“Maaf, kalo kedatanganku yang mendadak malah mengejutkan kalian. Aku datang bukan mendadak banget. Aku harus mengatakan sesuatu yang selama ini menjadi kekhawatiranku. Aku datang ke sini karena tidak bisa membiarkanmu seperti ini terus-menerus. Aku baru saja pulang ke desa tempat asal keluarga asli mendiang Mbah Djojohadi Kusumo dan melihat suasana tempat itu untuk beberapa waktu. Memang benar desa itu sudah steril dari kekuatan Ghaib. Tapi, ini bukan jaminan kalo orang-orang bekas anak buah Broto musnah begitu saja. Kita harus lebih hati-hati, karena anak buah dari lelaki itu bisa saja menyamar dan menyusup di antara kita. Kita tidak bisa percaya begitu saja pada orang yang baru kita kenal.” Vira langsung bercerita terkat apa yang dia ketahui tentang desa mereka. Banyak hal yang Vira ceritakan tentang desa itu, sejak Broto tewas di tangan mereka. “Mereka sekarang sedang menyusun kekuatan baru. Aku sempat mendengar pembicaraan mereka di tempat rahasia. Mereka akan melenyapkan kita, dalam waktu yang cepat. Aku ke sni dan ingin kau bersiap terkait apa yang terjadi ke depannya. Kamu harus hati-hati atas rencana mereka yang begitu licik.”
“Kamu berani kembali dan memasuki desa itu? Bukankah ayahmu sudah diketahui sebagai penghianat?” tanya Mim.
“Kak Mim, yang tau hanya Broto. Sekarang Broto sudah mati dan tidak mungkin sempat mengataan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka. Aku bisa keluar masuk desa itu dengan bebas, karena tidak ada yang curiga dengan apa yang sebenarnya terjadi. Mereka tidak tau, jika aku dan keluarga berada di balik konspirasi pembunuhan lelaki sialan itu.” Mim hanya diam dan menatap Tegar. Tegar hanya tersenyum melihat Mim yang memandanginya.
“Kak Mim, aku tidak mau sampai kau kenapa-napa. Aku tau kalo kamu punya sesuatu dan bisa mengatasi mereka. Tapi kita tidak bisa gegabah begitu saja. jangan pernah gegabah untuk memutuskan sesuatu, seperti apa yang kau bilang tadi.” Mim terdiam dan memegang tangan Tegar. Dia bersyukur dengan kehadiran Tegar di tempat ini.
“Vira, apa kita bisa kembali ke sana secepatnya?” tanya Mim yang terlihat begitu penasaran. Mim tidak sabar untuk kembali ke tempat keluarga aslinya. Vira terdiam mendengar pertanyaan Mim dan menatap Tegar. Raut wajahnya mengisyaratkan ada sesuatu yang tidak beres. “Vira, tolong jawab pertanyaanku! Apa aku bisa segera kembali ke desa itu dan mencari keluarga kita yang asli?”
Vira tetap terdiam dan menatap Tegar. Tegar yang menangkap isyarat dari wanita itu, mencoba mencairkan suasana. Dia tau jika ada sesuatu yang Vira ketahui lebih dari yang dia sampaikan, tapi berat saat ingin menyampaikannya.
“Maaf sebelumnya kalo aku memotong pembicaraan. Tapi, bagaimana kalo kita bicara di rumah saja? Biar lebih nyaman.”
“Kak Mim, apa yang dikatakan Tegar katakan ada benarnya. Sebaiknya, kita bicara di rumah saja. Aku takut ada sesuatu yang membahayakan kita.” Vira langsung mendorong kursi roda dan Mim hanya diam. Sepanjang perjalanan, Mim terus menanti apa yang sebenarnya Vira simpan terkait desa itu.
“Vira, ada sesuatu yang tidak enak sepertinya dan ada sesuatu yang lain selain apa yang kau ceritakan. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tegar dan membuat Vira hanya bisa tersenyum.
“Perjalanan mencari keluarga asli kami, sepertinya tidak akan mudah. Ada sesuatu yang membuat kami harus mencari tau tentang mereka, dan mengumpulkan informasi, yang sampai sekarang masih menjadi misteri. Informasi tentang keluarga asli kami sudah banyak dihilangkan oleh mereka. Aku tidak tau bagaimana caranya agar kami mencari mereka dengan keterbatasan yang ada.” Vira hanya bisa meneteskan air mata dan memandang rembulan. Cahaya itu membuat Vira ingat apa yang pernah Broto lakukan pada ibu dan dirinya. Mereka hampir saja kehilangan mahkota karena apa yang dilakukan lelaki itu.