelampiasan hanyalah aku seorang. Anakku bisa selamat. Saat Lam dan Mim datang, dia tidak mengincarku, tapi mengincar anakku.”
“Kau, sudahb merasakan sebelum aku merasakannya?” tanya Darti. Wajahnya tampak begitu serius menatap Dayyana setelah perempuan itu mencertakan apa yang terjadi. Darti tidak pernah menyangka jika keluarga panti itu juga menuntut balas atas semua yang terjadi. Fitnah yang mereka lemparkan, ternyata tidak mereka biarkan begitu saja.
“Iya, aku sudah merasakanya terlebih dahulu, sebelum kamu merasakan akibat dari semua ini. Hambali menuntut balas atas fitnah yang kita lemparkan pada keluarganya. Dia tidak melaporkan kasus ini ke polisi, tapi membalas perlakuan kita dengan cara seperti itu.”
“Mbak Dayyana, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, untuk kejadian ini. Aku sama sekali gak bisa membayangkan apa yang harus aku lakukan untuk menebus semua ini. Aku sudah tidak lagi dianggap oleh keluarga sendiri, sejak aku menjadi simpanan Wicaksono. Sekarang harta keluarga besarku sudah habis dan aku diminta mengembalikan semua harta yang ikut disita akibat hutang Wicaksono.” Dayyana hanya bisa menatap langit ruangan, setelah mendengar apa yang diceritakan Darti. Semua sudah berubah, sejak kebakaran Bintang Gemilang. Masalah demi masalah, harus mereka lalui, terutama setahun belakangan.
“Darti, ini semua adalah resiko atas kejahatan yang pernah kita lakukan. Ini adalah resiko atas kejahatan yang kita lakukan pada Lam dan Mim. Mereka hadir menjadi petaka bagi kita, seperti kita yang menjadi petaka dalam hidup Kasih.” Dayyana hanya bisa meneteskan air mata dan dadanya merasa sesak dengan apa yang terjadi. Dia harus menerima kenyataan, jika sekarang harus menjadi pesakitan dan mengakui kekalahannya dari bocah ingusan seperti Mim.
“Mbak Dayyana, sekarang ini aku malah ingin sekali dihukum mati atas semua yang terjadi selama ini. Aku tidak bisa menunggu sampai kapanpun. Aku ingin sekali mati. Aku berharap, hakim menjatuhkan vonis mati padaku. Aku sudah malu dengan kondisiku yang terhina dan tidak memiliki kehormatan. Aku sudah tidak punya kehormatan lagi sebagai wanita. Apa yang dilakukan Mim, membuat aku dipandang hina. Seringkali aku harus melayani apa yang diminta para lelaki di luar sana. Aku harus melayani mereka, padahal aku sendiri gak mau. Mereka menganggap kalo aku ini adalah pelacur.” Darti hanya meneteskan air mata mengingat apa yang sudah terjadi selama beberapa tahun terakhir. Dia ingi pergi dan tidak mau menanggung malu atas apa yang sudah menimpanya.
“Darti, kau serius ingin mendapat hukuman mati?”