Mendengar apa yang Vira katakan, membuat Mim hanya terdiam dan menata Mustika yang sedang dia kenakan di salah satu jemarinya itu. Mustika itu tampak bercahaya tidak seperti biasanya dan menunjukkan sesuatu yang selama ini Mim lihat. Apa yang dia lihat sekarang ini, tidak seperti biasanya. Ada sesuatu yang memang tidak dia ketahui tentang Mustika yang tengah dia pake. Mim langsung melempar Mustika itu ke tanah dan melihat pergerakan tanah yang sangat mengejutkan. Mim tidak menyangka jika Mustika yang dia miliki punya kekuatan sebesar itu. Dia tidak pernah melihat kekuatan yang seperti itu. Vira hanya bisa tersenyum melihat apa yang terjadi.
“Ini sangat mengagumkan, Kak. Kekuatan sebenarnya dari mustika ini sudah mulai bisa dipake. Kekuatan Mustika ini, ternyata sangat mengagumkan dan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kak, Mustika ini punya kekuatan luar biasa. Pantas saja banyak orang yang mengincar benda peninggalan Mendiang Mbah Djojohadi Kusumo.” Vira langsung dudk dan mencoba mensejajarkan badannya dengan Mim.
“Kekuatan ini memang harus kita akui, luar biasa, Kak. Aku yakin jika Kak Mim memakainya, akan sangat membantu orang yang ada di sekitarnya.” Tegar ikut tersenyum dan membantu Mim mengambil benda itu. Benda itu sangat berharga bagi Mim ke depannya.
“Kak Mim, Mbah Djojohadi Kusumo memang mewariskan ilmu dan mustika ini untukmu. Dari semua keturunannya, hanya kamu yang bisa beradaptasi dan memakai kekuatan yang tidak bisa dibilang ringan. Ini kekuatan yang lumayan berat, tapi Kak Mim bisa menggunakannya. Tidak sembarang orang, kuat memegang Mustika ini. Tapi Kak Mim bisa memegangnya dan sampai sekarang gak kenapa-napa. Kamu bisa memakai mustika ini dengan baik dan hasilnya sangat mengagumkan. Aku yakin, Mbah Djojohadi Kusumo memang mempercayakan benda ini padamu.” Vira memegang tangan Mim dan hanya bisa melempar senyum.
Mim hanya diam dan menatap desa yang sekarang sedang bercahaya. Besok, adalah hari yang pasti akan melelahkan bagi Mim.
“Besok, aku harus bersaksi di pengadilan. Aku harap, apa yang aku sampaikan pada hakim bisa memperberat hukuman bagi penghina Ibuku.” Mim hanya bisa meneteskan air mata dan terbayang sosok ibunya yan begitu menyejukkan mata. “Aku rindu dengan Ibu. Aku rindu Ibu yang selalu menyayangi kami.”
“Kak Mim, aku yakin Tante Kasih akan bangga punya anak sepertimu. Dia akan merasa beruntung pernah melahrkan anak sepertimu. Kak Mim akan menjadi kebanggaan Tante Kasih sampai kapapun. Kak, akun yakin kalo Tante pasti tersenyum di alam sana melihat apa yang kau lakukan.” Apa yang Vira katakan, membuat Mim tersenyum.
Mim hanya bisa diam dan terus melihat bulan yang seakan tersenyum padanya. Bayangan sang Ibu yang tengah memandanginya penuh dengan cinta, mebuat Mim hanya bisa dia dan tidak berkata apapun.
Tidak lama, Mim akhirnya memilih memasuki dan beristirahat. Vira yang melihat ada sesuatu dalam diri saudaranya, hanya bisa terdiam dan membiarkan dia menenangkan diri.
“Kak Mim.” Tegar mencoba mengikuti, tapi Mim meminta agar tidak ada siapapun yang mengganggunya.
“Tegar, lebih baik kita biarkan Kak Mim sendirian untuk saat ini. Kak Mim sepertinya sedang gak baik. Kak Lam sekarang juga sedang sakit dan penyakit yang diderita kak Lam juga sepertinya ada keanehan. Kita tidak bisa berbuat apapun untuk saat ini. Tapi, aku yakin penyakit Kak Lam pasti ada obatnya dan Kak Mim pasti akan menemukan jalan untuk menemukan keluarga asli kami.” Vira mendekat dan menutup pintu kamar. Dia membiarkan Mim yang sedang menangis.
“Vira, apa Kak Mim gak apa-apa? Aku taku kalo Kak Mim sampai kenapa-napa.”
“Percayalah padaku! Kak Mim tidak akan kenapa-napa. Kak Mim tidak akan berbuat hal yang di luar prediksi kita.” Vira langsung pergi dan membiarkan Tegar terdiam.
Di dalam kamar, Mim terdiam dan merapalkan mantra. Tidak lama, dia melihat seorang perempuan yang tengah terluka dan babak belur. Mim sangat mengenali wanita itu. Wanita itu tidak lain adalah Darti.
“Darti? kenapa dia bisa babak belur seperti itu? Apa dia baru dihajar oleh seseorang?”
Mim terus menatap penglihatannya. Darti hanya bisa meringis dan menangis. Seertinya dia baru saja dihajar oleh beberapa orang yang ada di penjara.
“Dia pasti baru ada masalah sama orang lain. Dia pasti ada sesuatu dengan orang lain. Aku yakin, Darti sudah membuat bikin heboh di tempatnya sekarang ini.” Mim terus menajamkan penglihatan itu.
Mim akhirya banyak tau tentang apa yang dialami Darti dan teman-temannya di penjara. Mim hanya tersenyum puas. Darti sudah mengalami apa yang sang ibu alami selama ini.